Surga Persembunyian Sikhan

“Lembab belantara hutan hujan di barat Lampung diterabas. Wilayah tak terjamah manusia ini adalah kejaiban yang manjakan mata. Pepohonan raksasa terpancang kuat, nyanyian dedaunannya berpadu dengan gemercik jeram menabrak batu. Alirannya begitu menyegarkan, deras, juga menciptakan sebuah harmoni. Menjadi surga bagi para semah yang berkoloni.”

Pada mulanya, ketika mendengar ada semah di Lampung, saya merasa hal itu hanyalah sebuah mitos. Sebab sejauh ini, pengetahuan saya akan keberadaan ikan tersebut amatlah minim mengingat sulitnya ekosistem terbaik bagi ikan ini di Lampung. Hingga pada suatu hari, pertemuan dengan rekan saya Yan Alvaro membuka keyakinan saya akan hal tersebut.

Ia menyampaikan bahwa ia mengetahui ikan ini hidup tanpa sedikit campur tangan manusia di pedalaman Lampung. Dari sini, cerita menakjubkan dimulai.

Sudah dua tahun belakangan ini kami habiskan sebagian waktu kami untuk mempelajari keberadaan ikan mahseer di pedalaman hutan menuju spot-spot ‘perawan’ di Lampung Barat. Selama itu juga, penjelajahan menuju persembunyian ikan yang dalam bahasa lokal di sana disebut sikhan itu dilakukan.

Akhirnya belantara rimba di Lampung Barat kami jelajah. Kontur hutan berbukit-bukit dan cenderung terjal menjadi rintangan dan tantangan untuk dilalui agar bisa sampai di hulu sungai yang kami tuju. Petualangan bertambah berat karena dari titik awal, semua harus dilakukan dengan berjalan kaki hingga dua belas jam lamanya.

Medan yang di hadapi benar-benar menantang dan bila dilakukan dengan sedikit kesalahan saja, bisa berakibat fatal. Luka siap diterima, nyawa menjadi taruhannya. Karena ada 3 titik lokasi yang mengharuskan kita merayap, naik dan menuruni dinding batu dengan ketinggian antara 10-15 meter.

Karena memakan waktu perjalanan belasan jam lamanya sampai menjelang gelap, keadaan mengharuskan kami untuk bertenda di belantara guna mengembalikan tenaga sebelum menjelajah aliran sungai esok hari. Bermalam di antara semak sambil didongengkan hewan-hewan malam menghantarkan tidur kami terasa nyenyak.

Tak terasa udara dingin yang sejak malam menusuk kulit membangunkan tidur kami pagi itu. Makan pagi jadi pembakar semangat sebelum kegiatan mancing dilakukan. Peranti mancing pun coba disiapkan, dimana peranti kelas ringan jadi senjata yang dipakai.

Mahseer atau juga disebut semah, adalah ikan pengarung air deras karena kerap berada dalam persembunyiannya di sungai-sungai berpalung di wilayah dataran tinggi. Umpan minnow dilontarkan tepat di hadapan jeram, kemudian ditarik perlahan hingga melewati celah bebatuan.

Sesampainya umpan minnow ditarik mendekati aliran dalam, semah mengejar dari balik bebatuan. Perlawanannya sungguh merepotkan, karena rahang kuatnya terkadang mampu membengkokkan kail bermata tiga (treble hook). Belum lagi kita bisa kewalahan karena semah kerap membawa umpan ke arah bebatuan bahkan ranting-ranting di tepi sungai.

Tidak hanya sensasi tarikannya kala bertarung melepas jerat kail, sudah sejak lama semah menjadi ikan idaman banyak orang. Rasa daging yang nikmat membawa ikan ini bernilai ekonomis tinggi. Tak heran karena eksploitasi berlebihan dibarengi kerusakan ekosistem, ikan ini di beberapa lokasi seperti di Lampung termasuk langka dicari.

Empat Spesies di Indonesia

Spesies Tor tambroides ini masuk dalam golongan ikan cyprinid, hidup di hulu sungai dengan kondisi perairan yang jernih dan kebutuhan oksigen tinggi. Tor tambroides memiliki penyebaran yang luas di Pantai Barat Sumatera (Lampung dan Bengkulu) dan sangat potensial untuk dikembangkan dimasa yang akan datang.

Di seluruh dunia, ada 20 jenis kerabat ikan ini yang tersebar di kawasan Asia. Empat jenis di antaranya ada di perairan Indonesia, yakni Tor tambroides. Tor douronensis, Tor tambra dan Tor soro. Dari empat jenis marga Tor yang ada di Indonesia, hanya Tor tambroides yang bisa mencapai ukuran tubuh sangat besar.

Ikan kecil sampai remaja cenderung lebih aktif karena kerap berada di sungai yang berarus dan berbatuan. Sedangkan ikan dewasa, lebih cenderung menempati lubuk-lubuk sungai yang dalam.

Di habitat aslinya, semah merupakan ikan yang gerakannya sangat agresif, baik saat mengejar mangsa maupun menghindar dari ancaman. Ikan semah termasuk aktif di malam hari, sedangkan siang hari lebih banyak sembunyi di balik batuan atau gua-gua.

Namun, jika mendengar atau melihat buah jatuh ke air, mereka akan segera mengejarnya. Kebiasaan tersebut sering dimanfaatkan para penangkap ikan dan pemancing, sebelum menebar jala atau melempar umpan, biasanya mereka melempar batu supaya dikira buah yang jatuh dan ikan akan mengejar batu tersebut.

Sementara di Lampung, Semah terbukti memiliki tempat istimewa. Salah satu kabupatennya, Pesawaran, menggunakan nama semah sebagai nama sungai terpanjang di sana. Memiliki panjang 54 km dan daerah aliran seluas 135 km2, Way Semah menginduki sungai-sungai kecil seperti Way Penengahan, Way Kedondong, Way Kuripan, Way Tahala, Way Tabak, Way Awi, Way Padang Ratu, Way Ratai, dan lainnya.

Seperti yang disebutkan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Drs. Haryono, berkaitan dengan upaya perlindungan habitat ikan mahseer atau yang di Jawa Barat disebut tambra, sebaiknya mencontoh masyarakat di Kabupaten Kuningan. Sudah banyak diketahui, di kawasan wisata Cibulan, Cigugur, Pasawahan, dan Darma, terdapat ikan-ikan tambra yang oleh penduduk setempat disebut kancra dewa.

Penyebutan tersebut merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang berlaku turun-temurun dengan tujuan mengeramatkan ikan agar terhindar dari kepunahan. Bagi pemancing, sepertinya langkah catch and release menjadi harga mati, harus dilakukan agar keseimbangan terus terjaga.

Atas dasar kekhawatiran terhadap kelestarian ekosistem semah di Lampung pada umumnya, dengan berat hati saya tidak bisa menyebutkan secara detil mengenai lokasi mancing yang kami lakukan ini kekhalayak luas. Kami mencoba menepiskan egoisme atau keserakahan agar keseimbangan alam bisa terus dipertahankan.

Surga persembunyian sikhan ibarat dongeng kenyataan bagi kami di Lampung. Hingga sebelum hari kembali gelap, sambil mengikuti aliran air, kami pulang. Biarlah cukup alam saja yang menjaganya, selain jejak harimau sebagai penanda.

Infografis:

Ikan-ikan ini masuk ke dalam marga Neolissochilus, meskipun tanpa penjelasan yang memadai. Marga Neolissochilus dapat dibedakan dari Tor, di antaranya dengan melakukan pemeriksaan pada morfologi jumlah sisir saring insang (gill rakers), bentuk rahang bawah dan lengkung faringeal

Tor soro (soro)

Soro atau di Jawa Barat disebut Kancra merupakan ikan yang selamat dari ancaman berkat kepercayaan masyarakat sunda yang mengkeramatkan ikan ini secara turun temurun. Mereka menamakan kancra sebagai ‘Ikan Raja’ atau ‘Ikan Dewa’ karena semula hanya keluarga kerajaan yang diperbolehkan menikmati kelezatan dagingnya. Hal ini secara tidak langsung berdampak positif terhadap keberadaan populasi ikan kancera, sehingga masih tersisa dan dapat hidup dengan bebas pada kolam-kolam pemandian tua di Cigugur, Pasawahan, Cibulan, dan Waduk Darmaloka.

Ikan soro memiliki tiga kombinasi warna, yaitu hitam sebagai warna dominan terletak pada bagian atas badan ikan, keemasan terletak di atas warna hitam, dan putih terletak pada bagian bawah ikan, warna-warna itu semuanya memanjang mulai dari bagian depan sampai ke bagian pangkal ekor. Sementara jenis siripnya tergolong sirip bercagak, jenis sirip punggung sirip tunggal berjari-jari dengan badan berbentuk pipih tegak dengan tipe sisik sikloid, jenis mulut tergolong subterminal, dimana di atas mulut terdapat kumis yang panjang berjumlah dua pasang.

Tor tambra (jurung)

Sama seperti ikan Tor pada umumnya, habitat tambra atau jurung lebih banyak ditemukan pada zona sungai berbatu dengan lumut-lumut yang menempel. ikan gariang/mahseer merupakan penghuni sungai pada hutan tropis terutama pada kawasan pegunungan. Habitat asli ikan gariang umumnya pada bagian hulu sungai di daerah perbukitan dengan air yang jernih dan berarus kuat.


Ikan tambra atau ikan gariang memiliki sirip dorsal yang memiliki 3 duri dan 8-9 jari-jari lemah, sirip anal 3 duri dan 5 jari-jari lemah, sirip dada 1 duri dan 14-16 jari-jari lemah, sirip perut 2 duri dan 8 jari-jari lemah, 24-28 sisik pada linea lateralis. Mulut inferior, bibir tebal, pada pertengahan bibir bawah tidak terdapat cuping dan hanya berupa kulit. Sungut moncong hampir sama atau lebih panjang dibandingkan mata, lebih pendek dibandingkan sungut rahang atas.

Tor tambroides (kerling)

Tor tambroides mempunyai ciri-ciri terdapat sebuah cuping dipertengahan bibir bawah yang mencapai ujung mulut, memiliki jari-jari sirip punggung yang licin, kepala tidak berkerucut, serta antara garis rusuk dan sirip punggung terdapat tiga setengah baris sisik. Di Aceh Jaya, ikan ini menjadi primadona masyarakat sekitar karena memiliki rasa serta nilai ekonomis tinggi.

Tor douronensis (semah)

Kepala simetris, sirip punggung terdiri dari 1 jari-jari keras licin dan 8 jari-jari lemah bercabang, sirip dubur dengan 5 jari-jari lemah bercabang, mata tidak berkelopak, mempunyai 4 helai sungut mengelilingi mulut. Cuping berukuran sedang pada bibir bawah tidak mencapai sudut mulut, ada tonjolan di ujung rahang bawah, bagian jari-jari terakhir sirip punggung yang mengeras panjangnya sama dengan panjang kepala tanpa moncong. Ujung sirip dubur soro sangatlah mencolok berbeda dengan keluarga Tor lainnya karena menunjuk tegak cenderung lebih lurus.