Lumbung Monster Ujung Barat

Lumbung Monster Ujung Barat

Bagikan:

Jajaran palung laut perairan ujung Sumatera bagian utara adalah salah satu lumbung ikan terbaik di nusantara. Kontur dasar laut berupa spot karang yang membentang tersebut merupakan jalur cincin api ‘ring of fire’ bagai sabuk planet bumi. Wilayah antara zona abisal dan bukit laut hingga palung tersebut membentuk sebuah habitat potensial, dimana juga menciptakan jalur migrasi besar kawanan tuna.

Kawasan perairan kedalaman 250 meter di spot Pulau Rondo langsung kami sambangi. Menerjang samudera menggunakan kapal berukuran 40 gross ton rasanya nyaman sekali. Hantaman ombak dan alun yang tinggi seolah diredam. Kenyamanan mancing juga sangat dirasa karena area geladak kapal tergolong luas.

Peranti untuk ukuran kebutuhan vertikal jigging pun disiapkan. metode slowpitch jigging rupanya jadi senjata ampuh guna menarik perhatian ikan, khususnya keluarga Tuna sebagai target pancing kami waktu itu. Sebab umpan metal jig ukuran 450 gram yang digunakan pada slowpitch memiliki aksi gerak jauh lebih maksimal dibanding metode jigging lainnya.

Koko Sugiantoro (Pakde Joko) ketika mendapatkan spesies tuna di Laut Aceh beberapa waktu silam.

Strike Pembuka
Permulaan bagus kami dapatkan usai enam ekor Tuna Gigi Anjing (Dogtooth) berukuran sedang sukses dinaikkan ke atas kapal. Di spot Pulau Rondo sendiri, terdapat 4-5 spot mancing berkontur gosong nan potensial yang didiami ikanikan monster, khususnya keluarga Tuna, Ruby Snapper hingga Barakota. Gosong-gosong tersebut membentang bak tangga dari utara- hingga selatan di beberapa titik utara Sumatera.

Ketika Barakota pada akhirnya sukses didapatkan, kami kembali mencoba peruntungan dengan menurunkan umpan dengan harap ada ikan lebih besar yang akan didapatkan. di tengah malam yang dingin itu, sambaran kuat seekor eskolar dari dasar laut menghujam umpan hingga membuat gagang joran bergetar hebat. ikan nokturnal ini mahsyur akan gerakan radikalnya kala terperangkap kail. Tangan gemetar, peluh bercucuran menahan perlawanan seekor eskolar hingga akhirnya ikan dengan berat 45 kg up sukses diamankan di geladak.

Pertarungan Dinihari
Walau sudah dini hari, kegiatan mancing masih terus dilakukan tiga jam usai eskolar didapatkan. Teknik jigging ditambah variasi slowpitch masih diterapkan. Sesuatu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Kembali di penghujung malam ini, Dogtooth menjumpai kami. Salah satu target ikan idaman menyambar lure di air kedalaman sekitar 100 meter.

Jika pada umumnya Dogtooth punya karakteristik perlawanan kuat menuju dasar laut saat fight, kali ini perlawanan hanya berlangsung singkat. Dogtooth menyerah lebih cepat, hanya 3-4 kali melawan sehingga memudahkan saya untuk menarik ikan itu ke atas kapal. Padahal ketika ditimbang, ikan tersebut berbobot lebih dari 30 kg. Kejadian sama juga kami rasakan selang beberapa jam, kali ini dengan target Dogtooth yang lebih besar 10 kg dari ikan pertama. Target pertama pun sukses. Dibalik suksesnya target Dogtooth dan Escolar, tersimpan sedikit kekecewaan karena tak juga didapatkan target Tuna Sirip Kuning (Yellowfin Tuna). Pertanda hasil minim hingga malam ketiga terlihat dari dominasi Dogtooth pada hasil mancing kami, walau sudah berpindah ke Pantai Utara. Sebab kedua spesies ini tidak pernah berada di satu ekosistem yang bersamaan. Jika ada Dogtooth, maka YFT tak ditemukan, begitu pun sebaliknya dari beberapa spot dan pengalaman yang kami pelajari.

Kapal Mancing Tiga Saudara yang mengantar tim untuk mengekplorasi Perairan Laut Banda

Kapal Standar Mancing
Sekitar 3 tahun belakangan ini, geliat mancing di Aceh tergolong berkembang pesat. Spot-spot mancing dengan target yang menggiurkan jadi faktor kian bertambahnya pemancing di sana.

Dengan banyaknya kegiatan mancing yang dilakukan maka tumbuh pula geliat perekonomian bagi masyarakat pesisir. Beragam peningkatan perekonomian tersebut diantaranya peralihan kapal nelayan penangkap ikan menjadi kapal standar mancing. Dermaga Kampung Jawa sebagai salah satu Dermaga dengan jumlah- ketersediaan kapal mumpuni di wilayah aceh pun sejauh ini belum bisa memenuhi kebutuhan kapal standar mancing dengan fasilitas keselamatan utama seperti pelampung, sekoci (life raft), alat pelacak ikan (fish finder) serta sistem pemosisi global (GPS) dan pengelolaan dengan terstruktur.

Untuk itu, kita sebagai pemancing perlu membantu melakukan bentuk promosi dengan berbagai cara. Salah satunya melakukan eksplorasi lalu membuat report mengenai hasil pancing serta spot-spot potensial lainnya di sana, sehingga mampu menarik minat para pemancing dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan dunia.

Teknik mancing menggunakan metode jigging dan slowpitch merupakan metode yang efektif digunakan kala mancing di Aceh menggunakan peranti ril overhead dengan target ikan-ikan predator seperti Dogtooth Tuna hingga Barakota.

Sakralnya Jumat di Aceh
Selang beberapa hari kemudian, saya kembali menyambangi Aceh untuk eksplorasi kedua bersama rekan-rekan Jakarta Angler Community (JAC). Cuaca di Aceh pada Kamis awal Februari cenderung cerah, dalam angan pun kami harap kondisi di laut bersahabat sehingga hasil akan lebih maksimal dari sebelumnya. Belum terealisasinya target YFT membuat- rasa penasaran terus meradang. Sebagai provinsi di Indonesia yang kental dengan syariat islam, mayoritas masyarakat aceh sangat taat terhadap kewajiban mereka sebagai muslim dan muslimah. Jika Jumat tiba, warga khususnya kaum laki-laki menghentikan segala macam kegiatan apapun saat azan sholat Jumat berkumandang dan berbondong-bondong menuju masjid. Masyarakat di sana percaya jika segala macam kegiatan dilakukan saat Jumat tiba, maka akan berujung pada kesialan.

Baru mendarat di tanah Rencong, kami langsung bergegas menuju Dermaga Kampung Jawa untuk langsung melakukan kegiatan mancing tanpa membuang banyak waktu agar tidak kemalaman. Situasi mancing di spot dinaungi cuaca cenderung kondusif, namun tidak dengan arus bawah laut yang mampu menyeret jauh metaljig berukuran 150 gram. Belum lagi lampu kapal mati dan jangkar kapal juga putus karena kuatnya arus. Kondisi ini berlangsung selama kami berada di laut hingga membuat saya dan rekan-rekan putus asa.

Sampai pada akhirnya kapten Imran menceritakan kejadian buruk ini dan menyangkut-pautkan dengan kepercayaan mayoritas warga Aceh mengenai sakralnya hari Jumat. Kapten Imran dengan wajah serius bercerita bahwa sebenarnya Aceh memiliki ‘Panglima Laot’ yang merupakan suatu institusi adat yang bertugas mengatur tata cara penangkapan ikan di laut (meupayang), termasuk mancing.

Tindakan ‘terburu-buru’ untuk segera mancing itu disinyalir jadi awal mula ‘petaka’ arus laut menghujam tiada reda. imran menyebut lebih baik mancing sebelum Kamis berganti atau menunggu sholat Jumat selesai. Tapi kapten merasa tidak enak karena takut kami menunggu terlalu lama di darat. Boleh percaya, atau tidak. Lebih baik kita menghormatinya. – Koko Sugiantoro (Pakde Joko)

Bagikan:

Koko Sugiantoro Pakde Joko

Pria kelahiran `Kota Gudeg` ini dikenal sebagai salah satu pemancing senior juga merupakan salah satu pencetus berdirinya Jakarta Angler Community.

Chat