Ketika Sampah Plastik Ditemukan Di Dasar Palung Mariana

Sampah plastik dan bungkus permen ditemukan di dasar palung Mariana pada kedalaman hampir 11 km oleh sekelompok penyelam asal Amerika Serikat, (1/5) waktu setempat. Penemuan sampah plastik itu terjadi saat Victor Vescovo bersama tim tengah melaksanakan misi pemecahan rekor penyelaman terdalam di parit pasifik paling dalam di dunia tersebut.

Vescovo bersama tim penjelajah dasar samudera berhasiil menemukan empat spesies baru sejenis udang yang bernama amphipod di dasar palung Mariana pada kedalaman sekitar 7 ribu – 9 ribu meter di bawah permukaan laut. Tidak hanya spesies baru, dalam penjelajahan tersebut juga ditemuka sampah plastik dan pembukus permen yang mencemari parit terdalam di samudera pasifik tersebut. (Dok/BBC)

Victor Vescovo dan tim penjelajah dari Amerika Serikat, menggunakan armada kapal selam khusus saat menembus palung Mariana di kedalaman 10,927 meter di bawah permukaan laut. Pencapaian Vescovo dan tim berhasil memecahkan rekor perjalanan terdalam ke dasar palung yang berada di perairan samudera Pasifik tersebut.

Namun ada fakta lain yang terungkap dalam ekspedisi penyelaman di palung Mariana. Vescovo menemukan beberapa potong sampah plastik dan bungkus permen saat tengah mengeksplorasi spesies baru penghuni laut dalam samudera Pasifik. Kondisi ini tentu kian membuka mata dunia tentang persoalan sampah yang tak terkelola dengan baik.

Secara nyata jutaan sampah plastik yang mengalir ke laut telah mencemarkan perairan dunia secara global hingga ke dasar samudera paling dalam. Terlebih bahan plastik tidak bisa terurai di lautan dan dapat terombang ambing mengikuti arus sampai puluhan tahun lamanya.

Sampah yang tak terurai itu tidak hanya akan mencemari ekosistem terumbu karang, tapi juga bisa bersarang di perut biota laut seperti Kura-kura, keluarga Hiu, hingga mamalia laut terbesar dunia yaitu Paus Bungkuk.

Dalam data World Economic Forum pada 2016 mengungkapkan, jika ada lebih dari 150 juta ton plastic yang terombang-ambing di samudra planet ini. Setiap tahunnya, 8 juta ton plastik dari darat terus mengalir menuju laut. Dilansir dari Databooks.co.id, Indonesia sendiri menyumbang sekitar 1,3 juta ton sampah plastik perairan lepas setiap tahunnya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, limbah plastik bakal terakumulasi dan menyebabkan komposisi sampah akan lebih besar ketimbang populasi ikan di laut pada 2050 mendatang.

Selain sampah, dalam penjelajahan palung Mariana yang dilakukan Vescovo dan tim juga berhasil menemukan empat spesies baru sejenis udang yang bernama amphipod. Kemudian menyaksikan cacing sendok di kedalaman 7.000 meter, serta snailfish merah jambu pada kedalaman 8.000 meter.

Mereka juga menemukan bebatuan cadas berwarna cerah, yang kemungkinan diciptakan mikroba di dasar laut, sekaligus mengambil sejumlah sampel batu pada dasar palung Mariana.

“Hampir tidak bisa digambarkan betapa gembiranya kami semua mencapai yang kami lakukan. Saya pikir ini adalah bagian indah dari sifat manusia yang membuat kita ingin melampaui diri hingga ke batas akhir,” pungkas Vescovo, dilansir dari BBC.co.id.