Nani Sumarni: Belajar Ikhlas Melalui Mancing

Nani Sumarni: Belajar Ikhlas Melalui Mancing

Wajah ceria memancarkan sebuah ketegaran, hobi mancing yang digelutinya kini membawa Nani kepada episode hidup baru. Mati satu tumbuh seribu, ungkapan ini mungkin menjadi cermin baginya kala sebuah duka menimpa. Mancing, dengan beragam efek positif yang didapatnya akan senantiasa mengisi sebagian hidup Nani.

Nani Sumarni
Nama: Nani Sumarni
Profesi: Wirausaha
Asal: Bogor

Pesan sang suami pada dirinya untuk lebih giat mendalami hobi mancing jadi bekal motivasi Nani untuk terus belajar. Walau mulanya sempat memandang mancing hanya sebuah hobi biasa, Nani pun rupanya kian larut dan terkesima. Banyak sudah manfaat positif dari kegiatan mancing yang ia rasakan, dimana dirinya senantiasa diterima dengan hangat oleh para pemancing dari berbagai kalangan.

Jatuh bangun dari kendaraan roda dua karena licinnya medan saat menuju spot tak memudarkan niat Nani untuk ‘menggantung joran’ lebih cepat. Walau memar biru membekas selama beberapa hari di tubuh, kejadian tersebut justru menjadi dorongan baginya untuk selalu kuat menghadapi berbagai rintangan. Sebab bagi dia, mancing tidak hanya soal mendapatkan ikan, namun didalamnya ada sebuah proses yang senantiasa harus dinikmati.

“Awal mulanya, Situ Cibuntu Lestari (SCL) di Cibinong sekitar 3 tahun lalu menjadi lokasi latihan casting, saat itu hingga selama 3 bulan lamanya saya tidak juga berhasil mendapatkan ikan (strike). Tapi tidak sedikit pun saya menyerah dan terus mencoba dengan rasa penasaran yang menghinggap, karena saya rasa ini adalah sebuah proses belajar. Jika sesuatu pekerjaan atau hobi dijalankan dengan hati yang iklhas, maka saya yakin semua pasti akan terasa mudah,” ujar Nani.

Saat ini, mancing dengan teknik casting memang lebih cenderung ia lakukan. Faktor sempitnya waktu hingga tanggung jawabnya sebagai ibu yang merangkap sebagai ayah membuatnya harus sesering mungkin membagi waktu secara efisien.

Nani memamerkan ikan bawal yang didapatnya di salah satu kolam pemancingan Catch and Release.

Berbagai komentar dari orang-orang terdekat terutama keluarga yang tidak menyetujuinya untuk menggeluti hobi mancing mulanya membuat Nani ragu. Kejadian yang menimpa sang suami jadi alasan pelarangan tersebut. Namun doa dan dukungan dari mereka lah yang ia butuhkan agar selalu diberikan keselamatan saat mancing, terutama di laut.

Dalam menggeluti hobi ini, bukan berarti Nani tidak memiliki cita-cita besar. Beberapa pemancing perempuan seperti Pujiastuti Agustina dan Khusnul Quin menjadi inspirasinya untuk bisa mengunjungi banyak lokasi mancing potensial serta mendapatkan beragam spesies ikan idaman. Baginya, keinginan tersebut sudah terancang rapi dalam catatan.

“Jika ingin diterima, banyak sekali tawaran mancing dari rekan-rekan, mulai dari mancing di kolam, wild fishing hingga mancing di laut. Senang rasanya memiliki banyak teman pemancing yang baik, namun saya harus sebisa mungkin membagi waktu. Lokasi-lokasi mancing seperti bantaran Ciliwung di Bogor serta spot-spot casting di sekitarnya menjadi obat pelepas rindu kala ingin mancing,” ungkap Nani.

Rasa ingin tahu pada diri Nani juga membawanya untuk lebih aktif berdiskusi perihal informasi mancing dengan rekan-rekan pemancing lain dari beragam latar belakang komunitas, mulai dari pengetahuan peranti hingga teknik mancing yang digunakan. Nani yang saat ini juga aktif dalam komunitas mancing Ladies Angler Community (LA Com) rutin mengikuti setiap kegiatan mancing yang diadakan oleh komunitas maupun produsen alat pancing.

Bersama rekan- rekannya di Ladies Angler Community (LA COM), Nani memamerkan peranti pancing pada momentum pameran alat-alat pancing bertajuk Indonesia Fishing Tackle Exibition (IFTE) 2017 di Epicentrum, Kuningan, Jakarta.

Kemampuannya dalam memancing pun kini perlahan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Dirinya pun tidak berkilah bahwa keberuntungan menjadi faktor terbesar dari kesuksesan seorang pemancing, tak terkecuali dirinya. Namun dari apa yang sudah ia pelajari, ia kini sudah mampu membaca keberadaan serta potensi ikan di sebuah spot untuk kemudian dipancingnya.

Tidak hanya spot si air tawa, Nani juga gemar mengeksplorasi spot mancing di laut dengan tetap mengaplikasikan teknik casting.

“Selain itu penggunaan beragam peranti dan umpan mancing juga mulai sedikit-sedikit saya pelajari, apa itu lure artifisial seperti minnow, soft froggy, popper, pencil dan bagaimana pengaplikasiannya sehingga bisa mendukung kegiatan mancing secara maksimal,” jelas dia.

Satu hal hikmah pasti yang sangat terasa dan bisa dipetik Nani lewat hobinya ini yaitu menjadi manusia yang lebih ikhlas. Kegiatan mancing membuatnya lebih tegar dalam menghadapi setiap cobaan di kehidupan. “Berat rasanya memang ditinggalkan orang yang kita cintai.

Selain keluarga, semoga hobi mancing ini bisa menguatkan saya, bisa menghantarkan saya menjadi orang yang lebih baik lagi. Seperti yang sudah dilakukan oleh almarhum (suami) yang memiliki banyak teman lewat mancing,” tambahnya. Nani pun tak mengira jika peralatan pancing milik mendiang suami menjadi peninggalan berharga yang membawanya berani mencoba dan meneruskan hobi suaminya tersebut. Ia menyebutkan bahwa suaminya adalah sosok pemancing yang baik dan banyak dikenal orang. Sungguh bangga menjadi Nani, dimana kebaikan orang-orang terhadap mendiang suami kini juga dirasakan olehnya.

“Bagaimana tidak beruntungnya kamu memiliki seorang suami yang semasa hidupnya berdedikasi tinggi terhadap dunia ini (hobi mancing)? Banyak orang di luar sana, yang bahkan mulanya tidak mengenal siapa saya, menjadi begitu baik kala mereka tahu bahwa saya adalah istri Andre (suaminya),” jelasnya bangga.

Tidak harus menunggu momentum perubahan, Nani dengan nada yakin juga mengajak siapapun, khususnya perempuan untuk menggeluti hobi mancing, minimal mencobanya. Tidak hanya dari segi mental, kebugaran tubuh juga bisa didapatkan karena hobi ini merupakan olahraga yang bisa dilakukan oleh sipapapun. – Rico Prasetio

Chat