Kemenpar Fasilitasi Sertifikasi Uji Kompetensi Bagi Pemandu Wisata Mancing

Serpong – SAHABATMANCING.COM – Sekitar 50 pengelola kolam pemancingan dan pemandu trip mancing melakukan uji sertifikasi kompetensi yang digelar oleh Kementerian Pariwisata, di Lubana Sengkol, Serpong, Rabu (10/10). Bersama Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pentara, Kemenpar menguji kompetensi para peserta di bidang pemandu wisata mancing yang terstandar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI).

Seorang peserta tengah menjelaskan elemen-elemen rangkaian set pancing yang telah rangkainya kepada asesor dari LSP Pentara, di Lubana Sengkol, Serpong, (10/10). Kemenpar memfasilitasi uji sertifikasi kompetensi bagi pemandu wisata mancing di Jabodetabek sesuai dengan standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI).

Melihat sektor pariwisata Indonesia yang terus bergeliat dan menjadi penyumbang terbesar devisa negara setelah produk kelapa sawit (CPO), Kemenpar kembali bergerak cepat untuk membenahi bidang-bidang pariwisata yang dinilai mampu mendulang lebih banyak devisa.

Tak terkecuali dengan bidang usaha wisata mancing yang mulai dibenahi dari sisi sertifikasi pemandu wisata mancing. Selama ini, pengelola kolam atau pemandu wisata mancing yang memiliki kompetensi tak dibekali dengan sertifikasi sebagai sebuah legalitas.

Layaknya olahraga menyelam/diving, pemandu wisata mancing tentu perlu memiliki lisensi yang menerangkan bila mereka berkompeten di bidangnya. Terlebih bila sudah berbicara mengenai industri pariwisata di era globalisasi, standar baku mengenai perizinan, kompetensi hingga menyangkut soal safety perlu diterapkan agar tingkat kepercayaan turis asing bisa meningkat.

Berangkat dari hal itu, program sertifikasi uji kompetensi ini dibuat demi mengakomodir kebutuhan wisata mancing yang siap diandalkan dari sektor pariwisata nasional.

Seperti yang diutarakan oleh Ketut Tjahjono selaku ketua LSP Pentara, jika pihaknya sudah bergerak untuk menguji sertifikasi kompetensi para pemandu mancing sejak 2016 silam. Menurutnya selama ini memang kebutuhan sertifikasi masih sebatas sukarela (voluntary), namun kedepan ia mengingatkan jika suatu saat sertifikasi kompetensi akan menjadi kewajiban (mandatory) sesuai dengan amanat perundang-undangan yang berlaku.

“Jika melihat dari sifat sebuah regulasi yang memiliki durasi sosialisasi selama tiga tahun setelah disahkan, maka bisa memungkinkan pada tahun depan Permenpar No 19 tahun 2015 sudah bisa diterapkan di sektor usaha wisata mancing,” ujar Tjahjono kepada Sahabat Mancing, (10/10).

Peserta uji sertifikasi kompetensi pemandu wisata mancing yang diselenggarakan oleh Kemenpar bersama LSP Pentara.

Payung Hukum

Seperti diketahui,  uji sertifikasi kompetensi ini dihelat berlandaskan dengan payung hukum UU RI no tahun 2009 tentang Kepariwisataan dan Peraturan Menteri Pariwisata No 19 tahun 2015 tentang usaha standar wisata mancing. Hingga, Kepmenakertrans No 57 tahun 2014 tentang penetapan SKKNI kategori profesi pemandu wisata mancing.

Selama uji sertifikasi kemarin, peserta wajib melalui serangkain tes yang meliputi; tes tertulis, tes lisan, dan tes praktek. Mereka yang berhasil melalui tes ini akan mendapatkan sertifikasi pemandu wisata mancing terstandar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Deff, salah satu peserta menilai, bila program sertifikasi ini sangat bermanfaat khususnya bagi para pelaku usaha mancing yang kerap bersentuhan dengan pelanggan (customer). Apalagi menurutnya banyak pemancing yang sejatinya cukup berkompeten di Indonesia, namun masih perlu selembar legalitas agar kompetensinya tersebut bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan industri pariwisata.

“Saya belum tahu sertifikasi ini  akan bisa digunakan untuk apa, tapi minimal dengan adanya program ini kita bisa nambah pengetahuan sekaligus upgrading skill secara personal. Ibaratnya apakah kita bisa tahu sejauh mana kemampuan dan wawasan kita di dunia mancing,” jelasnya.

Ia berharap, semoga program ini bisa dijalankan tidak hanya di Jakarta saja, tapi juga serentak di kota-kota lainnya di Indonesia.