Devy Sailina Menguatkan Konsistensi Memancing

Konsistensi harus dikuatkan ketika hobi menemukan gairah kulminasi. Sebab sesuatu yang dilakukan dengan semangat tinggi, pasti akan mendapatkan hasil maksimal. Begitulah Devy menanggapi kegiatan mancing yang ia geluti secara tekun tersebut.

Dominasi kaum adam dalam hobi ini rupanya membawa tekad besar Devy untuk terus mengasah kemampuan mancing guna mendobrak tembok genderisasi.

Sebagai lady angler, secara mendasar Devy memotivasi diri agar selama menekuni hobi mancing, dirinya tidak hanya mendapatkan kesenangan, namun juga bisa memetik ilmu pengetahuan nan positif.

Bagaimana perjalanan mancing Devy menerabas beragam halangan dalam upayanya memperkaya pengetahuan mancing? Simak wawancara Sahabat Mancing dengan Devy berikut ini:

Bisa diceritakan, bagaimana awal mulanya anda bisa tertarik melakukan kegiatan mancing?

Sebenarnya boleh dibilang mancing adalah bakat, karena sejak kecil memang kerap bermain di sungai, laut dan tambak untuk mencari ikan. Tidak bisa melihat air. Selalu membayangkan ada ikan didalamnya untuk di pancing.

Ketika peranti mancing tidak selengkap sekarang, saya membuat sendiri dari bambu, senar, pelampung dari sendal jepit yang dipotong, dan pemberat memakai peluru timah senapan angin. Kegiatan mancing itu dilakukan sepulang sekolah.

Belakangan 5-6 tahun ini menyukai teknik casting, terlebih dengan peranti ringan (ultralight fishing). Sebelum UL banyak dibicarakan, hanya sedikit pemahaman saya mengenai peranti ringan. Dimana saya cenderung menggunakan senar pancing ukuran #1 dan leader 20 lbs sehingga kurang balance dengan joran dan ril.

Lebih tepatnya saya sekarang cenderung menyukai casting dengan piranti UL. Peranti ringan cocok diaplikasikan perempuan, karena alat yang digunakan tidak berat tapi masih hadirkan sensasi asyik, melatih sensitivitas, kesabaran, juga ada tantangan untuk create dan modikasi settingan supaya senar tidak putus ketika disambar ikan besar.

Pernah dapat ikan genghis khan pakai UL di Monstero Pond, Surabaya seberat 30 kg. Landed 30 menit.

Selama menjalani kegiatan mancing, siapa pemancing yang sangat anda idolakan dan menginspirasi anda?

Banyak pemancing yang saya idolakan, yang menambah wawasan saya, karena setiap pemancing mempunyai karakter, gaya, dan kemampuan masing-masing. Semua itu mengisnpirasi saya untuk menjadi diri saya sendiri juga membentuk karakter saya dalam memancing.

Sejauh ini saya mengagumi Jeremy Wade (seorang ahli biologi yang aktif menjelajah lokasi-lokasi mancing ekstrem guna mendata spesies-spesies ikan di dunia). Mungkin karena dasarnya dia biologist, jadi dia selalu bisa menjelaskan sesuatu secara scientific.

Dia juga menulis buku tentang memancing. Saya sangat terinspirasi dari Jeremy. Sebab bagi saya mancing bukan sekedar kesenangan saja, tetapi selalu ada ilmu positif yang bisa kita dapatkan.

Bagaimana anda memandang kegiatan mancing yang dilakukan oleh perempuan?

Tak bisa dipungkiri jika perempuan dengan hobi memancing dipandang kurang lazim di Indonesia. Tapi dengan kemajuan informasi dan teknologi, semakin banyak pula perempuan yang tertarik dengan dunia memancing. Saya kira hobi memancing adalah bagus, asal kita fokus untuk mengasah kemampuan dan pengetahuan.

Karena di era seperti ini, wanita juga harus mampu melakukan apa yang bisa dilakukan oleh pria selama itu positif. Ketika mereka (laki-laki) tahu kemampuan yang kita miliki, kita bisa berjalan seiring sejalan tanpa ada perbedaan gender dalam memancing. Alhamdullilah sampai hari ini tidak ada masalah berarti karena dukungan penuh datang dari keluarga. Untuk pekerjaan, kebetulan karena saya orang lapangan, peranti selalu ada di mobil, kalau ada tempat menarik tinggal mampir mancing sebentar.

Dari awal mula anda menekuni kegiatan mancing hingga sekarang ini, sebenarnya kesulitan apa yang anda hadapi dan bagaimana cara anda melewatinya?

Ini pertanyaan yang sangat saya suka. Kesulitan yang sesungguhnya adalah bukan mengenai teknik mancing atau wawasan tentang peranti, tapi justru melawan paradigma yang menganggap perempuan tidak lazim memancing.

Belum lagi dihadapkan dengan komentar para pemancing pria yang kerap meremehkan kita dan sulitnya mencari teman memancing sesama wanita. Alhamdulillah saya sudah berhasil melewati itu semua melalui proses dan pembuktian. Rutin memancing, melatih fisik, serta melatih akurasi lemparan (di casting) adalah kunci.

Semakin sering kegiatan mancing dilakukan maka akan menimbulkan kepercayaan diri akan kemampuan kita. Sementara untuk kebutuhan informasi seputar mancing, konten-konten dari sosial media seperti Youtube menjadi tempat terbaik guna mendapatkan asupan edukatif. Selain juga ditambah upaya diskusi dengan dengan pemancing lain.

Di sini peran komunitas sebagai wadah komunikasi sangatlah penting. Ketika bergabung dengan sebuah forum dan komunitas, kita harus memiliki tujuan dan motivasi bahwa hanya ilmu dan pengalaman yang harus diambil. Sebab tujuan lain selain yang saya sebutkan di atas justru akan membuat kita terlena dan larut dalam arogansi.

Dari sekian banyak lokasi mancing yang ada, adakah tempat atau wilayah yang ingin sekali anda datangi?

Terkadang, sesekali saya ingin mancing di suatu tempat yang jauh dari keramaian sehingga saya bisa menikmati kesendirian saya. Merelaksasikan diri lewat mancing. Pastinya di alam liar, namun tetap di Indonesia. Mengapa tidak di luar negeri? Karena menurut saya Indonesia is the best place for fishing I think.

Banyak lokasi yang membuat saya tertarik, sebut saja Labunbajo (Lombok), serta Rajaampat dan Merauke di Papua. Kita semua tahu, apalagi alasannya, jika bukan masih terjaganya keasrian alam di lokasi mancing tersebut. Kalau spesies ikan saya tidak ada target tertentu, karrna setiap ikan punya sensasi sendiri-sendiri.

“Selain dari aspek seni, keindahan dan sains yang kompleks, fly fishing juga memiliki konsep yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebab fly fishing tidak hanya kegiatan mancing semata, namun di dalamnya juga ada proses, salah satunya proses membuat umpan tiruan yang tepat agar disukai ikan yang ditargetkan.” 

Sejauh ini, pencapaian apa saja yang telah anda dapatkan dari kegiatan mancing yang dilakukan?

Tidak ada target atau pencapaian khusus dalam hal kompetisi yang saya jalani di kegiatan memancing. Karena saya lebih concern untuk belajar, menambah wawasan serta berbagi dengan sesama.

Tidak ada persaingan dengan pemancing, saya menganggap mereka semua teman sesama passion. Justru dengan banyak pemancing lain, saya juga kerap terlibat dalam kegiatan pelestarian lingkungan dan aksi sosial seperti penanaman bakau, tebar bibit dan berbagi dengan anak yatim.

Beberapa kali juga saya diundang menjadi narasumber untuk acara tentang hobi unik wanita termasuk di stasiun TV lokal SBO dan JTV. Di sana saya memberikan sedikit pengetahuan tentang memancing, yang mana jarang sekali diketahui dan dipahami para wanita. Kalau kita serius dan passion kita kuat, kita harus konsisten. – RICO P.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.