Nurul Nia : Eksistensi Mancing di Selatan Jogja

Sepuluh tahun berkecinampung mancing di atas tebing-tebing karang dan juga pasiran di wilayah selatan Jogja, Nia coba bertualang mancing di tengah laut. Dari atas kapal, pemancing asal kota Gudeg ini coba hidupkan kembali semangat mancingnya yang sempat redup walau harus berhadapan dengan dahsyatnya gelombang samudera. Baginya, sesuatu seperti ada yang hilang bila mancing tak ia jalankan.

Nama : Nurul Nia
Profesi : Wiraswasta
Asal : Yogyakarta

Rasa penasaran untuk bisa merasakan sensasi tarikan ikan-ikan yang lebih variatif di dasar segara jadi alasan kuat Nia ‘meninggalkan’ sejenak macam aktifitas mancing pasiran dan rock fishing yang lama ditekuninya.
“Sensasinya (mancing di tengah laut) luar biasa. Jika dibandingkan dengan pasiran atau mancing di tebing, mancing di atas kapal jauh lebih mengasyikkan karena kita bisa berpeluang besar mendapatkan ikan yang lebih banyak jenis dan ukurannya. Sensasi tarikan ikan-ikan monster itu adalah harga yang tidak bisa dibayar dengan apapun,” tegas Nia.

Perairan selatan Jogja di wilayah Wediombo, Kesiret serta wilayah lainnya di sepanjang sana adalah lokasi favorit Nia dalam mengobati dahaga mancingnya di laut. Intensitasnya tak perlu diragukan lagi. Dalam satu bulan, Nia bisa turun (mancing) setiap pekan, bahkan lebih. Fleksibilitas waktu yang dimiliki sebagai seorang wirausaha benar-benar dimaksimalkan wanita berusia 34 tahun itu.

Militansi mancingnya itu, suatu hari pernah dieksamen oleh rekanrekannya dengan mengajak Nia menuju spot yang lebih jauh lagi dari spot biasanya dengan perahu tanpa katir awal 2019 lalu. Ketika itu keadaan laut lebih ekstrem dari sebelumnya, ombak, gelombang dan angin berkecamuk keras menggoyahkan tubuh Nia dan rekan-rekannya.

“Alih-alih mabuk, justru saya tidak merasakan mual sedikit pun. Kemalangan malah menimpa inisiator yang membawa saya hingga ke spot terjauh tersebut. Dia, sudah mabuk, tak dapat ikan pula. Hehe…,” canda Nia.

Masalah persiapan, Nia mengaku tak pernah melakukan antisipasi apapun untuk meminimalisir rasa mual ketika mancing di atas kapal. Obat-obatan yang dikonsumsinya kala pertama kali mancing di laut, malah membuatnya mengantuk. “Entah, mungkin sudah terbiasa. Sepanjang malam menjelang berangkat mancing, mata sulit dipejamkan (tidur). Padahal pukul 6 pagi harus segera berangkat,” ucapnya.

Besar antusias mancing memang terbukti bangkitkan nyali. Pernah suatu ketika Nia bersama rekanrekannya di atas kapal kehabisan makanan. Mancing yang seharusnya berakhir siang hari, meleset hingga menjelang malam karena pukul 12 ke atas, kawanan ikan tiba-tiba agresif menyambar umpan. Beruntunglah masih ada kapal mancing lain yang masih punya persediaan makanan dan terhindarlah mereka dari rasa lapar.

Eksistensinya juga ditujukkan dengan kerap berfoto dengan ikan hasil pancingnya dan kemudian diunggah ke akun facebook pribadinya.

Cerita lain yang selalu membekas yaitu kejadian kala dirinya beberapa kali ‘kalah’ dalam pertarungannya melawan agresifitas ikan dalam satu kesempatan trip di Renehan, Jogja. “Ketika strike dan ikan sudah hamper terlihat di permukaan, tiba-tiba mocel (lepas dari kail – red). Kejadian ini tidak hanya sekali, tapi terjadi enam kali berturut. Sangat disayangkan dan sensasinya akan terus terkenang,” jelas Nia.

Sama seperti pemancing lainnya, Nia juga memiliki destinasi lokasi mancing favorit. Wilayah di Timur Indonesia dengan kondisi alamnya nan cantik adalah pilihannya jika mendapatkan kesempatan untuk mancing ke luar Jogja. Papua menjadi satu tujuan mancing utama walau masih dalam batas angan-angan saja.

Nama-nama besar pemancing di beberapa komunitas di Jogja yang dijadikannya sebagai panutan, punya pengaruh besar terhadap kegiatan mancing yang dilakukannya hingga kini. Beragam pengetahuan tersebut didapatkan tak lepas dari kemampuan untuk terus belajar dan mencoba agar bertambah lah jam terbang.

Walau dalam hobi mancing ini mayoritas dilakukan oleh laki-laki, Nia tetap konsisten. Pribadi yang pandai menyesuaikan diri itu tak pernah merasa ragu apalagi gulana. Asal mancing bisa dijalankan, baginya dengan siapapun ia tak pernah merasa sungkan untuk sama-sama bisa merasakan sensasi tarikan ikan.

“Seringkali mengajak rekan-rekan perempuan (untuk mancing), namun hasilnya nihil karena mereka beranggapan jika mancing adalah hal berbahaya, belum lagi mereka yang takut kulitnya hitam terpapar sinar matahari. Saya rasa jika dilakukan dengan aman, maka mancing akan jadi hal menyenangkan,” kata Nia.

Karena mudah bersosialisasi, Nia pun juga akrab dengan beberapa istri-istri rekan mancingnya. Saking akrabnya, istri-istri pemancing itu justru bertanya-tanya bila suaminya tak mengikutsertakan Nia pada
trip mancing yang dilakukannya. Namun Nia juga tak menepis adanya komentar sumbang dari para istri pemancing yang melarang melakukan kegiatan mancing dengannya.

“Saya tetap berfikiran positif. Pada intinya tujuan saya hanyalah mancing, hanyalah menjalankan hobi. Awal mulanya saya cukup terganggu dengan komentarkomentar negative itu, namun seiring jalannya waktu, saya tidak lagi menghiraukan dan saya masih bertahan (mancing) sampai sekarang,” tutup Nia. – Rico Prasetio