Mari ke Cidaun

Potensi mancing di perairan selatan Kabupaten Cianjur membawa angin segar bagi para pemancing di berbagai wilayah di Jawa. Di antara lokasi potensial, muncul nama cidaun. Kurang lebih sejak tahun 2011, eksplorasi mancing di Cidaun melalui Pantai Jayanti sudah dimulai hingga sekarang.

Walau berada di Kabupaten Cianjur, perjalanan menuju Pantai Jayanti dengan kondisi jalan terbaik hanya bisa dilalui melewati Bandung selatan. Dari Soreang, perjalanan ke sana dilanjutkan melintasi liuk permai jalanan khas bumi priangan. Kondisi jalan sudah mulus, namun pengendara harus ekstra hati-hati terlebih pada malam hari karena masih minim penerangan jalan dan tebing rawan longsor di beberapa titik.

Kawasan pesisir Cidaun merupakan salah satu wilayah dengan keberadaan nelayan terbanyak di selatan Jawa Barat. Di sana, jukung dengan mesin tempel ukuran 15 pk menjadi mayoritas kendaraan para pelaut-pelaut tangguh menerjang debur ombak Samudera Hindia. Puluhan jukung menyambut di ujung pantai, mereka adalah para nelayan, namun hanya beberapa orang saja yang berminat menyewakan jukungnya untuk memancing. Sebab mayoritas, mereka belum faham betul bagaimana teknis menjual jasa mancing khususnya pengetahuan terhadap spot-spot mancing potensial.

Sebagian juga masih nyaman menyandang status sebagai nelayan, dimana menangkap layur yang menjadi salah satu komoditi berharga di sana merupakan hal pasti. Beberapa dari mereka bahkan ‘terlena’ atas mudahnya mendapatkan uang dari hasil berburu benur (benih lobster) yang bernilai sangat tinggi di pasaran.

Budi, salah satu nelayan yang kerap membawa pemancing dari Jakarta dan Bandung, kali ini menemani trip kami menggunakan jukungnya. Ia berpendapat bahwa Cidaun punya potensi besar untuk dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata mancing andalan di pesisir selatan Jawa Barat. Ikan-ikan karang berukuran besar cenderung mudah didapatkan di sana.

“Jika cuaca dan arus laut sedang bagus, bukan tidak mungkin ikanikan monster macam Amberjack (Seriola dumerili), keluarga trevally, Ruby Snapper, Cablak hingga Kerapu, menyerang metal jig dan memberikan perlawanan secara liar di Cidaun,” ungkap Budi yang juga warga asli Cidaun.

Lokasi mancing potensial di Cidaun hanya berjarak sekitar 10 mil dari daratan saja. Jika menggunakan jukung dengan mesin tempel ukuran 15 pk, perjalanan menuju spot dari dermaga Pantai Jayanti memakan waktu sekitar 2-3 jam menyisir ke arah barat. Kontur dasar laut yang dihiasi barisan palung-palung curam sebagai habitat ikan-ikan tersebut di atas, terjaganya ekosistem dan ditambah masih minimnya kegiatan mancing di sana menjadi sebab dekatnya lokasi mancing.

Sementara bila ingin mengejar kawanan Yellowfin Tuna (tuna sirip kuning), jukung harus menembus gelombang lebih jauh lagi ke arah laut lepas. Menurut Budi, dirinya kerap mendapati kawanan Tuna Sirip Kuning mengejar ikan-ikan kecil hingga terlihat jelas sekali di atas permukaan air. Jika sudah begini, melempar umpan walau secara asal mendekati kerumunan tersebut rasanya adalah upaya terbaik.

Ko Atong saat berpose dengan ikan hasil tangkapannya.

Sejauh ini di Cidaun, bila dilakukan secara sport fishing, teknik jigging dan slow pitch jigging menjadi teknik mancing paling ampuh guna menarik keberadaan ikan-ikan monster. Umpan artifisial berupa metal jig disarankan menggunakan ukuran di atas 100 gram karena kondisi arus yang cenderung kencang. Bila sedang beruntung, strike akan cepat dirasakan, bahkan ketika tidak lama umpan diturunkan ke dasar.

Dalam dua kali percobaan kami selepas tiba di spot pertama, senar pancing sampai putus ketika berjibaku menahan perlawanan ikan. Ketika itu, fight perdana sedang berlangsung dan saya terus menahannya. Belum lama jangkar dilepas dengan maksud agar jukung bisa mendekati pelarian ikan, senar tiba-tiba putus.

Putusnya senar tepat berada pada bagian leader yang jika terlihat secara kasat mata, putus karena tergores tajamnya gigi ikan, bukan hancur karena tergesek batu karang. Selain itu, kontur bawah laut di spot adalah mayoritas berlumpur.

Kejadian ini (senar putus) juga dirasakan oleh Atong yang mengaplikasikan teknik slow pitch jigging. Sementara tidak lama dari kejadian itu, dua ekor cablak sukses dinaikkan ke atas jukung ketika hari menjelang sore. Selepas itu, hanya ombak, gelap dan hujan bercampur angin yang kami dapati di lautan.

Agresifitas makan ikan-ikan di Cidaun saat itu cenderung lama karena pengaruh kondisi arus atas dan bawah laut yang berlawanan. Mulanya malah sempat tak ada arus. Dalam keadaan yang kacau ini, sulit untuk mampu mendapatkan hasil pancing maksimal. Namun Budi sedikit menghibur kami yang menyebutkan jika hasil pancing kami masih tergolong bagus dalam keadaan seperti ini. Biasanya, jangan harap bisa mendapatkan ikan saat badai datang menerpa.

Foto bersama dengan ikan hasil pancing di Dermaga Jayanti, Cidaun.

Kesempatan mendapatkan Amberjack sebagai target utama belum kesampaian. Arus dan cuaca tidak memperlihatkan tanda-tanda akan membaik hingga menjelang siang. Padahal berdasarkan pantuan dari portal ramalan cuaca windy. com, pertengahan April cuaca cerah masih bertahan sebelum beralih. Namun awan pekat datang lebih cepat, hembusan angin kencang tersebut membuat ombak berkecamuk.

Sekali lagi, sambangilah Cidaun saat cuaca sedang bersahabat, pada momentum ikan sedang agresif. Untuk itu, komunikasi dengan nelayan sekitar jadi kunci utama guna mengetahui perkembangan kondisi di sana. Rasa penasaran sepertinya akan terus terpendam dalam diri sebelum suatu saat nanti Cidaun akan kembali kami sambangi. –  RICO  P.