IFTE Diharapkan Memacu Geliat Mancing di Indonesia

Jakarta, SAHABATMANCING.COM – Indonesia Fishing Tackle Exhibition (IFTE) 2019 berakhir pada Minggu (10/11/19). Saat dibuka sejak Kamis (7/11/19), panitia mencatat sebanyak 7700 pengunjung mendatangi pameran alat pancing tahunan terbesar di Indonesia tersebut.

Indonesia Fishing Tackle Exhibition 2019. SAHABATMANCING.COM/Rico Prasetio

Jumlah pengunjung ini menjadi target dalam upaya IFTE menyiarkan tema ‘Jelajahi Negeri Dengan Mancing’.

Untuk kedua kalinya, IFTE kembali diadakan di Mall of Indonesia (MOI), Kelapa Gading, Jakarta selama 4 hari pada akhir tahun. Dipilihnya kembali MOI sebagai lokasi pameran tidak lain karena strategisitas dan kemudahan akses lokasi bagi para pengunjung, khususnya di Jabodetabek.

Beragam produsen serta pegiat mancing menyajikan beragam karya dan produknya kepada para pengunjung di IFTE 2019. Dari beberapa peserta pameran langganan seperti Shimano, Daiwa, IFT, Relix  dan lainnya, tahun ini ada 11 tenan baru juga ikut meramaikan pameran.

“Setiap tahun kami mencatat bahwa IFTE dalam setiap penyelenggaraannya mengalami peningkatan, baik dari jumlah pengunjung, peserta tenan hingga penjualan. Tahun lalu kami mencatat ada 6000-an pengunjung datang ke IFTE,” jelas Rivai Susanto, Ketua Pelaksana IFTE 2019 usai acara, Minggu (10/11/19).

Peningkatan ini diyakininya menjadi pemacu semangat para produsen alat pancing dan pegiat mancing secara umum guna terus konsisten memberikan sumbangsihnya bagi kemajuan geliat mancing di Indonesia melalui beragam upaya yang sudah dilakukan.

Seperti yang sudah disebutkan, IFTE 2019 mengambil tema ‘Jelajahi Negeri Dengan Mancing’. Tema ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa mancing juga punya potensi meningkatkan pariwisata di Indonesia.

Sebab mancing bisa membawa pegiatnya menyambangi beragam wilayah di Indonesia. Sehingga, kegiatan mancing di negeri maritim ini akan tumbuh semakin pesat.

“IFTE juga menjadi ajang pencarian informasi mengenai geliat mancing, baik dari sisi target, lokasi, tren yang sedang berkembang hingga inovasi produk. Kita semua berharap kegiatan mancing di Indonesia ini bisa berkembang lebih pesat lagi,” tambah Rivai.

Pesan tersebut coba disampaikan melalui upaya penyampaian pengalaman mancing para pegiatnya dari berbagai daerah di panggung utama yang didukung oleh produsen alat pancing.

Langkah ini menjadi bukti nyata dalam mempromosikan wisata mancing dan mengedukasi masyarakat betapa mancing punya banyak efek bermanfaat.

Beberapa talkshow yang disampaikan pada IFTE yaitu diantaranya ‘Potensi Mahseer di Pantura Jawa’ oleh Risqon, pemancing dari Batang, Jawa Tengah yang didukung oleh Hinomiya. Masih dari Hinomiya, pengalaman salah satu kegiatan mancing tertua, negeg kembali dibagikan oleh Hinomiya Angler Squad Jawa Timur.

Sejauh ini, Hinomiya sangat aktif mendukung penuh kegiatan negeg para garonger (sebutan pemancing baronang). Serta tidak ketinggalan Maguro lewat Jehan Mardika menjelaskan betapa mancing mahseer di belantara Bukti Barisan yang tak terjamah manusia sangat bertaruh nyawa.

Kegiatan mancing memang harus benar-benar didukung. Sebagai garda terdepan yang berhadapan di alam, pemancing punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui pengetahuan mereka sebagai ‘pemancing’. Pemancing harus peduli, berjiwa sosial tinggi, juga tak boleh terpercah atas dasar kepentingan individu atau kelompok tertentu.

Agar kampanye mengenai apa yang disebutkan di atas tadi berjalan lebih luas lagi, Rivai berencana akan membuat konsep baru terhadap pameran ini.

Konsep yang dimaksud adalah menggelar mini IFTE di luar kota Jakarta sebagai permulaan dan pengenalan sebelum pameran besar digelar. Mini IFTE itu rencananya akan diadakan dua kali dalam setahun.

“Jika tak ada halangan, rencananya bulan Maret tahun depan kami akan coba menggelar mini IFTE tersebut, IFTE-nya akan tetap diadakan di Jakarta. Mungkin dua atau tiga tahun ke depan kami akan coba menggelar IFTE di luar Jakarta,” tutup Rivai.