Material Erupsi Bisa Suburkan Laut Sekitar Krakatau

Jakarta, SAHABATMANCING.COM – Material erupsi Gunung Anak Krakatau berupa zat besi tinggi yang larut ke dalam laut  mampu menyuburkan perairan sekitar. Kandungan besi (Fe) yang terkandung di dalamnya akan dimanfaatkan oleh fitoplankton sebagai bagian proses fotosintesis.

Material letusan berupa kandungan zat besi yang keluar pada saat Gunung Anak Krakatau meletus nampak larut menyatu dengan perairan sisi barat sekitar gunung. Foto: Earth Uncut TV

Hal tersebut disampaikan peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografl Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Zainal Arifin. Seperti dilansir liputan6.com, ia mengatakan, debu zat besi akan menyuburkan perairan karena perairan lepas pantai umumnya miskin Fe (besi).

“Arus laut yang bergerak dari Selat Karimata ke Selat Sunda dan Samudra Hindia, secara teroritis akan menyuburkan perairan Samudra Hindia dengan mikroalage atau fitoplankton,” jelas Zainal.

Ia menambahkan, fitoplankton tersebut akan menjadi sumber nutrisi bagi larva-larva ikan. Proses penyeimbangan alam tersebut menumbuhkan kembali kehidupan rantai makanan di laut, dimana potensinya kelak bisa dirasakan bagi kebutuhan manusia, terutama nelayan dan pegiat mancing.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB, Sutopo Purwo Nugroho. Melalui akun Twitter-nya @Sutopo_PN pada Sabtu (12/1) menjelaskan warna jingga kecoklatan itu adalah hidrosida besi (FeOH3) yang mengandung zat besi tinggi yang keluar dari kawah dan larut ke dalam air laut.

Sejak erupsi hebat pada 26 Desember 2018 lalu, Gunung Anak Krakatau terus memperlihatkan aktivitas vulkanis yang tinggi. Namun sejak 3 hari lalu, aktivitas tersebut menurun dan tidak mengeluarkan letusan.

Walau aktivitas menurun, namun status Gunung Anak Krakatau tidak berubah dari level siaga, karena masih ada aktivitas gempa di kawasan gunung tersebut.

“Tetap siaga, karena berhenti Gunung Anak Krakatau masih dalam tahap fluktuatif. Mungkin besok masih meletus lagi karena kegempaan masih ada,” ucap Mamay Surmayadi, peneliti gunung api dari Badan Geologi dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/1/). RPS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.