Lia Safanovi: Terpesona Kumbul Ngetrik

Cuaca siang di Gandul, Depok, Jawa Barat pada pertengahan ramadhan 2019 terasa terik sekali. Di sebuah kolam pemancingan di sudut Kota Depok itu, seorang perempuan berkerudung nampak sibuk mengatur jalannya perlombaan mancing. Dari balik meja, Lia Safanovi mencoba peruntungan mengelola sebuah empang di tengah hobi mancing yang menyandunya.

Nama : Lia Safanovi
Profesi : Wiraswasta
Asal : Depok, Jawa Barat

Lima tahun terakhir ini menjadi masa terpenting dalam kehidupannya dimana ia menemukan kecintaannya terhadap hobi mancing. Mulanya kerap menemani sang suami mancing di kolam, Lia pun merasa tertantang. Baginya, hobi ini tidak akan bisa dijalankan bila mulanya tak ada rasa ketertarikan untuk mencoba yang akan berujung menjadi kecintaan.

“Awal mulanya tidak suka (mancing). Saya hanya senang menemani suami mancing. Hingga akhirnya pada suatu kesempatan, suami mengajarkan bagaimana mancing yang benar. Pertama suka aja dulu, nanti pasti jadi hobi” jelas Lia.

Beberapa kolam pemancingan pelampungan ikan mas jadi saksi cerita hobi mancingnya berasal, hingga mampu bertahan sampai saat ini. Tidak hanya sebuah sensasi perlawanan ikan, turun-naiknya pelampung (kumbul) di antara permukaan air atau dalam bahasa sehari-hari disebut ‘ngetrik’ mampu timbulkan penasaran serta membuatnya geregetan.

Seiring berjalannya waktu, Lia semakin giat untuk menyalurkan hobinya ini dari kolam ke kolam di sekitaran Jabodetabek. Mancing membuat dirinya seolah terbebas dari segala penat yang dirasakannya sehari-hari. Gerak menggoda khas dari kumbul ketika umpan dimakan ikan mampu hadirkan rasa kesenangan tersendiri bagi Lia.

Jika mulanya sang suami lebih aktif mancing, kini justru kebalikannya. Lia senantiasa lebih sering menghabiskan waktu khususnya di akhir pekan untuk memancing di pelbagai perlombaan mancing ikan mas yang diadakan. Intensitas mancingnya yang tinggi itu justru membawa nama Lia lebih populer dibanding suaminya yang cenderung pendiam.

Demi melangsungkan hobi mancingnya itu, Lia bahkan lebih sering melakukan seorang diri tanpa ditemani jika sang suami sedang berhalangan hadir. Baginya, rasa percaya diri tinggi serta mainset positif membuatnya berani untuk melakukan kegiatan mancing walau di kolam lebih sering dikunjungi oleh laki-laki.

“Teman banyak, pengalaman banyak, selain itu dengan mancing kita juga bisa mengenal berbagai macam sifat dan karakter orang. Mereka semua pasti berbaur dalam satu kolam. Semacam seperti ajang silaturahmi,” jelas Lia. Secara pribadi, ia tetap merasa nyaman menggeluti hobinya ini walau mancing mayoritas diminati oleh kaum adam. Lia selalu berprinsip bahwa mancing adalah sebagai ajang refreshing.

Mancing tidak selalu menghadirkan cerita menyenangkan bagi Lia. Pada suatu hari, dirinya sempat dikagetkan dengan tindakan rekanrekan di kolam yang menyeburkan dirinya ke air. “Saya masih ingat sekali waktu itu saya sedang merayakan ulang tahun. Setelah mengucapkan selamat, mereka kemudian mendorong hingga saya tercebur ke kolam. Tapi ya mungkin ini bentuk perhatian teman-teman semua ke saya,” ceritanya yang sempat kesal.

 Suasana kolam Pemancingan Telaga Syakila yang dimiliki oleh Lia dan suaminya.
Suasana kolam Pemancingan Telaga Syakila yang dimiliki oleh Lia dan suaminya.

Mpok Lia, begitu ia kerap disapa, tidak hanya seorang Lady angler. Sudah sekitar 3 bulan belakangan ini dirinya bersama suami mengambil-alih kepemilikan kolam pancing ikan mas Telaga Syakila di daerah Gandul, Cinere, Depok. Kecintaannya terhadap hobi mancing membawanya untuk berani mengelola kolam pancing di tengah semakin banyaknya kolam di Jabodetabek.

Mengenai bisnis kolam pemancingan ini diakuinya tidak ada niat sedikit pun untuk mencoba mengelolanya. namun, dari segi bisnis dan hobi, ia dan suami melihat ada peluang besar dalam prospek jangka panjang. “Telaga Syakila resmi dibuka pada 10 Maret 2019. Memang tergolong masih baru dan harus bersabar dalam mengelolanya,” ucap Lia yang juga memiliki usaha toko pancing ini.

Aksi Lia ketika melakukan kegiatan mancing di Kolam.

Berkah yang didapatkan dari pengelolaan kolam selain dari segi materiil, juga terciptanya momentum silaturahmi antar pemancing di kolam miliknya tersebut. untuk itu, dalam hal pemeliharaan kolam ini ia lakukan secara sungguh-sungguh agar ikan memiliki minat makan yang tinggi sehingga tidak mengecewakan para pemancing.

“Beberapa kali saya kerap diundang untuk hadir mengikuti lombalomba mancing oleh rekan-rekan. Dengan adanya kolam pancing ini, saya berharap juga bisa mengundang rekan-rekan sekalian untuk datang bersilaturahmi di perlombaan yang diadakan setiap Kamis dan Minggu,” lanjut dia.

Di akhir perbincangan, Lia berharap dengan adanya kolam ini, dirinya bisa bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang khususnya di segala aktifitas mancing yang dilakukan. Selain tentunya secara pribadi dirinya ingin terus menempa pengalaman dengan mendapatkan prestasi dari setiap perlombaan mancing yang dilakukan. – Rico Prasetio