Setu Babakan Masih jadi Lokasi Favorit Warga Ngabuburit Sambil Mancing

Jakarta, SAHABATMANCING.COM – Banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu menunggu datangnya waktu berbuka puasa di bulan ramadhan, salah satunya memancing. Dari banyak tempat, Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan masih menjadi lokasi favorit masyarakat untuk “ngabuburit” sambil mancing.

Seorang remaja asal Jagakarsa memamerkan ikan gabus bloso (betutu) hasil pancingnya di aliran pintu air Setu Babakan, Jakarta Selatan, Minggu (19/5). Tidak hanya orang dewasa, kegiatan mancing untuk mengisi waktu ngabuburit ini juga dilakukan oleh remaja dan anak-anak. SAHABATMANCING.com/Rico Prasetio

Kegiatan mancing seolah sudah menjadi tradisi yang kerap dilakukan masyarakat di Setu Babakan, terlebih pada bulan ramadhan. Sadi (49) warga yang tinggal di Jagakarsa, Jakarta Selatan ini mengaku bahwa setiap bulan puasa dirinya kerap mancing di Setu Babakan untuk menghabiskan waktu menunggu datangnya waktu berbuka.

“Terlebih pada saat hari libur, biasanya saya datang dari selepas zuhur hingga menjelang maghrib. Namun ikan-ikan di sini biasanya akan lebih mudah didapatkan pada pagi hari, antara jam 6-10 WIB,” jelas Sadi.

Hal senada juga disampaikan Ashar. Menurutnya, selain menawarkan potensi mancing, Setu Babakan juga menyajikan kesejukan dan kemudahan akses untuk menjangkau lokasi. Ia menambahkan bahwa semua orang dari berbagai kalangan bisa dengan bebas melakukan kegiatan mancing di sana.

“Kondisi Setu Babakan saat ini sudah lebih bagus dibandingkan dahulu. Semua sudah tertata rapi dan bersih. Kondisi perairannya juga sangat dijaga oleh pengelola,” tegas pria asal Pancoran, Jakarta Selatan tersebut.

Ngabuburit dengan melakukan kegiatan mancing juga bisa dilakukan bersama keluarga, salah satunya Ibam, juga warga Pancoran, Jakarta Selatan yang mengajak serta anak laki-lakinya. Menurutnya, ia datang ke Setu Babakan atas ajakan dari sang anak yang juga gemar memancing.

“Setu Babakan ini lokasinya memang asyik untuk mancing dan ngabuburit, karena kita bisa mancing secara gratis,” ucap Ibam. Ia mengaku ikan-ikan hasil pancingnya tersebut yaitu mujair dan bloso rencananya akan kembali dilepaskan ke kolam pribadinya di rumah.

Berdasarkan laporan dari beberapa pemancing di Setu Babakan, danau seluas 30 Ha yang menjadi pusat kebudayaan Betawi tersebut memiliki potensi ikan mulai dari mujair, nila, lele, bloso (betutu), patin serta ikan mas.

Ramainya warga yang memancing di Setu Babakan juga membawa berkah bagi Gopal (40) yang menjajakan kebutuhan mancing di sekitar danau. Pria asal Depok, Jawa Barat itu menjajakan beragam kebutuhan, mulai dari umpan, senar, pelampung, pemberat, rangkaian pancing serta joran kreasi pribadinya.

“Umpan (cacing) menjadi kebutuhan mancing yang paling dicari warga. Spot di Setu Babakan sendiri terbagi berdasarkan umpan yang digunakan. Nah, saya ada di ‘spot cacing’. Belum sampai sore, umpan sudah habis dibeli warga. Satu gelas berisi cacing dijual dengan harga Rp5000,” aku Gopal.

Dalam satu hari, ia mengaku mampu menghabiskan 60 gelas cacing. Namun belakangan ini pada bulan ramadhan, ia hanya mampu menjual setengahnya dikarenakan terjadinya kelangkaan cacing jenis kosmetik di agen besar. Cacing jenis ini menurutnya sangat cocok digunakan karena bentuknya yang kecil namun kuat.

“Dari agen, saya beli cacing 1 kg, kemudian saya pecah lagi ke dalam beberapa gelas. Biasanya dapat 50-60 gelas, akhir-akhir ini hanya 30 gelas. Semua yang dagang seperti saya di Setu Babakan ini juga mengalami kelangkaan cacing kosmetik,” tegas Gopal.

Untuk mengurangi minimnya pendapatan dari umpan tersebut, Gopal mencoba menjajakan joran bambu hasil kreasinya yang dijual seharga Rp10.000 per batangnya.