Gelora di Bawah Tebing Plawangan

Tebing Karst berbaris sejajar sebagai dinding yang diterpa ombak laut selatan. Bebatuan karangnya terlihat Kokoh, berdiri membatasi wilayah darat dan perairan yang potensial di balik curamnya tebing-tebing itu, Predator- predator laut berkoloni mengelilingi perairan dibawahnya yang siap tergugah dengan aksi umpan artifisial.

Mancing menghadap tebing di atas jukung menggunakan metode pancing modern menjadi salah satu pilihan, guna bisa merasakan sensasi tarikan ikan-ikan predator di kawasan pantai puger. kontur dasar laut berupa karang-karang dangkal membuat puger menjadi salah satu lokasi favorit para pemancing di kabupaten Jember, Jawa Timur.

Fahrur Romi berfoto bersama rekan tripnya di Plawangan, Puger

Faktor utama potensi besar di puger yaitu keberadaan karangkarang yang menjulang bahkan hingga melewati permukaan air, dimana ikan-ikan seperti spesies trevally kerap beraktivitas di wilayah tersebut. jika dihitung dari lokasi keberangkatan jukung, jarak menuju spot-spot tersebut cenderung mudah diakses karena hanya berjarak rata-rata 1 jam perjalanan.

Kontur dasar laut yang ekstrem tersebut menciptakan beraneka ragam ekosistem dan wilayah kedalaman air yang kompleks yang menentukan penerapan teknik mancing. Untuk spot dengan kedalaman 2-10 meter misalnya, sangat cocok untuk menerapkan metode mancing popping dan casting. sementara untuk jigging, Puger menawarkan pilihan lain berupa spot dengan kedalaman 50100 meter.

Tenggiri di luat selatan Jawa, salah satunya di Jember memiliki bobot yang besar.

Di Puger, harga sewa satu unit jukung berkapasitas 4 orang pemancing dipatok dengan harga Rp400 ribu. harga ini sangat terjangkau karena seorang pemancing cukup merogoh kocek sebesar Rp100 ribu untuk bisa bertualang mancing di spot-spot potensial seharian penuh. murah bukan?

Minggu di akhir September, trip mancing kami mulai lebih cepat sebelum matahari timbul. di pagi itu, aktivitas warga pesisir puger terlihat lebih ramai dan sibuk dari biasanya. usut punya usut, rupanya hari itu bertepatan dengan kegiatan petik laut, sebuah budaya larung saji oleh masyarakat setempat yang sejak lama menjadi tradisi. agar tidak tersendat karena kegiatan petik laut, jukung yang kami naiki melaju lebih dahulu membawa kami menuju spot.

Karena hari masih pagi, kami memilih untuk mengaplikasikan teknik popping terlebih dahulu menghadap tebing-tebing karang dengan target keluarga trevally. teknik ini diandalkan karena peluang strike-nya lebih besar dibandingkan jigging. jika sedang beruntung, ikan-ikan besar tentu akan didapat karena merasa sangat terganggu apabila wilayah kekuasaannya diusik.

Wilayah di balik selatan pulau Nusabarung yang berada di lautan lepas adalah lokasi idaman bagi pegiat popping. Walau situasinya kadang berbahaya karena faktor cuaca ketika sedang buruk, namun spot ini menyimpan potensi yang besar. agar terhindar dari hal yang merugikan, pemancing diwajibkan untuk menyiapkan beragam aspek keamanan dan memperhatikan kondisi cuaca terkini.

Tidak hanya peranti sedang hingga berat, mancing menggunakan peranti kelas ringan pun nyatanya punya tantangan mengasyikkan di puger. Metode ini dipilih jika popping dan jigging tidak juga mendapatkan hasil. Untuk selingan, dimana mancing dimulai menjelang siang hingga waktu memasuki sore. Usai itu kembali jigging dipilih sebagai metode penutup hari. Tidak ada standar baku kapan waktu yang tepat untuk mancing di perairan selatan Puger. Masing-masing waktu atau musim punya potensi tersendiri. Misalnya pada saat musim penghujan, jika mancing di laut menjadi rumit karena gelombang dan angin yang besar, maka tetap bisa melakukan mancing dari atas tebing (rock fishing) menggunakan teknik dasaran dengan target ikan dapek, kapuran, tembayang. Ikan-ikan karang tersebut cenderung beraktivitas di tepian tebing terutama pada malam hari.

Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesimbangan ekosistem disinyalir menjadi mulai berkurangnya hasil tangkapan saat mancing di puger. Apa lagi faktornya, jika bukan kegiatan over fishing, dimana ikan-ikan muda bukan lagi hal yang benar-benar diperhatikan untuk dilepaskan kembali ke habitatnya.

Mancing menggunakan peranti ultralight menjadi tantangan tersendiri dimana target ikan seperti Kuwe hingga Barakuda di spot sekitar Nusa Barung memiliki bobot yang tak kalah memacu adrenalin.

Ombak Ekstrem
Masih teringat dibenak kita kejadian tenggelamnya kapal nelayan joko berek di Pantai Plawangan Puger. Pertengahan juli lalu akibat cuaca buruk yang melanda beberapa wilayah di Indonesia setahun belakangan ini. Dalam sebuah video singkat yang viral di media sosial memperlihatkan kapal tersebut ‘gagal’ menerjang ombak untuk kembali ke darat usai berlayar beberapa hari. Di mata masyarakat sekitar, pantai plawangan terkenal menjadi lokasi mematikan karena ombaknya yang ganas. Dikutip dari kaskus.co.id, pemecah ombak (breakwater) yang dibangun di dekat pantai itu yang jadi gerbang keluar masuk nelayan dituding tidak efektif dan justru membahayakan nelayan, karena membuat ombak jadi mengarah ke wilayah plawangan.

“sebelum dibangun breakwater jarang terjadi perahu karam, karena ombaknya melebar dan kecil. tapi sejak ada breakwater hampir setiap hari ada perahu karam,” ujar H. Atim, nelayan sekitar dikutip dari kaskus. Dalam sehari, dipastikan ada perahu nelayan yang mengalami kecelakaan di tempat tersebut.

Imam hambali, ketua Forum komunikasi nelayan puger juga menyebutkan lebih lanjut bahwa sepanjang mei 2015, sebanyak 70 perahu nelayan karam diterjang ombak di plawangan. Hal ini menjadi peringatan bagi siapapun yang ingin melakukan aktivitas di laut, baik nelayan maupun mancing untuk tidak mengabaikan keselamatan.

Tidak semua pemilik jukung di puger memiliki pengetahuan mengenai lokasi-lokasi mancing potensial, sehingga hanya 10-15 orang saja yang berpengalaman dalam mengantar wisatawan mancing dengan jukungnya. Tantangannya tentu lebih berat, selain harus mengetahui spot, pemandu mancing juga harus tahu info kondisi cuaca terkini agar langkah tepat bisa diambil kala cuaca buruk menghantui trip mancing. – Fahrur Romi