Mancing Lestari Fishing Community : Melestarikan Kekeluargaan

Mengawali langkah dari salah satu sudut perumahan yang tenang di Pademangan, Mancing Lestari Fishing Community (MLFC) berkembang pesat. Akar kekeluargaan, seperti awal mula dibentuk sebagai tempat berkumpulnya keluarga besar dalam menjalani hobi mancing, terpancang kuat sekali. Tujuh tahun rasanya bukan waktu yang sebentar bila melihat kenyataan dimana beberapa komunitas mancing lain mulai pudar, bahkan mati suri.

Berdiri sejak 2012 silam, MLFC tak terlekang oleh waktu. Beragam cerita serta pengalaman berharga dalam berkomunitas dijalani hingga mendewasakan insan di dalamnya. Bagaimana MLFC tetap solid di antara dinamika berkomunitas di dunia mancing? Seberapa penting peran ketua dan komunikasi antar anggota dalam mempersolid komunitas mancing? Berikut penuturan ketua MLFC, David Tan kepada Sahabat Mancing.

Selama berkomunitas sejak 2012, apa kendala terbesar yang kerap dihadapi, khususnya dalam keanggotaan MLFC dan bagaimana menanggapinya?

Manusiawi ya, semua komunitas mancing pasti pernah mengalami masalah internal, bahkan berujung pada keluarnya beberapa anggota karena dirasanya sudah tidak cocok lagi dengan komunitas ini. Namun seiring berjalannya waktu juga ada penambahan anggota baru. Sejauh ini bahkan lebih banyak yang masuk (anggota MLFC) dibanding yang keluar. Sebenarnya sederhana saja, agar tetap kompak kami selalu menekankan bahwa selama dalam forum kopdar, antara anggota boleh adu argument atau berbicara apapun walau terkadang melebihi batas. Keadaan harus kembali normal setelah kembali ke rumah masing-masing. Semua penyampaian kepada para anggota sebaiknya dilakukan dengan cara santai dan bergurau. Pembicaraan serius pun selalu bergurau, jadi terkadang sulit membedakan mana serius mana tidak. Tapi itu akan lebih asyik.

Ketua merupakan kontrol sebuah komunitas agar tetap solid, bagaimana menurut anda?

Sebenarnya di MLFC tidak ada posisi ketua, saya hanya penyedia wadah dimana para teman-teman yang hobi mancing itu bisa berkumpul. Terus terang sampai saat ini saya tidak pernah mengaku bahwa saya adalah ketua. Saya ingin semua teman-teman di MLFC ini bisa saling mendukung, sama-sama menjadi penyeimbang sehingga bisa kompak dan maju bersama. Peran penyeimbang dalam hal ini mungkin ketua sangatlah penting bagi kesolidan sebuah komunitas mancing. Di MLFC tidak hanya saya, semua berperan meredam jika ada beberapa anggota yang sudah mulai terlihat memanas obrolannya. Pasti salah satu anggota ada yang langsung nimbrung dan membawa pembicaraan yang memanas tadi ke arah yang lebih santai.

Di MLFC juga ada kopdar rutin di markas setiap malam Rabu, apa tujuannya?

Kegiatan berkumpul atau kopdar dalam sebuah komunitas itu penting. Sebab tidak semua anggota komunitas bisa berkumpul dalam satu kegiatan trip mancing karena masing-masing kesibukan di akhir pekan. Untuk itu, guna memaksimalkan komunikasi tatap muka khususnya bagi anggota MLFC, kami sudah rutin melakukan kumpul bersama setiap Selasa malam di markas kami di wilayah Pademangan yang berada di kediaman saya. Mengapa Selasa malam? Kami menganggap Selasa adalah momen yang tepat untuk melepas penat setelah melewati tekanan pekerjaan di awal minggu. Di pertemuan rutin ini, suasana santai dan akrab rasanya akan membawa kita pada ketenangan, berbagi pengalaman mengenai kegiatan mancing yang biasanya dilakukan di akhir pekan. Sehingga ini jadi kunci supaya MLFC tetap solid.

Kembali ke awal pembentukan, bagaimana ceritanya mulanya MLFC bisa didirikan?

Awalnya saya bersama keluarga kerap melakukan kegiatan mancing di Kepulauan Seribu, Jakarta. Dari intensitas mancing kami yang tinggi itu, terpikirlah untuk membuat nama. Tempo hari, ketika kami mancing, kami berhasil strike ikan layaran di Kepulauan Seribu. Saat itu, jargon “Mancing Mania, Mantap” sedang viral-viralnya. Tidak ingin menyamai namun tetap mudah diingat, secara spontan pada saat strike layaran itu, salah satu teman ada yang tiba-tiba berteriak, “Mancing Lestari, Mantap”. Penamaan lestari diambil dari nama usaha yang keluarga kami gerakkan yaitu Sinar Lestari. Usai trip itu, kami pun membuat grup Blackberry Messenger (BBM) dengan nama Mancing Lestari Fishing Club degan logo ikan layaran. Maksud dari lestari juga terinspirasi dari salam lestari sebagai salam pelestarian alam. Sebab kami mancing juga ingin ikut melestarikan lingkungan.

Diusianya yang ke tujuh tahun ini, refleksi apa yang coba dilakukan MLFC agar kedepannya komunitas ini tetap solid?

Dari bertahun-tahun berjalan, suka duka pernah kami lewati. Pada intinya, beragam kejadian yang dialami selalu kami jadikan pembelajaran untuk menjadi lebih baik lagi dan solid dari sebelumnya. Karena ketika sudah solid satu sama lain, dengan berjalannya waktu orang bisa menilai bagaimana kami bisa menjadi seperti sekarang. Ya, intinya kekompakkan satu sama lain harus benar-benar diterapkan agar jalan panjang komunitas bisa sama-sama diarungi.

Rayakan Hari Jadi Ke-7, MLFC Makin Solid

Komunitas mancing asal Jakarta, Mancing Lestari Fishing Community (MLFC) merayakan hari jadinya yang ke-7 dengan menggelar turnamen mancing di perairan Kep. Seribu, Jakarta, Minggu (23/9). Sebanyak lebih dari 40 anggota aktif MLFC turut serta meramaikan mini turnamen yang terbagi dalam 8 perahu mancing dari dermaga Tanjungpasir, Tangerang.

“(Kegiatan ini) digelar untuk merayakan hari jadi ke-7 MLFC yang didalamnya dijadikan sebagai momentum merekatkan kembali kekeluargaan di komunitas ini,” jelas David Tan, Ketua MLFC usai acara. David menyebutkan, pemilihan laut di Kepulauan Seribu sebagai lokasi perayaan hari jadi MLFC ini tidak lain juga guna mewadahi para anggota yang memiliki minat mancing di saltwater.

“Perayaan hari jadi MLFC ini memang rutin diadakan 2 tahun sekali. Terakhir, waduk Cirata di Bandung Barat dijadikan sebagai lokasi perayaan serupa untuk mewadahi para anggota yang menyukai casting dengan target predator air tawar,” lanjut David.

Memang sejak didirikan pada 2012 silam, MLFC memang lebih dominan aktif melakukan kegiatan mancing di spot-spot air asin. Namun seiring dengan perkembangan dunia mancing, beberapa lokasi di perairan tawar (wild fishing) juga sudah banyak disambangi MLFC.

Di tahun ke-7 ini, David berharap MLFC tetap menjadi wadah berkumpul dan komunikasi yang baik bagi para anggota-anggotanya. Ia mengajak untuk tetap mengutamakan sifat kekeluargaan dan menepiskan rasa sakit hati dalam berkomunitas, baik yang disengaja maupun tidak. Selain itu juga harus menjaga perasaan sesama anggota. Sebab menurutnya, upaya tersebut diyakini mampu membawa MLFC tetap eksis hingga saat ini.

Perayaan hari jadi MLFC ke-7 sukses diselenggarakan di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (22/9). Delapan unit kapal digunakan guna membawa para anggota MLFC menuju spot-spot potensial. Pada kesempatan kali ini, MLFC juga tidak meninggalkan tanggung jawabnya terhadap kebersihan lingkungan dengan menyediakan plastik sampah agar sampah-sampah konsumsi tidak di buang ke laut.

Uniknya, plastik besar dengan isi sampah tersebut usai acara wajib diserahkan kepada panitia untuk dijadikan salah satu syarat penimbangan ikan-ikan hasil tangkapan peserta. Tak lupa, David mengucapkan banyak terima kasih kepada para pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini terutama anggota MLFC dan para sponsor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.