Tradisi Jepang, Mancing Mengandalkan Burung

Jakarta, SAHABATMANCING.COM – Serupa dengan Indonesia, Jepang merupakan salah satu negara dengan potensi mancing terbesar di dunia. Beragam kegiatan mancing, mulai dari menggunakan alat tradisional hingga peranti modern digandrungi oleh beragam kalangan negeri matahari terbit. Namun, tradisi “Ukai” mematahkan kebiasaan mancing yang sudah ada.

Tradisi “Ukai” sudah dilakukan oleh masyarakat Jepang sejak 1300 tahun lalu. Foto: Gifucvb

Sebagian orang mungkin belum mengetahui apa itu “Ukai”. “Ukai” merupakan salah satu tradisi mancing yang sudah dilakukan nenek moyang Perfektur Gifu di Sungai Nagara, Jepang sejak 1300 tahun lalu dan dilindungi oleh otoritas setempat.

Jika pada umumnya kegiatan mancing memerlukan peranti, namun pada tradisi ini, burung Kormoran digunakan sebagai ‘alat’nya.

Burung Kormoran merupakan salah satu keluarga burung laut yang memiliki keahlian dalam menangkap ikan menggunakan paruhnya. Seperti dikutip Amusing Planet, nelayan kuno khususnya di Jepang dan Tiongkok telah memelihara serta melatih burung Kormoran untuk membantu mereka menangkap ikan di sungai.

Leher dari beberapa burung Kormoran diikat menggunakan tali, dimana pemancing/nelayan memegang tali tersebut mengikuti pergerakan burung. Saat burung-burung menangkap ikan, mereka membiarkannya masuk ke dalam tenggorokan burug yang mampu menampung enam ikan. Kecuali ikan yang didapatkan berukuran besar, burung harus diangkat ke atas kapal.

Petang hari hingga menjelang hari gelap menjadi waktu tepat untuk melakukan “Ukai”. Cahaya obor menjadi satu-satunya sumber penerangan yang digunakan.

Tidak semua orang bisa melakukan tradisi mancing yang dilakukan setiap malam selama musim panas dari tanggal 11 Mei hingga 15 Oktober ini. Mereka adalah “usho”, atau orang-orang terpilih dengan keterampilan warisan turun-temurun dari nenek moyang.

Saking istimewanya, para “usho” ini juga mendapatkan gelar resmi dari kekaisaran Jepang, “Pemancing dengan Kormoran Kekaisaran, Dewan Upacara dan Ritual, serta Badan Rumah Tangga Kekaisaran”.

Meski tergolong ‘kejam’, metode penangkapan ikan dengan kormoran masih dilakukan hingga sekarang. Hal ini bertujuan untuk terus menghidupkan tradisi serta dijadikan salah satu objek wisata menarik di Jepang.

Menggunakan kapal lainnya, wisatawan yang ingin melihat tradisi ini membuntuti para “usho” dengan biaya penyewaan kapal berkisar 1.500 sampai 3.500 yen atau sekitar Rp200.000 hingga Rp400.000.