Menilik ‘Perang Cyber’ Antara Castinger dengan Setrumer di Facebook

Menilik ‘Perang Cyber’ Antara Castinger dengan Setrumer di Facebook

Bagikan:

Jakarta, SAHABATMANCING.COM – Perseteruan antara pegiat mancing casting (castinger) dengan pengguna alat tangkap setrum (setrumer) mulai memasuki ranah media sosial. Kedua kelompok ini saling melaporkan atau report masing-masing forum grup Facebook hingga hilang dari peredaran. Dua grup yang ‘ambruk’ diantaranya adalah Casting Gabus Mania di kubu castinger, dan Setrum Ikan & Inverter Layout PCB di kubu setrumer.

Tampilan sejumlah forum grup setrum yang di-take down oleh Facebook setelah aksi pelaporan masal oleh masa pegiat mancing casting. (castinger)

Perselisihan antara pegiat mancing dengan pelaku aksi setrum ikan tidak hanya terjadi saat bersua di lapangan saja. Kini perseteruan kedua kelompok itu mulai beralih ke ranah dunia maya. Dalam beberapa waktu terakhir, ramai peristiwa tumbangnya forum grup komunitas mancing dan grup pegiat setrum ikan di Facebook.

Musababnya karena kedua kelompok yang saling bertikai ini melaporkan masing-masing forum grup yang eksis di laman Facebook. Imbasnya beberapa grup komunitas tumbang di-take down oleh moderator Facebook. Diantaranya ada grup Casting Gabus Mania (CGM) dan Grup Setrum Ikan & Inverter Layout PCB yang masing-masing sudah memiliki ribuan member.

Heri Haironi, selaku admin Casting Gabus Mania mengungkapkan, jika peristiwa ‘perang siber’ ini berawal dari aksi kepedulian sejumlah pemancing yang melihat praktik setrum ikan masih marak terpublis di media sosial. Menurut Heri, mereka merasa para pelaku setrum tidak tersentuh hukum meski telah melakukan praktik destructive fishing yang diatur dalam UU perikanan.

Seperti diketahui, kegiatan penangkapan ikan dengan cara merusak atau tidak ramah lingkungan merupakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009. Adapun bagi pelaku diancam dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda maksimal Rp1,2 miliar.

“Kepedulian angler mulai memuncak saat banyak pemberitaan tentang Menteri Susi (KKP) yang melarang penjualan alat-alat setrum ikan di toko online. Momentum ini dimanfaatkan oleh para angler untuk bertindak melaporkan grup-grup setrum ikan di Facebook. Sejak saat itu perang di medsos berkobar antara pemancing dengan setrumer,” ujar Heri kepada SahabatMancing.com, (21/8).

Lebih lanjut, bertumbangnya grup-grup kelompok penyetrum ternyata tak jua membuat para pelaku berhenti. Dalam pengamatan Heri, mereka mulai membuat forum grup baru dengan identitas yang berbeda dan mengubah nama grup yang ada agar tidak terdeteksi. Namun di satu sisi, aksi report ini juga dilakukan oleh kubu setrumer hingga membuat grup CGM ikut tumbang.

“Kejadian ini membuat para angler semakin solid. Sejumlah angler senior dari grup CGM dan Mancing Liar Indonesia juga ikut turun melaporkan keberadaan grup strum lainnya di Facebook. Dari kubu mereka sekarang jadi tidak berani terang-terangan memposting kegiatan mereka,” tambahnya.

Heri pun mengaku, jika beberapa angler sudah bergerak secara nyata untuk turun langsung melarang para pelaku setrum ikan dan bahkan melaporkan keberadaan mereka ke polisi. Secara internal, Heri selaku admin CGM juga ikut berbenah dengan mempertegas aturan kepada member grup untuk tidak melakukan penangkapan spesies ikan yang dilindungi, overfishing, dan tidak melanggar ketentuan standar komunitas Facebook.

“Kemudian aksi selanjutnya adalah kami akan terus mengedukasi kepada anggota untuk tetap menjaga kelestarian ekosistem, tidak menggunakan alat tangkap yang merusak, serta menggalakan kampanye pelarangan segala bentuk illegal fishing,” terangnya.

Ia juga berharap kepada pengelola media sosial dan pihak yang berwajib untuk gencar mengusut pelaku illegal fishing yang masih eksis di dunia maya. “Kami merasa banyak kegiatan illegal fishing dipublikasikan oleh pelaku namun belum tersentuh hukum. Hal ini yang saya kira jadi catatan banyak pihak berwenang,” pungkasnya. 

Bagikan:
Chat