Livia Yolanda: Saatnya Perempuan Memancing

Livia Yolanda: Saatnya Perempuan Memancing

Panas terik yang menerpa geraian rambut panjangnya tak jadi halangan bagi Livia untuk terjun menggeluti kegiatan mancing. Meski terkadang kulit terlihat menjadi kusam bahkan berubah kemerahan, tak luntur semangatnya demi bisa mendapatkan sensasi tarikan ikan-ikan predator.

Nama: Livia Yolanda
Profesi: Wiraswasta
Asal: Pontianak

Kegiatan mancing masih jadi primadona bagi seluruh kalangan. Tidak hanya menjadi pengisi waktu luang, mancing kian menjelma selaras menjadi olahraga, hobi dan gaya hidup. Sebab mancing kini bukan lagi kegiatan menjijikan karena berhubungan dengan situasi yang kotor dan bau. Di dalamnya terdapat kebanggan bagi pegiatnya ketika menggunakan peranti mancing, mengaplikasikan tekniknya hingga sukses mendapatkan ikan buruan. Salah satunya adalah Livia Yolanda, perempuan berparas ayu tersebut tidak hanya menjadikan mancing sebagai selingan dalam kesibukannya sebagai wiraswasta. Namun sudah menjelma sebuah menjadi gaya hidup yang hadirkan kesenangan kala penat melanda.

Masa kanak-kanak yang lekat dengan beragam kegiatan mancing jadi awal mula Livia menyukai hobinya ini. Di kampung halamannya di Pontianak itu, ia mulai mengenal mancing sebagai hobi yang menyenangkan selaras dengan dirinya yang gemar berpetualang di tempat-tempat baru.

“Pertama kenal mancing itu saat melihat Papah sering mancing kerapu di keramba pribadi sekitar umur 14 tahun. Dari situ timbul rasa penasaran hingga pada akhirnya Papah mengajak saya ikut mancing kepiting di Pontinanak sebagai permulaan. Mancingnya menggunakan peranti tradisional, hanya joran dan rol penggulung senar,” jelas Livia.

Pindah ke Ibukota rupanya bukan jadi penghalang Livia untuk tetap mempertahankan mancing. Hingga kini di usianya yang menginjak 23 tahun, Livia masih mempertahankan eksistensi hobinya tersebut. Kolam pemancingan catch and release Rawakalong Casting Ground (RCG) di kawasan Gunung Sindur, Jawa Barat jadi arena guna memenuhi keinginan mancingnya.

Akhir pekan menjadi saat wajib untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan mancing bersama rekanrekan. “Pertama tahu (lokasi mancing RCG) dari teman, lalu diajak mancing bersama. Setelah itu, kami suka atur jadwal untuk mancing tiap akhir pekan,” tambah Livia. Sebab baginya, mancing adalah alternatif terbaik dibanding pergi ke pusat perbelanjaan. Panas terik yang menerpa gerai rambut panjang lurusnya tak jadi halangan bagi Livia untuk terjun menggeluti kegiatan mancing. Kulit mulus terkadang terlihat kusam bahkan berubah menjadi kemerahan, namun tak melunturkan semangatnya demi bisa mendapatkan sensasi tarikan ikan-ikan predator.

Livia mengangkat ikan bawal di kolam pemancingan catch and release Rawa Kalong casting ground (RCG) yang menjadi lokasi mancing favoritnya.

Target seperti Arapaima, Red Tail Catfish (RTC), Patin hingga Bawal berukuran besar kerap didapatkannya menggunakan teknik casting. Bagi Livia, tidak hanya soal kebutuhan strike ikan-ikan predator, spot-spot mancing dengan nuansa pedesaan seperti ini jadi alternatif hiburan guna memenangkan fikiran.

Baginya, spot mancing seperti ini perlu dihadirkan lebih banyak lagi di wilayah Jabodetabek guna memudahkan para pemancing agar tidak perlu jauhjauh lagi dalam mencari pengalaman merasakan sensasi tarikan ikan-ikan monster. Sejauh ini selama dirinya melakukan kegiatan mancing, Arapaima adalah target idaman baginya karena tarikan perlawanan Arapaima yang kuat membuatnya merasa tertantang.

Cerita perjalanan hobi mancing Livia bukan tidak pernah merasakan kepahitan. Pernah pada suatu kesempatan ketika mancing bersama Ayah dan rekan-rekannya di Pontianak, badai besar menghadang jalan pulangnya. Angin kencang membuat ombak begitu keras terasa menerpa kapal. Namun kebiasaannya memasuki area-area ekstrem pada masa kecil menempa mental Livia menjadi perempuan tangguh sehingga kuat melewati badai.

“Pengalaman sering ikut Papa menyambangi perkebunan sawit di Kalimantan jadi salah satu faktor saya jadi gemar terhadap alam. Sehingga ketika menghadapi badai yang menerpa kami saat itu saya kira mental saya sudah cukup terlatih,” lanjut dia. Ia menyebutkan bahwa keyakinan kuat dan berfikir positif jadi faktor dirinya selalu mampu melalui segala kesulitan dalam berkegiatan, khususnya mancing. “Tidak ada penyesalan sama sekali,” tambah dia.

Tidak sampai di situ, perempuan yang lama menetap di negeri jiran ini juga gemar menunggang kuda besi di jalan raya. Bahkan, karena terlalu nekatnya, Livia pernah memiliki pengalaman buruk, jatuh saat mengendarai sepeda motor sport miliknya ketika masih SMA. Keberaniannya tersebut diganjar dengan rasa sakit akibat operasi yang dilakukan dokter untuk menyelamatkan nyawanya.

Hingga kini, kegemaran menunggangi motor masih dilakoni Livia dengan bergabung bersama Komunitas Motor Besar Indonesia. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan bermotor seperti kopdar hingga touring ke berbagai kota di Indonesia. Namun walau bagaimanapun, dibanding hobi bermotor, kegiatan mancing rupanya masih dipilihnya sebagai hobi yang lebih menyenangkan.

Selain mancing, Livia juga gemar memelihara reptil, salah satunya Ular Canca Bola (Ball Python).

Tidak hanya sampai di situ, selain hobi mancing dan motor, Livia juga salah satu penyayang binatang. Beberapa reptil, aneka spesies ikan dan anjing tersayangnya menjadi peliharaan yang hidup tentram di rumah Livia. “Di rumah, saya pelihara ikan Arapaima dan Arwana dari ukuran kecil hingga sekarang Arapaimanya sudah bisa ‘mengacak-acak’ isi kolam. Hehe,” candanya.

Sebagai perempuan penghobi mancing, Livia juga mengajak kepada para wanita di seluruh Indonesia untuk menekuni hobi mancing. Ia menyerukan khususnya kepada istri/ pasangan seorang pemancing agar ikut serta dalam kegiatan segala macam kegiatan mancing yang dilakukan. “Terutama yang suaminya mincing, lebih baik ikut saja, sebab mancing banyak keuntungannya. Jangan pernah takut terhadap resiko yang ada, intinya harus yakin dan optimis. Suami/ pasangan juga sudah seharusnya meyakinkan dan membimbing,” tegasnya.

Sama seperti pemancing pada umumnya, Livia juga memiliki cita-cita yang ingin dicapai terhadap hobinya ini. Wilayah perairan di timur Indonesia adalah spot idaman baginya untuk bisa merasakan sensasi tarikan predator-predator air tawar dan laut. “Sudah sama-sama diketahui banyak orang bahwa Indonesia Timur, khususnya bumi Papua menyimpan keindahan alam dan wisata mancing yang menakjubkan. Papua sepertinya masuk list saya untuk disambangi,” tutup dia. –Rico Prasetio

Chat