Nofi Trisna A: Antusias Menjadi Prostaff Mancing

Sesuatu jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan hati yang tulus, maka bisa mendatangkan hasil maksimal. Istilah tersebut nampaknya tepat disematkan pada Nofi Trisna Aribawanti. Perempuan asal Malang, Jawa Timur tersebut merupakan seorang pemancing yang berkembang menjadi seorang prostaff salah satu produk alat pancing asal Negeri Jiran.

Jam terbang serta pengalamannya dalam berkegiatan mancing berperanti ringan (ultralight) mungkin menjadi pertimbangan penunjukan dirinya sebagai seorang prostaff. Ini adalah sebuah kabar baik bagi dunia pemancingan di Indonesia, dimana seorang perempuan berhasil mematahkan dominasi para pria sebagai seorang prostaff produsen alat pancing.

Nama: Nofi Trisna A.
Profesi: Swasta
Asal: Malang, Jawa Timur

“(Sebenarnya) saya tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan mereka (Kanicen Nix) menunjuk saya sebagai seorang prostaff. Produk-produk mereka sudah kerap saya gunakan sebelumnya, hingga pada akhirnya mereka menghubungi saya dan membuat penawaran menarik itu pada 2018 ini. Saya pun sangat antusias menerima tawaran itu,” jelas Nofi.

Penawaran tersebut tidak hanya mendatangkan banyak berkah yang menunjang kegiatan mancing Nofi, namun juga mampu meningkatkan perekonomian secara pribadi.

Kepercayaan diri tinggi selalu ditanamkan dalam benak Nofi dalam menjalani hobi mancing yang didominasi kaum adam. Sebab menurutnya, hanya itu modal yang mampu membuatnya bisa bertahan dalam hobinya hingga saat ini selain menepis sifat minder. “Saya menganggap semua pemancing sama, baik laki-laki dan perempuan yang hobinya mancing adalah saudara,” tambah Nofi.

Tanggung jawab sebagai seorang prostaff pun menuntut dirinya untuk lebih giat lagi menambah intensitas mancingnya. Berbagai kemampuan terus dimaksimalkan guna mampu memberikan masukan serta penilaian terhadap produk sebelum dipasarkan.

Pengalaman haru juga pernah dirasakan Nofi sejauh menekuni hobi mancing. Pada September lalu di Probolinggo, ia harus merelakan dua set peranti pancingnya ditarik ikan hingga tercebur ke dalam laut. Posisi jukung yang bergoyang kencang karena terhantam gelombang terus menerus membuat keseimbangannya hilang, sehingga berpegangan pun tak mampu juga selamatkan perantinya kala sedang berjibaku menahan perlawanan ikan.

“Hikmahnya mungkin harus lebih berhati-hati dan sigap saat mancing, terutama pada saat berjibaku menahan perlawanan ikan,” lanjut Nofi. Walau harus mengorbankan dua set alat pancingnya, Nofi tidak pernah sekalipun terhenti langkahnya untuk berhenti memancing. Sebab baginya mancing sudah mendarah daging sejak lama, dimana hobinya ini juga berawal dari latar-belakang keluarga Nofi yang juga hobi mancing.

Berangkat dari keberaniannya menjalani olahraga luar ruang ini, Nofi pun mengajak para perempuan untuk mencoba mancing sebagai hobi, walau hanya jadi salah satu kegiatan pengisi waktu luang. Sensasi strike jadi daya tarik utama yang menurutnya mampu hadirkan kepuasan tersendiri bagi mereka yang merasakannya. “Jika sudah sekali merasakan (strike), pasti akan ketagihan mancing,” tambah dia.

Nofi Kerap Memancing Ikan-ikan Monster di Kolam Catch and release untuk mencoba kekuatan dari sebuah produk peranti ringan (Ultralight).

Ia pun tak membantah jika saat awal mula menekuni kegiatan mancing, ia masih mengalami kendala dalam pengaplikasian teknik mancing karena masih menggunakan peranti tradisional. Namun keyakinan untuk bisa serta dukungan dari keluarga dan rekan-rekan kian manambah semangatnya untuk terus belajar.

Dalam hobi mancing yang dijalaninya tersebut, Nofi menyebutkan jika peran rekannya bernama Tan Po Liang sangatlah besar dalam memberikan beragam arahan kepadanya. Ia menyebutkan bahwa sosok pemancing asal Pasuruan, Jawa Timur tersebut sudah ia anggap sebagai mentor terutama dalam pengaplikasian ultralight fishing.

Pencapaian yang diraihnya kini sebagai seorang prostaff nampaknya tak membuat Nofi merasa jumawa. Sebagai seorang pemancing ia tetap tidak sungkan untuk menanyakan beragam masalah mancing yang ada kepada pemancing yang lebih menguasai, baik dari teknik maupun info-info mancing lainnya yang belum ia ketahui.

Wilayah tambak juga dijadikan nofi sebagai lokasi favoritnya kala mancing di air tawar.

Sama seperti pemancing pada umumnya, cita-cita harus tetap ada, baik prestasi individu yang mungkin sudah ia dapatkan maupun pengalaman dalam melakukan kegiatan mancing di tempat idaman. Ia pun menyimpan impian untuk bisa menjelajah setiap lokasi-lokasi mancing yang ada di berbagai wilayah, baik di sudut-sudut potensial perairan Indonesia maupun di luar negeri.

“Rajaampat sepertinya jadi lokasi idaman setiap orang, baik untuk wisata alamnya maupun lokasi eksplorasi bagi para pemancing. Ada keinginan saya untuk mengunjunginya. Selain Rajaampat yang indah itu, Kualarompin di Malaysia pun sudah jadi lokasi idaman saya sejak lama. Berita mengenai sensasi strike ikan-ikan Billfish dengan tariannya yang indah seolah menarik minat saya untuk segera bisa merasakannya,” harap Nofi.

Dalam angannya secara pribadi, ia berharap cepat atau lambat, perempuan bisa mendominasi kegiatan mancing yang mayoritas dilakukan oleh kaum adam. Kini harapan itu perlahan mungkin terealisasi jika dilihat dari keaktifan sebuah komunitas mancing khusus perempuan Ladies Angler Community yang anggotanya kerap melakukan eksplorasi mancing secara pribadi maupun kelompok di berbagai lokasi dengan beragam teknik yang digunakan.

“Secara pribadi, saya sebisa mungkin untuk terus memberi contoh positif kepada para perempuan dimanapun berada untuk menekuni hobi mancing. Kita sudah melihat begitu banyak laki-laki yang mengajak istrinya untuk mancing bersama-sama. Jadi, mari mulailah mancing dari hal yang paling sederhana,” tutup Nofi. – Rico Prasetio