Arus Kuat Zona Perbatasan

Waktu menunjukkan pukul 23.00 WITA, kapal motor Kumala tiba di spot Pulau Rusa usai berlayar selama 7 jam dari dermaga Dulionong, Kalabahhi Alor. Dengan suara lantang, salah satu pemancing berteriak “Strike-strike“. Metaljig ukuran 600 gram ternyata disambar predator bawah laut hingga tarik menarik pun terjadi begitu keras. Pakde Joko.

Pelabuhan Dulionong, kota Kalabah, Alor yang menjadi lokasi bersandarnya KM Kumala

Sementara itu tengah malam di perairan Pulau Rusa, arus laut mengalir deras sekali. Hal tersebut diketahui ketika jangkar diturunkan di spot pertama dan metaljig terhanyut kencang terbawa arus. Tenaga ekstra sepertinya harus benar-benar dikeluarkan karena metaljig dengan ukuran lebih besar tentu jadi pilihan agar mendapatkan action vertikal maksimal.

Laut dengan kedalaman 130 meter menjadi arena pertama untuk melepaskan metaljig ukuran 600 gram. Menurut info dari kapten kapal, spot ini mayoritas dihuni oleh keluarga Etelis Carbunculus atau yang sering dikenal Ruby Snapper. Ikan petarung yang memancarkan rona merah pada tubuhnya itu adalah salah satu target pancing favorit para pemancing di sana.

Kebetulan saya mengawali strike kali itu. Beberapa kali metaljig dimainkan, sambaran akhirnya dirasakan. Malam yang tadinya hening mendadak riuh usai seekor Ruby Snapper sukses saya naikkan ke atas KM Kumala. Sebagian rekan pemancing yang tadinya sedang beristirahat pun tergugah hatinya dan mengambil peranti mereka masing-masing untuk mencoba peruntungan agar juga bisa strike.

Ikan cantik si Ruby Snapper yang berhasil dinaikkan ke atas kapal oleh Pakde Joko

Jessica, satu-satunya pemancing perempuan pada trip kali ini pun tak mau kalah dan membuktikan bahwa seorang perempuan juga bisa memancing. Dengan yakin, usaha yang dilakukannya berjalan mulus ketika dirinya memenangkan pertarungan dengan ikan. Seekor Ruby Snapper nampaknya jadi perolehan kedua yang didapatkan pada trip kali ini.

Berganti tujuan untuk target Tuna Gigi Anjing (Dogtooth Tuna), kami mencoba sedikit mengganti umpan lebih kecil (metaljig 100 gram) dipadukan kail bermata tiga pada bagian bawahnya (treble hook) dan memvariasikan teknik dengan menarik jig secara horizontal (cast jig). Cast jig dipilih mengingat dogtooth lebih berpeluang menyambar jig di tengah air.

Malam itu rasanya tenaga hampir habis karena diforsir untuk meladeni perlawanan kawanan Dogtooth Tuna. Langkah untuk mencoba cast jig rupanya membuahkan hasil. Asrol membuka pembuktian usai sukses menaikkan Dogtooth Tuna kemudian disusul Alex. Pesta strike ini berlangsung hingga malam berganti pagi dan dirasakan oleh seluruh peserta trip.

Pagi yang syahdu di Kepulauan Alor menyegarkan kembali tubuh kami yang sempat lesu. Sarapan di atas kapal nampaknya merupakan pilihan terbaik agar mancing di siang hari jadi lebih bertenaga. Saat siang, kami kembali mengaplikasikan teknik jigging namun tanpa melepas jangkar kapal (drifting) agar pergerakan kapal lebih cepat saat harus berpindah tempat.

Saat drifting, kapten kapal harus memperhatikan kondisi arus secara jeli agar umpan bisa jatuh tepat di titik keberadaan ikan secara horizontal. Metal jig ukuran 600 gram yang ditarik secara perlahan (slowpitch jigging) dipilih mengingat arus tak juga kunjung reda. Dengan metode ini, saya pun sukses menaikkan seekor Amberjack yang langsung diolah menjadi hidangan ala sashimi. Seperti diketahui, Amberjack (Seriola Dumerili) merupakan ikan keluarga carangidae yang memiliki tekstur daging lembut dan cocok untuk sashimi.

Perairan Alor, Nusa Tenggara Timur merupakan kawasan biogeografis Wallace yang mencakup sekelompok pulau-pulau dan kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah. Kawasan tersebut terpisah dari paparan benua Asia (Sunda) dan Indo-Australia (Sahul) oleh selat-selat yang dalam. Selat-selat yang dalam itu membentuk ekosistem fauna di dalamnya yang potensial dan dihuni beragam ikan-ikan predator idaman pemancing seperti keluarga tuna, Amberjack hingga Eskolar.

Dogtooth Tuna yang berhasil pula dinaikkan dengan teknik Slowpitch Jigging

Sebagai operator penyedia jasa kapal mancing, pengelola KM Kumala memiliki beberapa titik (spot) mancing andalan yang ‘disajikan’ bagi para pemancing. Seluruh spot tersebut dirahasiakan koordinatnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, salah satunya perusakan ekosistem laut oleh oknum yang tidak bertanggung-jawab.

Mulanya pada trip kali ini, kami menargetkan Tuna Sirip Kuning (Yellowfini Tuna) bisa didapatkan. Namun apa daya kondisi laut dan keberuntungan belum berpihak walau berbagai usaha sudah dilakukan. Perairan Alor menjadi salah satu daerah jalur migrasi tuna dari Samudera Hindia ke perairan hangat Pasifik.

Hari kedua menjelang malam kapal berputar arah, arus dan gelombang semakin kuat menerpa kami di lautan. Arus memang kencang, namun mancing tetap dilakukan. Untuk mengantisipasinya, saya berinisiatif menggunakan metaljig ukuran 800 gram tapi masih terbawa arus. Akhirnya metaljig ukuran jumbo berbobot 1200 gram terpaksa dikeluarkan dari persembunyiannya dan diturunkan ke dasar laut.

Teknik slowpitch jigging berpadu dengan peranti overhead jadi teknik pilihan ketika menggunakan umpan ukuran besar seperti ini. Selain mendapatkan action yang maksimal, tingginya rasio ril membuat pengaplikasian slowpitch dengan umpan besar jadi lebih efisien.

Trip Singkat cerita metal jig besar itu mendarat di dasar laut. Belum lama digulung ke atas, sambaran terasa kuat sekali. Kuda-kuda kuat coba saya lakukan agar tetap seimbang. Namun belum sempat menyentuh permukaan, perlawanan ikan tibatiba berakhir, dimana rupanya split ring pada rangkaian pancing hancur menahan agresifitas ikan dari dalam 120 meter. Sayang sekali.

Sampai akhirnya arus tercatat mengalir berkecepatan 5 knot pada siang hari nan terik di hari terakhir trip. Sementara kami menyudahi kegiatan mancing, kembali menuju darat, dan mendapat kabar duka dari Palu. Gempa disertai tsunami meluluhlantakan kehidupan saudara-saudara kita di sana. Duka dan doa terdalam kami panjatkan agar jiwa kuat selalu dilimpahkan Tuhan kepada mereka yang tertimpa musibah. – Pakde Joko