F7F: Mancing dan Pelestarian di Tanah Pahlawan

Sebagai rasa penghormatan kepada para pahlawan yang berjuang membela tanah airnya, sebuah komunitas mancing asal kota Pagatan, Tanahbumbu, Kalimantan Selatan terinsipirasi untuk menyematkan nama Fishing 7 Februari (F7F) sebagai title komunitas mereka. Sedikit terdengar asing bagi khalayak luas mengingat umumnya sebuah komunitas mancing menyematkan istilah-istilah di dunia pemancingan.
Namun bagi mereka yang bermukim di wilayah Kabupaten Tanahbumbu dan sekitarnya, nama ini kadung membumi sebagai sebuah histori patriotik yang selaku dikenang setiap tahunnya.

Ya, 7 Februari menjadi tanggal bersejarah tentang peristiwa diproklamirkannya Mosi Rakyat Pagatan dan Pulau Laut, yang menyatakan tetap berdiri tegak di belakang NKRI.

Peristiwa heroik masyarakat Pagatan yang berjuang membela tanah airnya itu, yang ingin terus dihidupkan oleh pegiat mancing Tanahbumbu lewat komunitas Fishing 7 Februari. Tidak hanya sekadar formalitas nama, F7F cukup eksis di dunia pemancingan Tanahbumbu lewat serangkaian kegiatan sosial hingga pelestarian lingkungan bagi masyarakat sekitar.

Lalu seberapa besar kiprah mereka dalam melakukan kegiatan sosial untuk tanah air tercinta? Simak wawancara Sahabat Mancing dengan Datu Muning, pembina Fishing 7 Februari berikut ini:

Bisa diceritakan awal sejarah terbentuknya komunitas F7F?
Berawal dari kumpul-kumpul sesama teman yang hobi mancing di (kabupaten) Tanahbumbu, kemudian berlanjut ke trip mancing bareng. Setelah beberapa kali trip bersama, seiring berjalannya waktu ternyata kami juga memiliki pemikiran yang sama soal aktivitias di dunia mancing. Kesamaan pandangan dan visi itulah yang membuat kami terlintas untuk membuat klub mancing. Maka tercetuslah sebuah komunitas mancing yang didirikan oleh beberapa pemancing Tanah Bumbu. Karena bertepatan saat tanggal 7 Februari tahun 2017 kemarin, sehingga kami berikan nama Fishing 7 Februari sebagai nama komunitas.

Mengapa mengangkat nama Fishing 7 Februari sebagai sebuah nama komunitas?
Sekadar info saja, kebetulan kami berdomisili di sebuah kota kecil bernama kota Pagatan. Pagatan sendiri lebih di kenal sebagai kota Pahlawan, karena pada 7 Februari 1946 tedapat peristiwa heroik perjuangan masyarakat Pagatan yang mempertahankan kemerdekaan dari para penjajah. Sejarah itu dikenal sebagai Peristiwa 7 Februari, sehingga kami terinspirasi untuk menggunakan peristiwa itu sebagai nama komunitas.

Tujuannya adalah sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih sekaligus untuk menghormati dan juga mengenang jasa para Pahlawan Pagatan.

Foto- foto Kegiatan Komunitas Fishing 7 Februari sebagai berikut:

 

Inspirasi apa yang diambil dari peristiwa 7 Februari dalam aktivitas mancing saat ini?
Ini menjadi refleksi diri bagi kami sebagai generasi penerus bangsa Indonesia, untuk terus mempertahankan kemerdekaan dengan kegiatan yang positif. Terlebih kami sebagai pemancing juga ingin mengangkat potensi alam Pagatan dan Tanahbumbu sebagai destinasi mancing andalan di Kalimantan Selatan. Selain melakukan trip mancing rutin, kami juga melakukan kegiatan yang sifatnya pelestarian lingkungan dan juga bakti sosial kepada masyarakat sekitar. Jadi rasionya 50-50 antara hobi dengan kegiatan sosialnya.

Hal ini sesuai dengan visi kami yaitu bukan hanya menjalin silaturahmi sesama pemancing dengan melakukan trip mancing dan kopdar, tapi juga peduli dengan kelestarian alam. Kami sudah melakukan beberapa kegiatan sosial, diantaranya penebaran bibit ikan sungai dan desa di Pagatan. Kemudian pemberian bibit kepada masyarakat, sosialisasi illegal fishing, serta pelesetarian ekosistem. Sehingga keberadaan F7F ini khususnya di Tanahbumbu bisa dikenal dan membawa manfaat bagi masyarakat. Walaupun untuk skala provinsi Kalimantan Selatan kami masih baru, tapi kami tidak ada salahnya untuk memulai dari kota sendiri.

Mengapa F7F tergerak untuk aktif melakukan kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan?
Kami tergugah karena melihat kondisi alam di Kalimantan Selatan, khususnya di Tanahbumbu dan Pagatan sekarang sudah mulai rusak akibat ulah tangan-tangan manusia tak bertanggung jawab. Apalagi di Tanahbumbu marak terjadi praktik penangkapan ikan dengan cara disetrum dan cara-cara lain yang sifatnya merusak lingkungan. Untuk itu kami tergerak karena kesamaan visi dan kepedulian terhadap tanah air tercinta. Saat kami rutin melakukan sosialisasi pelarangan penyetruman, selama satu bulan penuh kami kontrol di lapangan.
Ternyata masih ada saja orang yang melakukan penyetruman, tapi setelah itu kami juga laporkan kepada kepala desa setempat. Akhirnya oknum tersebut sudah berhenti setrum.

Bagaimana dengan potensi mancing di Pagatan dan apa harapan besar bagi F7F?
Pagatan sendiri banyak spot yang belum terekspos dengan baik, padahal dari spot freshwater, landbase sampai saltwater. Pagatan memilikinya karena posisinya yang berbatasan lansgung dengan Laut Jawa. Selain laut, di setiap desa di Pagatan memiliki spot alami, misalnya desa Salimuran, Semampai, sampai Sardangan mulai dari danau, sungai, sampai kubangan jadi spot mancing. Potensinya yang umum ada Gabus dan Toman, lalu bergeser ke hilir ada Mangrove Jack, Betik, Papuyu, sampai Blackbass.
Untuk itu, dari beragam potensi yang ada di Pagatan, sangat disayangkan bila rusak begitu saja hanya karena tangan-tangan oknum penyetrum, racun dan bom ikan. Kami bersama komunitas lain juga merangkul masyarakat untuk ikut berperan dalam menjaga pelestarian lingkungan. Sejauh ini respon dari masyarakat cukup baik. Bahkan ada masyarakat yang berinisiatif untuk beli bibit sendiri. Mereka berkata ingin mencoba mandiri dan tidak ingin terus-terusan mengharap bantuan dari kami. –Heksa Ragil P.