Meraih Bangga, di Kepulauan Banggai

Apa yang membuat negara-negara barat begitu ambisius menancapkan tampuk kekuasaannya di Nusantara pada era Kolonialisme? Selain karena kepincut dengan hasil bumi yang terkandung di setiap jengkal tanah air, ada ‘harta karun’ lain yang kadung membuat bangsa eropa rela berlayar ribuan kilometer untuk datang langsung ke nusantara. Harta karun ialah kekayaan bahari di bagian timur Indonesia, gugusan Pulau Cantik dengan segitiga terumbu karang terbaik di dunia.

Negara imperialis seperti Belanda, amat terpesona dengan keindahan Nusantara yang berhimpun dalam bentuk gugusan kepulauan. Selain mengambil hasil bumi Indonesia seperti rempah-rempah, migas dan kekayaan mineral lainnya, negara yang menjajah tanah air paling lama ini, juga berhasrat untuk menguasai Nusantara dengan mengembangkan pola devide et impera.

Strategi politik pecah belah itu ialah memisahkan Indonesia dalam bentuk negara-negara kecil (federal) yang dipimpin tuan tunah yang ditunjuk oleh Belanda. Praktis negara boneka yang dibentuk belanda pertama kali adalah negara Indonesia Timur yang mecakup; Sulawesi, Sunda Kecil (Nusa Tenggara), dan Kepulauan Maluku.

Meski negara federal pertama Indonesia ini hanya eksis selama empat tahun (1960-1950), namun hal itu cukup gamblang membuktikan bahwa Belanda begitu gigih untuk menguasai kepingan surga Nusantara di Indonesia timur. Di era modern saat ini pun masih banyak masyarakat barat yang gemar mengunjungi kecantikan bahari Nusantara di Indonesia timur, bedanya mereka kini datang sebagai wisatawan yang menambah pundi-pundi negara dalam bentuk devisa.

Umumnya pelancong ‘bule’ itu berkunjung ke destinasi pariwisata favorit di Indonesia seperti; Bali, Takabonarate, Wakatobi, dan kepulauan Banggai, untuk menikmati kekayaan bawah laut berupa segitiga terumbu karang dunia dengan kegiatan menyelam (diving). Namun kini tidak sedikit pelaku pariwisata lokal yang mulai mengembangkan produk wisata mereka dengan menawarkan paket trip mancing.

Jessica adalah salah satu lady angler yang ikut bersama Tim JAC untuk mengikuti Trip Ke Kepulauan Banggai

Ya, spot mancing Indonesia timur memang saat ini tengah menjadi primadona tidak hanya bagi pegiat mancing lokal, tapi juga angler internasional. Saat ini mulai banyak agen wisata yang menyandarkan kapal-kapal khusus mancing untuk digunakan mengeksplorasi spot mancing terbaik di timur Indonesia. Salah satunya adalah KM Selayar Borneo yang kami gunakan untuk eksplorasi spot mancing di kepualan Banggai, Sulawesi Tengah.

Kapal ini dikelola oleh agen wisata khusus mancing; Indonesia Fishing Charter. Kami menggunakan kapal mancing dengan fasilitas bintang lima ini untuk menemani trip mancing kami di Banggai pada 1-5 Februari 2019 kemarin. Saya bersama rekan-rekan grup mancing Jakarta Angler Community (JAC); Koh Wiwi, Toni Julianto (TJ), Jessica, Haju Lolom, Perchy, Lewis, Ngurah dan dua sahabat kami dari negeri jiran Nabil serta istri, ikut bersama dalam trip ini.

Target Tuna Gigi Anjing

Dimulai dari Luwuk
Perjalanan kami menuju spot di kepulauan Banggai dimulai dari Ibukota untuk terbang menuju Makassar. Kami perlu transit di pusat pemerintahan Indonesia bagian timur itu sebelum melanjutkan penerbangan menuju gerbang kabupaten Banggai, di bandara Syukuran Aminuddin Amir, Luwuk. Rekan negeri jiran kami juga melakukan hal serupa dengan transit di Makassar dari Kuala Lumpur sebelum sampai di Luwuk.

Setelah melalui durasi perjalanan dari Jakarta selama kurang lebih 8 jam termasuk transit di Makassar, akhirnya kami sampai di Bandara Syukuran Aminuddin Amir pada pukul 11:00 siang waktu setempat. Di sana kami sudah ditunggu penjemput dari Indonesia Fishing Carter untuk membawa kami menuju dermaga Buko, tempat KM Selayar Borneo bersandar.
Setelah berkemas dan mengisi energi sementara, tepat pada pukul 16:00 sore kami memulai langkah kami menuju spot pertama di gugusan kabupaten Banggai. Butuh waktu sekitar 6 jam pelayaran untuk kami sampai di spot pertama. Praktis kami memulai aktifitas mancing kami menjelang tengah malam. Dari layar fish finder tercantum kedalaman air mulai dari 120 meter hingga kebawah. Untuk itu kami memutuskan untuk menggunakan piranti vertical jigging untuk mengunggah para predator di dasar laut.

Melihat arus yang cukup deras kami memutuskan menggunakan metal jig antara 250-300 gram. Ternyata tak perlu menunggu waktu lama, target pertama berhasil kami unggah ke atas kapal. Ikan Tuna Gigi Anjing (Dogtooth Tuna) berbobot sekitar 8 kilogram menjadi rezeki pertama kami di perairan Banggai. Setelah itu paduan suara reel berderit terus bersahutan dari setiap sudut kapal tanda metal jig kami disambar oleh
penghuni bawah laut.

Ternyata memang kawanan Doggie tengah berparade di sekitar spot dimana kapal kami parkir. Selain vertical jig, kami juga mengandalkan teknik cast jig untuk mendulang target lain seperti Mata Belo dan Tongkol yang tengah boiling di sekitar spot. Hingga pagi menjelang, dua jenis ikan itu yang bergantian saling bersahutan menyambar Jig kami dan merangsek ke atas kapal.

Selain Tuna Gigi Anjing, Ruby Snapper Juga Menjadi Salah satu hasil pancing idaman.

Berkah Arlindo
Serupa dengan laut Makassar, peraian Banggai yang masih masuk dalam area laut Maluku, juga memiliki potensi besar dari kawanan spesies Tuna macam Dogtooth Tuna dan Yellowfin Tuna. Perairan ini menjadi salah satu lumbung tangkapan Tuna bagi nelayan-nelayan di pesisir Sulawesi. Penyebabnya tak lain karena laut Maluku menjadi bagian dari koridor Arus Lintas Indonesia (Arlindo) dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia.
Pergerakan arus ini membawa banyak plankton dan nutrisi laut yang sangat bermanfaat untuk menyuburkan terumbu karang dan juga sumber makanan bagi ragam spesies ikan. Serta mendorong berbagai proses fisika kelautan, seperti termoklin dan upwelling, berlangsung produktif di perairan yang dilintasinya.

Tim JAC (Jakarta Anglers Community) yang berhasil berpose dengan ikan hasil tangkapan.

Selain bermanfaat bagi ekosistem terumbu karang subur, zona ini juga membawa dampak bagi migrasi ikan-ikan besar, seperti Paus, Hiu, Hiu Paus, Lumba-lumba, Pari Manta, dan ikan-ikan pelagis besar lainnya. Ikan-ikan yang menjadi atraksi hiburan tidak hanya bagi pegiat diving, tapi juga para pehobi mancing di seluruh dunia.

Tentunya kondisi ini membuat perairan Banggai, sebagai perairan yang kaya akan sumberdaya laut karena karakteristik oseanografinya yang dipengaruhi daratan dan Arlindo Laut Banda. Selama 4 hari 4 malam mengembara di atas KM Selayar Borneo, kami menyaksikan sendiri betapa kekayaan bawah laut Banggai masih bisa kami nikmati.
Terakhir, trip kami ditutup dengan strike doggie berbobot 15,7 kilogram oleh TJ. Tangkapan ini menasbihkan TJ sebagai peserta trip yang menaikan target terbesar, mengalahkan tangkapan Jessica yang berbobot 14,5 kilogram pada hari ketiga.

Berat bagi kami meninggalkan Banggai dengan ragam kekayaan baharinya. Namun satu yang pasti kami meninggalkan manfaat berupa tangkapan ikan-ikan yang dibagikan kepada masyarakat setempat. Kami ingin menggambarkan betapa kebahagian kami setara dengan kebahagiaan warga setempat untuk menikmati hasil tangkapan yang kaya akan protein. Ya, seperti kita orang maluku, “jika tidak makan ikan terasa kurang lengkap menu makanan yang disajikan.” – Deni Aden