Panen Iwak di Utara Serawak

Masa lampau silam, Bintulu hanyalah sebuah desa kecil di pesisir utara Serawak yang ditinggali oleh keluarga nelayan. Selama puluhan tahun, berburu ikan menjadi asa bagi para nelayan untuk menyambung kehidupan. Namun laut Tiongkok Selatan (Laut Cina Selatan) yang kaya akan sumber daya, mampu mengubah dengan cepat wajah Bintulu dari sebuah desa nelayan menjadi kota metropolitan. Dari bawah air, jutaan kubik minyak dan gas disedot ke permukaan dan menjadi pendulang utama kekayaan. Namun dari dalam air di sela tiang-tiang kilang minyak, terbentuk sebuah ekosistem baru bagi berbagai spesies ikan. Sebuah destinasi mancing terbaik bagi pegiat mancing di negeri Jiran.

Bila membahas negara tetangga Malaysia, tak melulu berbicara soal Ibukota Kuala Lumpur dan wilayah-wilayah di sekitar semenanjung Malaya semata. Sebagai negera federasi, Malaysia memiliki 13 negara bagian yang terbagi dalam dua wilayah. Pertama adalah wilayah di semenanjung Malaya yang termasuk ibukota Kuala Lumpur didalamnya, kemudian yang kedua di utara Borneo yang mencakup negara bagian Serawak dan Sabah.

Dua negara bagian yang disebutkan terakhir merupakan wilayah yang berhimpitan langsung dengan Indonesia dalam satu daratan pulau Kalimantan (Borneo). Selain itu dua wilayah ini juga berhadapan langsung dengan Laut Tiongkok Selatan yang menjadi salah satu pedulang sumber daya alam Malaysia. Selain komoditas minyak dan gas, sektor perikanan juga cukup diandalkan dari kawasan perairan lintas negara tersebut.

Tak hanya kaum nelayan, para pegiat mancing seantero Malaysia juga dapat menikmati potensi perikanan dari kawasan Laut Tiongkok Selatan. Salah satunya adalah kami dari klub mancing Godam Anglers yang kerap mengeksplorasi spot mancing di lepas pantai utara Serawak ini. Dengan latar belakang kekayaan ragam spesies ikan yang hilir-mudik di jalur laut yang amat strategis ini, kami kembali untuk menunaikan hasrat kami untuk bertemu dengan kawanan predator di perairan Bintulu.

Bila berkaca pada histori trip mancing kami setahun yang lalu, kami menancapkan target untuk memecahkan rekor tangkapan yang lebih besar lagi. Tahun lalu kami berhasil mendaratkan tangkapan ikan total seberat 589 kilogram. Setidaknya pada tahun ini, kami bisa menyamai atau mungkin mendapat hasil yang lebih baik.

Trip 4 Hari 4 Malam

Kerapu, Kakap Merah, Kerisi dan Red Snapper merupakan target spesies yang dominan didapatkan oleh kawan-kawan Godham Anglers. dengan mengaplikasikan teknik dasaran dan umpan alami, para pemancing dapat mendulang kawanan predator dari dasar lautan.

Starting point terbaik untuk menjelajahi spot Laut Cina Selatan adalah di ujung utara Borneo. Negara-negara bagian di Malaysia Timur ini menyediakan banyak pelabuhan utama di pesisirnya sebagai tempat kapal-kapal mancing bersandar. Salah satunya adalah Bintulu yang menjadi gerbang awal kami untuk memulai petualangan selama 4 hari 4 malam. Kota yang terletak di garis pantai negara bagian Serawak ini, dikenal sebagai lumbung energi Malaysia dengan banyaknya tambang mineral seperti batubara, gas alam hingga minyak bumi.

Tak salah bila di Bintulu tersedia banyak akses untuk menuju Laut Cina Selatan, tempat kegiatan tambang migas dilangsungkan. Spot mancing yang kami tuju ialah anjungan pengeboran minyak lepas pantai (oil rig) M3 Bintulu.

SK408 yang berjarak sekitar 130 batu nauktikal atau sekitar 234 km dari bibir dermaga. Dengan jarak tersebut, kami membutuhkan waktu perjalanan selama 12 jam untuk menuju spot.

Namun panjangnya durasi perjalanan tersebut tak menjadi beban, mengingat kami menaiki kapal motor (KM) Kerisi Marine yang memang ditujukan sebagai bahtera pembelah samudera. Kapal mancing ini cukup besar untuk menampung peserta trip Godam Angler 2019 yang berjumlah 12 pemancing. Belum lagi kami selalu mendapat pengalaman baik selama menumpaki kapal penejalajah samudera tersebut.

Sebagai perkenalan: saya mancing bersama rekan-rekan Godam
Anglers diantaranya: Shukor, Ayem Strawberry, Awie Cupak, Pian Cobia, Rahi Boron, Jack Belut, KNS Dukun Kerapu, Haji Pojie, Haji Nazri, Shamsul dan Zul C9. Beberapa dari kami termasuk saya menetap di Kuala Lumpur dan sesekali berkunjung ke Indonesia untuk urusan pekerjaan. Jadilah kami rasa tidak ada perbedaan besar antara pemancing Malaysia dan Indonesia untuk urusan memancing.

Spot Pengeboran Lepas Pantai

Di luasnya belantara Laut Cina Selatan, perjalanan kami hanya tertumpu pada satu titik di kawasan anjungan pengeboran migas M3 dan SK408. Di instalasi Rig yang sudah non-aktif ini tersimpan berkah bagi para pemancing berupa terbentuknya ekosistem besar akan keberadaan beragam spesies ikan. Kami pun telah bersiap untuk mengunggah segala macam potensi yang tersimpan di sela-sela tiang pancang anjungan rig.

Kami bagi target tangkapan dan teknik mancing yang digunakan dalam dua sesi. Pertama sesi mancing siang hari target red snapper, kurisi, dan kerapu dengan teknik dasaran melayang tanpa jangkar (drifting) . Kemudian sesi kedua mancing malam hari target dogtooth tuna, amberjack, hingga yellowfin tuna dengan teknik dasaran dan jigging. Secara kebetulan anjungan pengeboran lepas pantai yang kami singgahi memiliki kontur dasar laut yang cukup dalam.

Pada layar fish finder tercatat kedalaman air mulai dari 100-150 meter di bawah permukaan laut. Sungguh arena yang tepat bagi kami untuk memainkan metal jig kami demi memikat para predator di dasar laut. Terlebih, arus bawah air juga cukup mendukung bagi kami untuk menurunkan umpan dan metal jig sampai ke dasar. Metal jig yang kami gunakan antara 100-350 gram. Namun seperti biasanya tak mudah bagi kami untuk mendulang para penghuni ekosistem tiangtiang pancang rig untuk naik ke geladak kapal.

Beberapa kali momen pertarungan kami harus dimenangkan oleh kubu predator. Pertarungan ini juga menimbulan korban bagi kami yaitu gugurnya amunisi metal jig yang disergap oleh kawanan predator. Belum lagi dalam satu momen, kawan kami harus mengalami habis senar (line out) karena dibawa kabur oleh YFT dan GT.

Tak terhitung berapa metal jig yang harus kami ikhlaskan karena dibawa kabur sang lawan. Dalam hitungan kami total puluhan metal jig kami hilang selama 4 hari 4 malam mengeksplorasi Rig M3 dan SK408. Kendati begitu tak melulu kemenangan hanya dimonopoli oleh kubu predator. Secara bertahap kami juga sukses menggulung habis target kami hingga mendarat di atas kapal.

Selain spesies kakap, predator fenomenal lain seperti Dogtooth Tuna hingga Yellowfin Tuna juga berhasil ditaklukan oleh para pemancing Godham Anglers.

Dalam satu kali sesi mancing kami bisa berpesta strike spesies Kakap, Kurisi dan Kerapi. Kemudian saat malam hari kami mulai membalas kekalahan kami sebelumnya dengan menaklukan sang penjahat utama: GT, Dogtooth Tuna, dan YFT. Salah satunya adalah saya yang berhasil menaklukan GT dengan bobot di atas 40 kg. Kemudian beberapa
rekan juga berhasil menaikan banyak Kerapu dengan bobot 15-30 kg. Total hasil tangkapan kami selama 4 hari 4 malam melanglang buana di oil rig M3 mencapai 650 kg. Sebuah rekor tangkapan yang berhasil kami pecahkan dari torehan trip mancing kami pada tahun lalu di spot yang berdekatan. Sesuai dengan asa kami di awal untuk melampaui pencapaian trip mancing kami sebelumnya. Hasil ini juga membuktikan: jika Serawak tidak hanya kaya akan minyak, tapi juga melimpah akan komoditas kawanan Iwak. – Ramezee