Mengenal eFAD, Rumpon Portable yang Bisa ‘Memanggil’ Ikan

Jakarta, SAHABATMANCING.COM – Beragam startup dan innovator digital di bidang perikanan dan kelautan berkumpul bersama dalam agenda Digifish 2019 yang diselenggarakan di Ballroom gedung Mina Bahari 3, KKP, Jakarta Pusat, Selasa (3/12). Salah satu mahakarya yang diperkenalkan adalah eFAD, rumpon portable yang bisa ‘memanggil’ ikan dengan memancarkan frekuensi suara. Uniknya, inovasi karya anak bangsa  ini bisa mengumpulkan ikan hanya dalam hitungan jam saja. Bagaimana caranya?

Roza Yusfiandayani, salah satu Inventor atau penemu dari departemen pemanfaatan sumberdaya perikanan fakultas perikanan dan kelautan IPB University, memamerkan alat rumpon portable yang diberi nama eFAD dalam agenda Digifish 2019, di gedung KKP, Jakarta, Selasa (3/12). (Dok: SAHABATMANCING/Heksa R.P)

Rumpon portable temuan tim peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini, menjadi salah satu inovasi digital di bidang perikanan dan kelautan yang dipamerkan dalam agenda Digifish 2019, di gedung KKP, Jakarta Pusat, Selasa (3/12).

Dengan mengusung nama eFAD yang merupakan akronim dari electric fish aggregating device, rumpon ini dapat berfungsi sebagai alat pemanggil ikan dengan memancarkan frekuensi suara yang bisa diterima oleh biota bawah laut. Frekuensi suara yang dipancarkan bekisar antara 50 Hz sampai 20 ribu Hz.

Berdasarkan penelitian, rentang frekuensi tersebut dapat memikat kawanan ikan untuk mendekat ke sumber suara. Seperti yang diutarakan oleh Roza Yusfiandayani  selaku Inventor eFAD, dari fakultas perikanan dan kelautan IPB University

Menurut Roza, jika rumpon portable ini dilengkapi dengan alat pemancar frekuensi suara yang otomatis berfungsi setelah ditenggelamkan ke dalam air. Gelombang frekuensi yang dipancarkan disesuaikan dengan target ikan-ikan pelagis yang akan ditangkap; seperti Kuwe, Tongkol, Cakalang, hingga Yellowfin Tuna.

“Untuk memikat ikan Cakalang, YFT dan keluarga Tuna lainnya dibutuhkan frekuensi suara di ambang 10 ribu Hz sampai 15 ribu Hz. Karena rumpon ini memang ditujukan untuk menangkap ikan-ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi bagi nelayan dan pemancing,” ujar wanita yang berprofesi sebagai Dosen di kampus IPB University tersebut.

Rumpon portable eFAD terdiri dari beberapa bagian. Mulai dari koper khusus yang berfungsi sebagai pelampung, lalu tali tambang ramah lingkungan yang berfungsi sebagai atraktor dan juga pengikat antara pelampung dengan rumpon, terakhir tabung rumpon yang berfungsi untuk memancarkan frekuensi suara dalam radius sekitar 100 meter di kedalaman kurang lebih 10 meter.

Lebih lanjut, setelah memancarkan suara yang dapat memikat ikan-ikan pelagis untuk mendekat ke rumpon, selanjutnya nelayan maupun pemancing bisa mendulang tangkapan ikan baik dengan cara dipancing maupun dijala dengan purse seine.

Karena menggunakan alat pemancar frekuensi suara, rumpon portable ini dilengkapi dengan penopang daya berupa baterai lon litium yang dapat diisi ulang. Satu unit rumpon portable dapat diaplikasikan selama kurang lebih selama delapan jam penggunaan.

“Sesuai dengan konsepnya yang portable, rumpon ini sifatnya hanya digunakan oleh nelayan ketika akan pergi melaut (tidak tetap). Jadi ketika sudah selesai digunakan, rumpon ini bisa ditarik ke atas kapal kembali untuk dibawah pulang dan juga diisi daya baterai,” tambahnya.

Sebelum diperkenalkan kepada publik, rumpon eFAD telah diujicobakan beberapa kali di beberapa perairan, seperti di Jepara, Selat Sunda, Pelabuhan Ratu hingga ke Aceh. Dari hasil ujicoba bersama nelayan tersebut, membukti data rasio hasil tangkapan nelayan dapat meningkat sebesar 45,88%. Kemudian nelayan juga dapat menghemat biaya dan modal aktifitas melautnya hingga mencapai 43,35%.

“Kami pernah ujicoba penggunaan rumpon eFAD ini di lintang 8 perairan Pelabuhan Ratu atau sekitar 12 mil dari bibir pantai. Kami dapatkan hasil tangkapan berupa ikan YFT sebanyak 230 ekor dan ikan cakalang 60 ekor. Hasil ini kami dapatkan selama enam hari melaut di perairan Pelabuhanratu,” pungkasnya.