Tantang Perairan Tiang Pancang

Di atas perahu di perairan dermaga PLTU Batang, Jawa Tengah, sensasi tarikan ikan-ikan laut dangkal terasa dari peranti ukuran ringan. Adrenalin bertambah karena tiang-tiang pancang dermaga mengancam senar putus Jika perlawanan tak buru-buru dimenangkan. Belum lagi jika alun laut timbul dan mengayun bahtera.

Pembangunan PLTU Batang yang belum sepenuhnya rampung dimanfaatkan para pemancing di bibir utara Batang dan sekitarnya untuk melakukan kegiatan mancing, khususnya menggunakan peranti ringan. Tiang-tiang pancang baik di bagian timur dan barat dermaga tersebut memang menjadi ‘habitat baru’ pelagis dan kakap.

Lokasi pembangunan PLTU Batang yang menjadi spot mancing trip kali ini.

Untuk bisa menuju wilayah perairan PLTU Batang, pemancing bisa
memulai petualangan mereka menggunakan perahu nelayan. Ada tiga titik keberangkatan yang mahsyur digunakan pemancing, muara Ujungnegoro dari sisi barat, serta muara Kali Sambong Batang dan muara Roban di sisi timur dermaga. Untuk dermaga terakhir, pemancing akan lebih dimanjakan dengan fasilitas perahu yang sudah menggunakan mesin tempel dan alat sistem navigasi berbasis satelit (GPS) dengan variasi harga antara 200-350 ribu rupiah.

Sebelum matahari bergerak naik lebih ke atas, sebaiknya kegiatan mancing sudah dilakukan agar tidak kehilangan momentum agresifitas ikan. Jangan sampai keadaan menyudahi kegiatan mancing anda lebih cepat, saat ikan sedang datang agresifitasnya karena angin dan ombak yang membahayakan perahu sudah keburu kencang.

Peranti kelas ringan ukuran 2-6 lbs (ultralight) dipadu dengan umpan artifisial micro jig 10-30 gram adalah senjata andalan yang kami gunakan. Sambil perahu di-drifting mengelilingi PLTU, micro jig dilempar ke sela-sela tiang dan kemudian ditarik dengan metode cast jig atau slow jig. Melemparnya pun harus hati-hati, joran UL yang lentur lumayan menyulitkan lure terlontar. Untuk itu pada saat melempar usahakan hanya pergelangan tangan yang mengayun.

Risqon pemancing asal Batang, Jawa Tengah yang menjadi pemandu trip kali ini.

Risqon, pemancing asal Batang yang memandu trip kami menyarankan penggunaan micro jig dengan tambahan bulu halus berkilau pada assist hook-nya. Upaya ini dilakukan mengingat karakteristik ikan-ikan di sana yang menyukai warna umpan cerah agar menarik perhatian. Jika arus sedang kencang namun tidak ada ombak, Risqon menjelaskan teknik yang dipakai yaitu cast jig karena ikan-ikan lebih banyak berada di antara kedalaman 1-2 meter dari permukaan air.

Sementara jika kondisi ombak sedang kencang, umpan harus lebih diarahkan ke dasar laut yang berlumpur itu lalu diretrieve perlahan (slow jigging). Untuk lure yang digunakan, Risqon mengatakan dirinya sengaja membuat sendiri metal jig tersebut menggunakan timah yang dicetak sesuai kebutuhan. Sesuai karakteristik ikan-ikan di PLTU Batang itu, metal jig berbentuk elips lebih digemari karena pergerakannya yang menggugah.

“Ikan-ikan di sini (PLTU Batang) bervariasi, seperti Kerong-kerong, Jenaha, Kakap Putih, serta jenis pelagis; Talang-talang, Golden Trevally dan Kuwe Ebe,” jelas Risqon. Mayoritas ikan-ikan tersebut lebih banyak ditemukan di antara pola-pola lurus tiang-tiang pancang. Untuk mengantisipasi agar ikan tidak mudah membawa kabur umpan saat strike, pemancing harus mengatur kencang pengaturan drag pada ril.

Ikan Kerong-kerong atau juga disebut Gerik menjadi hasil pancing mayoritas yang didapat di spot berkontur dasar lumpur berpasir selain juga Talang-talang (Queenfish).

Sejak pagi hingga melewati siang, kami terus menyasar tiap-tiap sudut tiang pancang guna menggugah keberadaan ikan. Hingga menjelang sore, angin dan ombak ombak kencang mengusir kami perlahan untuk menyudahi kegiatan mancing dan kembali ke darat.

Ketika pembangkit listrik tenaga uap ini mulai dibangun sejak 2016 lalu, pelan-pelan Batang memiliki spot potensial baru. Seperti yang sudah diceritakan di atas bahwa penanaman tiang pancang sebagai penyangga dermaga menjadi habitat baru ikan-ikan. Jika berdasarkan Komite Percepatan Penyediaan Insfrastruktur Prioritas, mega proyek ini akan segera dioperasikan 2020 mendatang.

Jika sudah aktif, kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara untuk keperluan bahan bakar pembangkit listrik akan lebih sering berlalu lalang di dermaga. Itu artinya, pihak pengelola akan melarang segala macam aktifitas masyarakat di sana, salah satunya mancing. Apakah masih ada sela untuk pemancing bisa tetap merasakan adrenalinnya terpacu mancing di sana ketika PLTU sudah aktif? Semoga masih ada.  – Rico Prasetio