Peradaban Mahseer Muara Wahau

Kalimantan Timur terpatri dalam lembaran sejarah Indonesia sebagai tempat lahirnya kerajaan-kerajaan tua nusantara. Di hulu sungai Mahakam, kerajaan Kutai Martadipura memulai peradabannya sebagai kerajaan Hindu – Budha pertama di Indonesia pada abad 4 masehi. Meski kini jejak peradaban itu hanya tersisa catatan dalam bentuk prasasti, namun di hulu sungai lain di bumi Mulawarman, masih eksis sebuah kerajaan bawah air yang berisi peradaban spesies asli Indonesia. Tempat itu ialah hulu sungai Wahau, tempat dimana keluarga Mahseer membentuk kerajaan alaminya.

Selamat datang di bumi Mulawarman. Ratusan anak sungai yang berkelok-kelok indah, siap menyapa siapa saja yang baru menjejakan kaki di provinsi paling timur di pulau Kalimantan ini. Setidaknya ada 60 sungai yang mengalir dan berjejaring di atas daratan Kutai Timur saja dari hulu sampai hilir. Itu belum termasuk dengan sungai Mahakam yang melegenda seantero negeri sebagai salah satu sungai terpanjang di Indonesia.

Rony Gege, yang juga pemnacing asal Muara Wahau, Kalimantan Timur, memamerkan tangkapan ikan hampala dalam trip mancingnya di hulu Sungai Wahau. Selain Mahseer, keluarga Cryprinidae lainnya seperti Hampala masih lestari di hulu sungai berarus deras yang terletak di pedalaman hutan Muara Wahau tersebut.

Kampung halaman kami di kecamatan Muara Wahau, cukup berperan dengan menyumbang 5 dari 60 sungai yang melintas di kabupaten Kutai Timur. Situasi ini cukup menggambarkan betapa kampung halaman kami begitu surgawi bagi pegiat mancing freshwater. Namun pada kali ini kami tidak akan mengenalkan semua spot mancing yang terhampar di setiap sudut desa kami. Terlampau panjang cerita yang akan disuguhkan.

Kami akan unggah sekeping saja pada bagian paripurna dari sungaisungai di bumi Mulawarman. Tempat dimana ikan-ikan endemik Indonesia menari-nari dengan bebasnya di sungai yang berarus deras. Ya, spot yang kami tuang dalam cerita trip kami ini merupakan habitat alami dari keluarga ikan Cyprinidae; seperti Hampala, Sapan, Mahseer dan sejenisnya.

Bagai sebuah kerajaan, spot yang kami sambangi merupakan territori natural kawanan ikan asli Indonesia tersebut. Spot ini berada di hulu sungai Wahau yang terletak di pedalaman hutan lindung Muara Wahau seluas kurang lebih 38 ribu hektar. Tak mudah untuk mencapai bantaran hulu sungai yang biasa disebut warga lokal dengan Sungai Melenyu itu.

Selain medan yang terjal karena berada di tutupan hutan tropis Kalimantan, untuk menuju spot alam ini juga perlu menempuh perjalanan darat selama dua jam dengan berjalan kaki. Sebelumnya kami juga perlu menempuh perjalanan dengan kendaraan bermotor selama tiga jam dari rumah, untuk sampai di sisi terdekat sungai dengan jalan raya.

Sudah sepantasnya kerajaan spesies Cyprinidae di hulu sungai Wahau masih lestari berkat belantara hutan yang membentenginya. Kondisi ini sejatinya cukup menggambarkan betapa tanah Borneo amat kental sebagai etalase alam liar Indonesia yang masih asri hingga hari ini. Kondisi yang seharusnya masih harus kita jaga sebaik mungkin demi warisan alam yang bisa disaksikan bagi generasi anak-cucu kelak.

Meski kami harus melalui beratnya medan dan rintangan perjalanan untuk sampai ke titik spot, namun imbalan yang akan kami dapat terasa tak ternilai dengan nanyian merdu dan lanskap hulu sungai Wahau yang memanjakan seluruh panca indera kami. Di titik ini pula kerajaan yang air tawar yang masih eksis di tengah maraknya perusakan hutan Kalimantan masih dapat kami saksikan.

Karakteristik alam ini sangat cocok bagi pegiat wild fishing yang rindu akan betualang di alam liar seraya menyalurkan hobi memancing. Biasanya untuk memulai mancing, kami memposisikan diri di bantaran sungai yang dangkal dan mengarahkan target kail pancing ke badan sungai yang lebih dalam. Dengan posisi seperti ini umpan dapat bergerak di kedalaman yang ideal.

Nanang Marulidodes, Pemancing asal Muara Wahau, Kalimantan Timur, Memamerkan target tangkapannya yaitu Ikan Mahseer (Tor Tambroides) saat mancing di spot hulu Sungai Wahau. Ikan yang juga disebut dengan sapan ini merupakan ikan endemik Indonesia yang menghuni hulu-hulu sungai pegunungan di Kalimantan.

Dengan teknik casting, kami biasa mancing menggunakan umpan artificial lure macam minnow dan spoon untuk menggaet target Hampala maupun Mahseer. Namun sepanjang pengalaman kami, lure spoon memiliki efektifitas rate strike lebih tinggi dibanding umpan buatan lainnya. Karena spoon memiliki keunggulan dari sisi bentuk tubuh yang lebih pendek
dan kompak, sehingga action yang dihasilkan spoon jauh lebih bereaksi untuk karakter sungai berjeram. Kemudian pilihlah lure dengan warna yang lebih natural seperti warna yang menyerupai material alam macam kayu atau buah-buahan. Warna-warna alam seperti itu lebih menggugah reaksi Hampala maupun Mahseer untuk menyergap umpan. Terlebih spoon memiliki karakter umpan yang tenggelam untuk menyisir berbagai level kedalaman air, sehingga sangat efektif untuk menjangkau jarak pandang target.

Berikut adalah piranti (teackleI) yang digunakan untuk trip kali ini.

Untuk kebutuhan akan karakter lure tersebut, kami menggunakan lure Agile dari Hinomiya sebagai amunisi memancing kami. Agile cukup dikenal sebagai lure killer untuk beragam spot mancing (landbase) di perairan darat maupun perairan pantai. Khusus untuk spot hulu sungai Wahau, Agile memiliki performa ciamik untuk menembus jeram-jeram berarus.

Selama melempar, usahakan kombinasi antara kecepatan lempar dan akurasi harus terjaga agar potensi seluruh spot bisa terjamah.

Meski begitu, kekuatan pamungkas dari menggaet ikan besar air tawar ini adalah dari gerakan yang minim suara alias secara sunyi. Sebagai makhluk pendatang, kita dituntut untuk harus tenang mengikuti harmoni belantara hutan yang sehari-hari sudah begitu sunyi. Kondisi cukup menguntungkan
bagi pemancing agar memperbesar peluang umpan disambar. Waktu yang tepat untuk memburu Mahseer adalah saat matahari masih memancarkan sinar hangatnya pada pagi hari dan saat matahari mulai kembali ke peraduannya saat sore hari. Untuk itu kami sering   menginap dengan membuat kemah di belantara hutan demi mendapatkan momentum memburu Mahseer di waktu yang tepat.

Apalagi kondisi kejernihan air juga cukup berpengaruh terhadap agretifitas ikan yang masih kerabat dekat dengan ikan mas tersebut. Cuaca hujan cukup jadi pertimbangan kami untuk melanjutkan perburuan Hampala dan Mahseer di hulu sungai. Karena rating strike kami begitu tinggi ketika kondisi sungai memiliki tingkat kejernihan yang baik.

Seketika kami berhasil mendaratkan target Mahseer atau Hampala, seketika itu pula kami ikut merasakan kebanggan akan ikan endemik Nusantara ini yang masih asri di bumi Mulawarman. Keluarga Cyprinidae ini adalah ikan ini pemakan segala (omnifora), ikan air tawar konsumsi, dengan nilai ekonomi tinggi. Berkah alam Mulawarman yang masih harus kita jaga untuk kelestarian bagi generasi yang akan datang. – Nanang Marulidodes

M. Nanang Marulidodes

Nanang Marulidodes, Pemancing asal Muara Wahau, Kalimantan Timur, Memamerkan target tangkapannya yaitu Ikan Mahseer (Tor Tambroides) saat mancing di spot hulu Sungai Wahau. Ikan yang juga disebut dengan sapan ini merupakan ikan endemik Indonesia yang menghuni hulu-hulu sungai pegunungan di Kalimantan.