Berburu Penghuni Pulau Dapur dan Karang Kroya

Trip kali ini SM memenuhi undangan seorang rekan, Bukhori, dari toko pancing di kawasan Gunung Sahari untuk meliput trip pada 21 September lalu. Kegiatan yang direncanakan sudah sejak lama ini berawal dari obrolan ringan antara Ensen dan Bukhori yang merindukan tarikan tenggiri. Singkat cerita, tercapailah kata sepakat. Bukhori selaku kordinator trip menjalankan tugasnya dengan mengontak pemancing-pemancing lain untuk ikut serta. Dalam waktu singkat banyak yang minat untuk bergabung, peserta trip pun lengkap.

Keberangkatan
Beberapa jam sebelum keberangkatan, Bukhori via BBM membroadcast “Malam angler, maaf menggangu waktunya. Untuk nanti malam trip berkumpul di tempat biasa pukul 02.30 WIB”. Begitu kira-kira bunyi pesannya.

Waktu yang ditentukan akhirnya tiba, satu persatu peserta berdatangan. Tepat pukul 03.00 pagi, rombongan berangkat ke Tanjung Pasir dengan menggunakan 3 mobil menuju lokasi keberangkatan. Perjalanan dari Gunung Sahari menuju Tanjung Pasir memakan waktu hampir satu setengah jam, rombongan tiba di Dermaga TPI Tanjung Pasir pukul 04.30 sesaat sebelum subuh. Setibanya di sana, rombongan disambut oleh ABK yang sudah siap membantu membawakan barang-barang bawaan ke kapal. Sementara itu sambil menuju ke kapal, sebagian rombongan menyempatkan untuk meminum obat anti mabuk.

Pembagian tim
Rombongan dikelompokkan menjadi dua tim, yaitu tim 1 terdiri dari Bukhori, Ensen, Muhidin, Aldi dan Reno menggunakan KM. Tandjidor 2 dengan kapten Rubi. Tim 2 yaitu Kadir, Kory, Lita dan Wahyu menggunakan KM. Safiq dengan kapten Suta. Dengan sigapnya kapten Suta langsung memberangkatkan kapalnya menuju laut bersama tim 2, sementara tim 1 terlihat santai dan memilih untuk sarapan dahulu.

Tim 1
Sekitar pukul 04.50 tim 1 akhirnya bergerak menuju laut dan memulai perburuan target ikan tengiri. Kapten Rubi membawa tim 1 ke spot pertama yaitu Pulau Dapur untuk mencari umpan yang akan digunakan untuk berburu tenggiri.

Setibanya di Pulau Dapur, rombongan dibantu oleh ABK bekerjasama mengotrek ikan yang akan dipakai sebagai umpan. Sekitar pukul 08.30, umpan yang didapat sudah dirasa cukup untuk menggoda tenggiri menyambar kail. Tanpa terasa, hari sudah terlampau siang, rencana ke spot Pulau Pari terpaksa dibatalkan, kemudian tim 1 meminta kapten Rubi untuk mengarahkan kapalnya ke Karang Kroya.

Karang Kroya
Setibanya di sana, Reno dan Ensen memulai mancing dengan teknik dasaran menggunakan umpan udang dan irisan cumi. Berbeda dengan Muhidin, Bukhori dan Aldi memilih mancing ngoncer dengan umpan ikan kembung. Hampir satu jam menanti belum ada satu pun umpan yang disambar, penantian itupun usai ditandai dengan berderitnya ril milik Muhidin, perburuan dimulai.

“Strike!” sontak Muhidin. Raut gembira nampak dari wajahnya sambil berusaha menaikkan ikan pancingannya dengan hati-hati agar tidak mocel. “Lumayan strike perdana”, kata Muhidin. Ikan tenggiri dengan ukuran 1 kiloan berhasil didaratkan. Suasana hening menghinggapi kami, belum ada juga yang berhasil strike sejak Muhidin menaikkan ikan tenggiri perdana.

Makan siang
Keheningan lenyap ketika ABK mulai sibuk mempersiapkan makan siang. Tak berselang lama, makan siang pun dihidangkan dengan menu ikan goreng bumbu kecap. “Istirahat pak, kita makan siang dulu”, seru salah seorang ABK. Aldi, Reno, Bukhori, Ensen dan Muhidin mulai merapat ke tengah dan menyantap makan siang yang disediakan.

Pukul satu siang perburuan dimulai kembali, seisi kapal tampak mulai semangat lagi. Ensen yang memang sejak awal menantikan sambaran tenggiri akhirnya kesampaian fight dengan ikan yang diidam-idamkan. Aldi juga tidak mau kalah, berbarengan dengan Ensen, umpan Aldi dihajar tenggiri, double strike. Dengan semangat, Ensen berhasil mendaratkan tenggiri terlebih dulu, tak berapa lama disusul oleh Aldi. Dengan dibantu oleh ABK, ikan tenggiri ukuran 4 kiloan sukses dinaikkan ke atas kapal.

Titik lain
Cukup lama tim berada di perairan Karang Kroya, kapten Rubi berinisiatif membawa kapal ke titik lain di sekitaran Karang Kroya. Mancing dengan teknik ngoncer, ngotrek dan dasaran semuanya dilakukan. Reno yang sejak tadi setia menggunakan teknik dasaran, akhirnya berhasil menancapkan kailnya di mulut ikan kerapu lodi dengan ukuran lumayan besar. Beberapa menit berselang joran Reno mengayun-ayun kembali. Kesabarannya berbuah manis, umpannya disambar oleh kerapu ”Wah, masih kerapu lodi ternyata”, kata Reno yang nampak puas setelah berhasil menangkan fight.

Masih di spot yang sama, Bukhori yang cukup lama menanti strike akhirnya merasakan juga tarikan penghuni Karang Kroya. Kali ini ia berhasil mendapatkan baby GT, disusul dengan Muhidin yang juga sukses menaikkan baby GT dengan ukuran yang tidak jauh berbeda.

Frekuensi tangkapan menurun, kapten berinisiatif menggeser kapal ke arah lain. Cukup lumayan, beberapa tambahan ikan berhasil dinaikkan seperti kakap merah hasil mancing dasaran, kuniran, cendro dan beberapa ikan kembung hasil ngotrek. Sore menjelang malam ombak meninggi, langit perlahan mendung, tim meminta kapten kapal untuk menutup trip dan kembali ke darat, kapten pun mengiyakan.

Mancing di Laut
Foto bersama tim dengan ikan hasil tangkapannya.

Tim 2
Kembali ke awal cerita, tim 2 yang diisi oleh Kadir, Lita, Kory dan Wahyu berangkat lebih dulu dengan KM. Safiq setelah bongkar muat barang sekitar pukul 04.40.

Tiba di atas kapal, Lita, seorang lady angler yang terlihat paling komplit persiapannya untuk trip mancing kali ini menawarkan roti bungkus kepada lain. “Aku bawa roti nih, lumayan buat isi perut”, kata Lita sambil memberikan satu persatu kepada Kadir, Kory dan Wahyu.

Menuju spot
Perjalanan menuju spot masih jauh, untuk menyimpan energi, semua beristirahat sejenak. Lita dan Kory tidur di bagian tengah kapal, dekat dengan kemudi, Kadir dan Wahyu di bagian belakang kapal. Kondisi air laut pagi itu cukup tenang dan cuaca sangat cerah, momen yang indah untuk mancing.

Rombongan tertidur pulas sampai salah seorang ABK, Memet, menawarkan bantuan untuk menyiapkan peralatan mancing yang akan digunakan oleh tim ini. “Peralatan pancingnya dimana ya? Mari saya siapkan”, ujarnya menawarkan bantuannya.

Tak lama kemudian, berkat bantuan Memet, peralatan pancing milik Kory, Lita dan Kadir telah siap digunakan untuk menghajar ikan dengan teknik mancing dasaran. Tidak halnya dengan Wahyu yang lebih memilih untuk mancing dengan cara ngotrek menggunakan rangkaian yang dibawanya sendiri dari rumah. ”Joran yang satu itu tidak usah di setting mancing dasaran pak, saya mau coba ngotrek dulu”, kata Wahyu kepada Memet. Sambil menikmati kopi hitam, Kadir dan Wahyu tertuju pandangannya ke arah Memet yang sedang membuat rangkaian pancing dasaran.

Ngotrek Seharian
Kapal akhirnya berhenti di Pulau Dapur sekitar pukul 06.10, ABK melempar sauh, Kadir dan Wahyu memilih tempat di bagian belakang kapal, Lita mengambil bagian kanan kapal sedangkan Kory di bagian kiri. Umpan udang dan irisan cumi sudah disiapkan oleh ABK untuk mancing dasaran. Memet memasang umpan irisan cumi di mata kail yang satu, sedangkan satu kail lagi diisi dengan udang. Perburuan penghuni Pulau Dapur, dimulai.

Setelah beberapa saat, Akhirnya Kadir mengawali strike tim ini dengan hasil yang didapat ialah ikan kerapu ukuran sedang. “Strike!” sorak Kadir. Mengambil posisi di bagian belakang kapal, Kadir berusaha menaikkan ikan dengan hati-hati. Tak lama kemudian ikan terlihat di permukaan, “Ikan kerapu tuh mas”, sahut ABK sambil meraih benang pancing milik Kadir. Raut wajah gembira nampak dari senyuman Kadir yang berhasil mendaratkan ikan kerapu sekaligus ikan pertama yang di dapat oleh tim ini.

Kory dan Lita masih terus berusaha mendapatkan strike pertama, sedangkan Wahyu yang mancing dengan cara ngotrek masih belum juga mendapatkan ikan. Kejutan datang dari Kadir lagi yang tiba-tiba menggentak jorannya dengan keras, perhatian sejenak tertuju kepadanya. “Strike lagi mas? ada ikannya ngga?”, tanya Wahyu yang duduk bersebelahan dengan Kadir. “Kayanya ada nih, lumayan agak berat soalnya” jawab Kadir. Yap, betul saja, ternyata lagi-lagi ikan kerapu yang menyambar umpan miliknya. Sudah dua ikan kerapu berhasil didaratkan Kadir dalam waktu yang singkat.

Dari dua strike yang berhasil didapatkan oleh Kadir ternyata umpan udanglah yang berhasil menggoda ikan-ikan di spot ini. Hal tersebut yang membuat Lita meminta Memet untuk mengganti umpan dengan udang hidup semuanya. Dan hasilnya, tanpa menunggu lama umpan Lita langsung disambar oleh ikan. Strike on. “Langsung dimakan tuh udangnya”, kata Lita sambil berhati-hati menaikkan ikan. Ikan tompel ukuran sedang berhasil didaratkan oleh Lita.

Kory yang ada di posisi sebelah kiri kapal tidak mau ketinggalan juga, lagi-lagi ikan tompel yang menjadi korban. Terlihat mudah sekali Kory menaikkan ikan tompel itu, tidak butuh waktu lama ikan tompel berukuran sedang mendarat di atas kapal. Sedangkan Wahyu yang masih bertahan dengan mancing ngotreknya belum juga mendapatkan ikan.

Titik berikutnya
Kapten menggeser kapal ke titik berikutnya yang masih disekitar perairan Pulau Dapur pada pukul 10 siang. Kali ini anggota tim bertukar tempat, Lita yang berada disebelah kanan kini posisinya diisi oleh Kory. Lita sendiri menempati bagian belakang kapal menggantikan Wahyu yang kini berada di bagian kiri bersebelahan dengan Kory.

Hasil Melimpah
Di titik yang baru ini, Wahyu memetik hasil dari buah kesabarannya mancing dengan cara ngotrek, berkali-kali dia berhasil menaikkan ikan kuniran, tompel dan ikan kembung. Bahkan tidak jarang kotrekannya mendapatkan dua ekor ikan sekaligus. Lita, Kory dan Kadir yang pada awalnya menggunakan teknik mancing dasaran akhirnya tergoda mancing dengan cara ngotrek. “Bu Lita kita ngotrek aja yuk”, ajak Kory kepada Lita yang masih mancing dasaran.

Memet dengan sigap mengganti rangkaian yang dipakai oleh Kadir, Kory dan Lita dengan rangkaian kotrekan yang sudah disiapkan. Betul saja, mereka silih berganti menaikkan ikan. Alhasil dalam waktu singkat, ikan tompel, kuniran, kembung dan tenggek berhasil dikumpulkan oleh mereka berempat. Sekitar satu jam berada di spot ini, Lita meminta kapten untuk kembali mencari spot baru, karena frekuensi makan ikan menurun. Sementara kapten membawa kapal mencari spot baru, tim beristirahat. Kadir dan Wahyu memilih untuk tidur sebentar, sedangkan Kory dan Lita mengobrol ringan di bagian samping kapal. Tidak beberapa lama, ABK datang membawa makan siang dengan menu ikan goreng hasil mancing tadi. “Makan siang dulu ayo, kalau ikannya ngga makan, biar orangnya aja yang makan dulu”, candanya.

Setelah makan siang, sekitar pukul 1 siang semua kembali mancing. Lita dan Kadir mencoba lagi mancing dasaran dengan umpan cumi yang masih tersisa. Sedangkan Kory dan Wahyu masih mancing dengan cara ngotrek. ABK mencoba membantu Wahyu untuk mancing dengan teknik ngoncer menggunakan umpan ikan kembung yang masih hidup, berharap ada tenggiri malang yang tersangkut dikail milik Wahyu. Berkali-kali mengganti ikan untuk umpan ngoncer, hasilnya nihil. Sedangkan Kory yang mancing dengan ngotrek tampak asik terus menaikkan ikan.

Begitu juga dengan Lita dan Kadir, beberapa ikan tompel kembali mereka dapatkan dengan ukuran yang bervariasi dimulai dari ukuran telapak tangan orang dewasa hingga dua kali lipatnya.

Hari mulai sore, setelah beberapa kali pindah spot hasil yang didapat masih sama, bertambah sedikit saja. Akhirnya pukul 4 sore tim memutuskan untuk kembali ke darat. “Kita balik ke darat sekarang ya, udah mendung juga nih”, kata Kory kepada yang lainnya. Kapten akhirnya membawa rombongan menuju ke darat, perjalanan menuju dermaga memakan waktu hampir satu jam setengah.

Pukul 17.40 kapal merapat ke dermaga. Tim 1 menjadi tim yang pertama menginjakkan kaki di darat. Pukul 18.00 rombongan masuk mobil, pulang menuju base awal dan tiba disana pukul 19.30. Setelah beristirahat sebentar, akhirnya mereka kembali ke rumah masing-masing

Hasil yang didapat tim 2 berbeda dengan tim 1, tenggiri yang menjadi target utama tidak kunjung mampir ke KM. Safiq. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi masalah karena bagi Lita, Kadir, Wahyu dan Kory yang terpenting adalah kebersamaan dan pengalaman yang didapat jauh lebih berharga. – Sopiyan

Sopiyan

Editor