Aspek Ranggon di Perairan Bakau

Aspek Ranggon di Perairan Bakau

Bagikan:

Kab. Bekasi, SAHABATMANCING.COM – Besarnya potensi perikanan di perairan hutan bakau di pesisir utara Kabupaten Bekasi terus menarik minat pemancing untuk mengeksplorasi. Bangunan-bangunan bermaterial bambu yang kerap disebut ranggon dibangun guna memudahkan pemancing untuk berburu predator-predator spesies kakap.

Bangunan ranggon yang dijadikan sebagai lokasi mancing dibangun oleh komunitas Pokoke Mancing Go di salah satu sudut Muara Blacan, Kabupaten Bekasi. Foto: Ipul Jenggot.

Pohon-pohon bakau berbaris di sepanjang aliran menuju muara hingga. Dimana pada beberapa titik tersebut menjadi lokasi singgah sebagian ikan-ikan dari laut untuk memijah. Keadaan tersebut dimaksimalkan dengan membangun tempat mancing yang nyaman di tengah belantara hutan bakau.

Ranggon-ranggon di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi mayoritas dibangun oleh warga sekitar untuk kemudian disewakan kepada pemancing. Namun, kebanyakan ranggon-ranggon milik warga kurang sesuai dengan kenyamanan yang diinginkan pemancing.

Ranggon yang baik harus memenuhi beberapa aspek, mulai dari kenyamanan, daya tamping serta potensi spot di lokasi ranggon dibangun. Rumpon alam yang terdiri dari batang-batang pohon tumbang menjadi faktor penting untuk memenuhi aspek terakhir.

“Baiknya kita harus mengetahui mana saja lokasi potensial sebelum membangun ranggon. Kami beberapa kali melakukan survey dan wawancara hingga meminta saran salah satu pemancing kawakan di Muara Blacan, Bekasi agar kedepannya pemancing bisa benar-benar mendapatkan hasil maksimal,” jelas Ipul Jenggot, dari komunitas Pokoke Mancing Go, Bekasi, kepada Sahabatmancing.com, Sabtu (2/3).

Pohon-pohon tumbang merupakan lokasi favorit ikan-ikan muara seperti kakap putih (barramundi), kakap bakau (mangrove jack), ketang-ketang (spotted scat), sembilang, dan sejenisnya. Diantara lokasi potensial tersebut, di atas ranggon, teknik koncer menggunakan udang hidup menjadi aplikasi andalan para pemancing.

PM Go Membangun Ranggon

Bersama rekan-rekan di komunitas PM Go, Ipul baru saja mendirikan satu unit ranggon. Ia menuturkan, satu unit ranggon berkapasitas 15 pemancing yang dibuatnya itu menghabiskan dana 10 juta rupiah. Dana didapatkannya dari hasil kolektifitas anggota dan donatur.

“Mereka (warga sekitar – red) membuat ranggon hanya sekadarnya saja, tanpa memperhatikan kenyamanan. Jika dilihat, perbedaannya sangat jauh. Ranggon yang dibangun oleh warga hanya mampu menampung 3-4 pemancing saja,”

Ipul mengatakan, keinginan PM Go untuk bisa memiliki ranggon besar dan nyaman jadi alasan didirikannya ranggon ini. Tidak hanya anggota, pemancing dari luar PM Go pun ikut memberikan donasi. “Belum ada regulasi berapa besaran sewa yang dibebankan kepada pemancing. Kalau untuk anggota PM Go dan donator sih gratis,” tutur Ipul.

Kedepanya, Ipul berharap ranggon yang dibangun ini bisa berguna bagi para pemancing secara umum. Disamping itu, ia bersama rekan-rekan yang lain ingin kembali membangun unit-unit ranggon lainnya. “Mungkin di tiap-tiap ranggon kita buatkan kotak amal, dimana nanti hasilnya bisa digunakan untuk perwatan ranggon dan acara bakti sosial di lokasi setempat,” tutup dia. RPS

Bagikan:
Chat