Wadyabala Kuwe Cepa Pulau Tunda

Kemilau cahaya matahari menembus permukaan laut, membentuk refleksi kilauan yang menari-nari mengikuti alun gelombang air. Kilauan cahaya ini kemudian mulai merangsek masuk di sela-sela kawanan ikan yang tengah bergerombol, mengikuti sang kawanan berdereap maju secara berirama mengarah ke sebuah ekologi terumbu karang. Bagai serdadu yang bersiap menggempur lawan, kawanan ikan Pelagis ini membentuk barisan mengepung area terumbu karang tanda perang akan segera ditabuh. Hingga koloni besar ini menggempur habis setiap biota kecil yang menjadi santapan lezatnya. Begitulah sepenggal kisah dari wadyabala Kuwe Cepa di Pulau Tunda.

Pulau Tunda memang bukan nama yang asing di telinga pehobi mancing di Jabodetabek, khususnya bagi mereka pegiat saltwater fishing. Pulau yang berada di sebelah barat gugusan Pulau Seribu itu, telah merelung kuat di benak pemancing sebagai salah satu spot mancing potensial yang masih dekat dengan Ibukota.

Berjarak sekitar 25 km dari bibir pantai kota Serang, Pulau Tunda dinilai masih memiliki ekologi terumbu karang yang baik di sekitar perairan bawah lautnya. Maka tak heran bila perairan di sekitar gugusan kepulauan Seribu ini, masih diandalkan oleh para pegiat mancing yang ingin menjalani trip di lautan lepas.

Selain faktor jarak yang cukup dekat, aksesbilitas juga menjadi keunggulan lain bila ingin melakoni trip mancing spot Pulau Tunda. Bila dari arah Ibukota, para pemancing cukup menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam melalui tol Merak untuk sampai ke Dermaga Karangantu, tempat di mana kapal-kapal penjelajah spot Pulau Tunda bersandar.

Dermaga ini terletak persis di tepian teluk Banten yang masuk ke dalam wilayah administratif kota Serang, Banten. Di sini tersedia puluhan kapal mancing kelas 6-15 GT yang bisa digunakan oleh para pemancing. Tarif sewanya beragam, tergantung jenis kapal, spot yang dituju, dan durasi mancing yang diinginkan. Namun rata-rata sewa kapal dipatok senilai Rp3,5 juta untuk one day trip.

Spot Andalan

Mahsyurnya spot pulau Tunda tidak hanya dimanfaatkan oleh pegiat mancing Jabodetabek saja. Sudah tentu, pemancing di sekitaran wilayah Banten juga turut mengandalkan perairan di beranda depan kampung halamannya tersebut sebagai destinasi mancing utama. Tidak terkecuali dengan saya bersama rekan-rekan pemancing yang berdomisili di kota Serang, Banten.

Sebagai warga asli kota Santri, sudah terhitung berapa kali saya
dan rekan-rekan mengeksplorasi perairan di utara Banten untuk sekadar menyalurkan hobi mancing. Tidak pernah ada rasa jengah sedikitpun, meski saya kerap mondar-mandir mancing minimal satu kali dalam sebulan di spot yang masuk ke dalam laut Jawa tersebut.

Nunung Syaifuddin juga ikut mendulang tangkapan Kerapu berukuran monster di spot Mundu yang berad tidak jauh dari kawasan perairan Pulau Tunda.

Termasuk untuk rencana trip kali ini, saya inisiasi bersama tiga rekan pehobi mancing lainnya yaitu; Asep, Tarjo dan Nunung Syaifuddin. Namun trip kali ini agak terasa spesial karena nama terakhir yang disebut merupakan Direktur Polisi Air (Dir Polairud) Polda Banten. Ya, orang nomor satu di korps kepolisian air di wilayah hukum Polda Banten itu ikut serta dalam trip mancing kami menuju spot Pulau Tunda.

Untuk armada kapal, kami mendapuk KM Nabil Akbar sebagai bahtera kami selama mengeksplorasi spot karang-karang alami di perairan utara Banten. Kapal ini menjadi yang terbesar dari keseluruhan kapal yang bersandar di dermaga Karangantu. Sebelumnya saya juga pernah menggunakan kapal ini saat menjalani trip di perairan anak gunung Krakatau.

Pada trip kali ini kami ingin memastikan kabar migrasinya koloni besar ikan kuwe yang tengah mengitari ekosistem terumbu karang di sekitar Pulau Tunda. Pasalnya belasan kapal mancing sejak awal bulan Juni sudah menancapkan jangkar di spot yang dinamakan dengan Karangjago tersebut.

Dari laporan trip beberapa rekan pemancing lain juga mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah, setidaknya untuk ukuran trip di sekitaran Pulau Tunda. Mendengar kabar itu, saraf-saraf tangan terasa mulai kelu tak henti-henti mendambakan sensasi tarikan ikan.

Pada hari Jumat (14/6) sekitar pukul 22:00 malam kami akhirnya berlayar menuju spot Karangjago dari Dermaga Karangantu. Butuh waktu perjalanan sekitar 3 jam pelayaran untuk sampai spot yang masih
kaya akan potensi ekologi terumbu karangnya tersebut. Spot Karangjago sendiri terletak di sebelah timur Pulau Tunda yang berjarak sekitar 20 mil dari muara teluk Banten.

Dari layar pelacak ikan, tercantum angka kedalaman sekitar 60 m sampai 65 m di bawah permukaan laut. Tidak hanya angka kedalaman, ternyata muncul juga simbol ikan dalam titik-titik besar yang bergerombol di sekitar tubiran karang. Sontak saja hal itu kian memacu kami untuk segera bersua dengan sang koloni predator.

Dalam trip ini kami cenderung menggunakan teknik dasaran (bottom fishing) dengan umpan udang hidup. Rangkaian dasaran yang sudah kami siapkan didukung dengan peranti joran Shino Street Fire 179 PE 1-3 yang amat saya andalkan untuk bertarung dengan predator dasaran. Kemudian untuk ril, saya menggunakan Shino Pegasus 5000 dengan isi senar PE 2 Gerong besutan Relix Nusantara, ditambah shock leader 40 lbs untuk meredam ganasnya sambaran para predator.

Tak lama bagi kami untuk bisa mendapatkan sambutan dari penghuni bawah laut. Seketika umpan diturunkan, sambaran pertama sudah pertama sudah langsung kami terima. Sesuai dengan ekspetasi yang kami tancapkan, ikan berjenis Kuwe Cepa (Caranx sexfaciatus) yang menjadi koleksi tangkapan kami.

Tidak hanya satu, momen pesta strike kuwe ini kami alami bersahutan sampai waktu subuh berkumandang. Parade Kuwe Cepa yang tengah schooling di Karangjago begitu memanjakan bagi pemancing di atas permukaan. Karena bukan hanya kami saja yang turun jangkar di spot karang alami tersebut, tapi juga ada lima kapal lain yang mengangkut pemancing untuk mendulang berkah koloni ikan kuwe tersebut. Namun menjelang fajar, parade strike kami sempat terhenti. Bahkan tak ada satupun ikan yang berhasil kami naikan dalam jangka waktu dua jam.

Asep, Nunung Syaifuddin dan Riccar Sandi memamerkan hasil tangkapan total sekitar 120 ekor Kuwe Cepa dalam trip mancing yang dilakukan di spot timur Pulau Tunda, (14/6). Keberadaan koloni Kuwe Cepa ini menjadi berkah tersendiri bagi para pemancing yang mengeksplorasi spot mancing legendaris Pulau Tunda.

Mungkin penghuni bawah laut mempersilahkan kami untuk rehat sejenak setelah melepaskan banyak energi sejak pertama sampai di spot. Namun waktu istirahat tidak berlaku bagi pak Nunung. Beliau dengan sigapnya terus mengayunkan joran untuk memastikan umpannya masih tersedia untuk memikat para predator. Akhirnya pada pukul 06:00 Minggu pagi (15/6), sambaran yang kami rindukan tersampaikan kembali. Lagi-lagi Kuwe Cepa terus menyambut setiap live bait yang kami turunkan. Setidaknya, setiap dari kami mampu mendulang 10 tangkapan pada Minggu pagi mempesona tersebut.

Total 120 ekor Kuwe Cepa berhasil kami pamerkan di atas geladak kapal. Sampai akhirnya kembali, momen schooling Kuwe Cepa berangsur-angsur mereda dan menghilang dari radar fish finder.

Sepertinya memang, koloni Kuwe Cepa telah menunaikan tugasnya untuk memangsa buruan. Layaknya Wadyabala (bala tentara) yang sukses menggempur pasukan musuh. – Riccard Sandi.