Eksplorasi Geluh Pasir Bahari

Eksplorasi Geluh Pasir Bahari

Satu hal yang terpintas dalam benak pemancing kala mendengar kata Sea Mount Reef (SMR) Ialah lokasi mancing dengan hasil yang menjanjikan. Giant Trevally (GT), Keluarga Tuna hingga ikan -ikan berbobot ekstra nan agresif seolah menunggu untuk dipancing. Hal ini terus menarik minat para pemancing dari berbagai wilayah di sudut nusantara untuk membuktikan sensasi tarikan ikan-ikan predator laut lepas. Sudah sekian lama disambangi, lalu mengapa seolah ikan disana tak pernah habis?

Kontur dasar perairan Lampung bagian selatan ibarat arena tarung terbaik bagi pegiat mancing. Disekitar kawasan teluk itu, potensi bahari bak harta karun tertimbun nan meruah yang membentuk rantai makanan terbesar, yang siap kapan pun untuk dieksplorasi.

Begitu menjanjikannya potensi di sana, beberapa operator jasa penyewaan kapal pancing semisal Berdikari nampaknya tak kenal bosan dan sudah khatam wilayah mana saja di sana yang siap untuk didatangi. Dengan dua kapal pancing andalannya (KM Berdikari 8 dan 9), setiap minggunya, bahkan dua kesempatan dalam 7 hari dalam satu dasawarsa terakhir, laporan mengenai hasil terbaik selalu disampaikan kepada publik.

Masih Jadi Primadona
Iman Sulaiman yang bertindak sebagai pemandu (guide) trip mancing kami menuturkan, dari tahun ketahun, antusias pemancing untuk mengunjungi laut Lampung Selatan tak pernah padam. Meski sering dieksplorasi oleh para pegiat mancing seantero negeri, laut Lampung Selatan yang berkontur dasar karang-karang dangkal hingga palung laut nan curam membentuk habitat terbaik biota laut.

Ucok, Pemancing asal Cirebon berhasil menaklukan GT saat menjelajah spot Gosong Pasir, di penjuru Ambang Samudera Hindia.

Kesempatan mancing menggunakan KM Berdikari 9 bersama pemancing dari Jakarta, Banten, Bandung dan Cirebon di spot Gosong Pasir pada Selasa (10/4) pukul 15:00 WIB benarbenar kami manfaatkan. Spot ini berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari spot SMR yang notabenenya menjadi simbol tujuan mancing kala menjelajah laut wilayah Lampung Selatan.

Belum sampai 10 menit mancing di Gs. Pasir, beberapa pemancing yang merupakan para pemenang undian mancing gratis yang diadakan oleh Aneka Raya Pancing sudah merasakan sensasi tarikan ikan dari bawah laut.

Adalah ikan Kuniran yang menjadi target pertama yang mendarat di atas kapal. Tak mau kalah, disusul kemudian sambaran Wakung dan Kurisi yang didapatkan oleh sebagian besar peserta. Sesi pembuka trip mancing yang cukup menggugah semangat peserta untuk terus memainkan peranti membidik buruan.

Lilik yang menjadi bagian dari saksi sejarah kemahsyuran spot di sekitar SMR sebagai ladang berkumpulnya para predator dasar laut.

Sumber daya Tak Pernah Habis
Dalam catatan beberapa trip mancing, spot SMR memang seakan sudah menjadi salah satu lumbung mancing di Indonesia bagian barat. Potensi itu juga ada karena selat Sunda menjadi jembatan bagi koloni ikan yang ingin bermigrasi dari laut Jawa ke Samudera Hindia maupun sebaliknya. Belum lagi keberadaan gunung bawah laut aktif yang berdiri kokoh di dasar perairan Selat Sunda seakan menjadi tempat pemberhentian favorit bagi koloni ikan yang tengah bermigrasi.

Berbagai kelompok ikan ini lebih cenderung hijrah ke perairan yang lebih hangat seperti di Lampung Selatan untuk mencari makan. Praktis, ekosistem spot SMR menghadirkan berbagai jenis ikan yang melengkapi siklus rantai makanan di bawah laut. Potensi inilah yang masih menjadi magnet utama bagi pemancing untuk terus merasakan sensasi tarikan ikanikan predator bawah laut SMR.

Kami terus bersemangat untuk terus menjajal setiap sudut spot Gosong Pasir dengan mem-variasikan teknik mancing dengan kotrek, cast jig dan juga jigging. Hasilnya? tangkapan pemancing kian efektif berkat teknik kotrek yang bisa meraup dua strike sekali tarik. Kemudian jenis tangkapan juga mulai berbagam dengan naiknya spesies Kuwe seperti; Kuwe Lilin, Kuwe Cepa dan Kuwe Kepi.

Bahkan intensitas pesta GT ini terus berlanjut pada waktu malam di hari kedua trip kami. Richard, Atong, Budi, Pendi, dan Lilik terjaga di sepanjang malam karena sibuk meladeni perlawanan GT dan kuwe Mata Belo. Dengan teknik slow jig, spesies Trevally ini banyak yang berhasil diangkat ke atas geladak kapal. Yang paling besar pada hari terakhir, GT berukuran 17 kg mendarat dengan sempurna di pelukan Lilik setelah strike selama 20 menit lebih.

Lumayan menegangkan. Tidak hanya Trevally, sepanjang tiga hari pengembaraan kami mengeksplorasi geluh pasir bahari di selatan Lampung, tak sedikit predator bawah air lain yang berhasil didaratkan. Seperti; Kerapu Macan ukuran monster yang ditaklukan oleh Richard, dan Barakuda berbobot 20 kg lebih yang sukses didaratkan oleh Benny. Memang hasil ini bisa dibilang tidak terlalu istimewa, namun tidak juga bisa disebut buruk. Memang kondisi Oseanografi laut Lampung Selatan tak melulu mendulang hasil ikan yang melimpah.

Hal serupa jugad dialami oleh Atong yang menjadi bagian dari saksi sejarah kemahsyuran spot di sekitar SMR sebagai ladang berkumpulnya para predator dasar laut.

Ancaman Over Fishing
Meski begitu, Iman melanjutkan pembicaraanya, ancaman over fishing dan over exploitation di spot SMR sudah mulai dalam tahap mengkhawatirkan. Efek domino dari berkah surga bawah laut SMR di satu sisi juga membawa banyak pihak untuk terus mengeksploitasi ekosistem tanpa jera. Kondisi ini bila terus dibiarkan dapat berakibat menurunnya nilai ekologi laut SMR; mulai dari menyusutnya hasil tangkapan maupun ukuran bobot ikan, hingga yang paling fatal adalah rusaknya ekosistem bawah laut karena hilangnya keseimbangan alam.

“SMR memang sudah masuk dalam kategori over fishing dan sudah berkurang potensi ikannya. Jadi bila pemancing yang mengadakan trip mancing ke Lampung, sudah langsung ke spot lain seperti; Gosong Pasir, Gosong Sendal dan sebagainya,” ujar Iman. Memang pada trip kami kali ini, spot SMR hanya menjadi jalur yang kami lalui saja untuk menuju spot pertama di Gosong Pasir– Heksa Ragil Pamungkas

Chat