Berlayar Menuju Selayar

Dari kejauhan , terlihat tiang ka yu muncul perlahan . Sebuah kapal kayu dengan satu layar dengan gagahn ya membelah samudera untuk menuju satu tujuan .

Kapal dari negeri seberang tersebut datang dengan damai , membawa segala macam komoditas niaga untuk ditukar dengan rempah-rempah yang baru disemai.

Namun sebelum menuju tempat yang dituju , kapal singgah sejenak di sebuah pulau tak bertuan , untuk mengisi perbekalan sekaligus bertukar kebudayaan .

hasil tangkapan dalam trip ini didominasi oleh ikan berjenis dogtooth tuna atau tuna gigi anjing. foto : udyn boge

Adalah Selayar, tempat strategis di tengah lautan bagi kapal pengembara untuk menutup layar. Kini Selayar bukan hanya sebagai tempat berlabuh sementara, beranjak jadi spot idaman para pemancing Nusantara.

Tidak hanya kapal perniagaan yang bersandar, tapi juga kapal mancing untuk berburu koloni predator bawah laut berbobot besar.pada abad ke 14 saat era perniagaan antar benua berkembang ke seantero dunia, mungkin Maluku adalah salah satu tempat di Nusantara yang paling banyak dituju oleh para kapal pengembara dari Tiongkok dan Eropa.

Penyebabnya tak lain karena Maluku adalah lumbung harta karun Nusantara yang banyak dicari kaum pedagang internasional pada era itu, yaitu rempah-rempah.

Namun tak banyak yang tahu jika sebelum menuju Maluku, banyak kapal pedagang yang singgah sementara di Selayar. Sebuah pulau terluar di ujung selatan Sulawesi yang letaknya cukup strategis di tengah-tengah Nusantara.

Maka dari itu nama Selayar diambil dari bahasa sansekerta yaitu cedaya yang berarti satu layar, karena konon sejak abad 14 banyak perahu layar yang singgah di Selayar. Sebagai sebuah daerah kepulauan, kini kabupaten Selayar menjelma bukan hanya sekadar tempat singgah, tapi juga menjadi salah satu destinasi bahari andalan di Sulawesi.

Serupa dengan wilayah lain di Sulawesi dan Indonesia timur lainnya, sektor perikanan dan wisata alam gugusan kepulauan menjadi primadona utama perekonomian kabupaten Selayar. Terlebih perairan Selayar berada di kawasan Laut Flores yang memang dikenal sebagai salah satu lumbung Tuna Indonesia.

Maka tak heran banyak pegiat mancing dari berbagai daerah mulai banyak melirik Selayar sebagai salah satu destinasi spot mancing. Termasuk beberapa rekan pemancing saya yang hendak melakoni trip mancing di kabupaten paling selatan di Sulawesi itu.

Sebagai seorang event organizer (EO) atau guide bagi pemancing yang ingin menjalani trip di Selayar, tentu saya sudah mahfum dengan seluk beluk spot mancing yang ada di kota kelahiran saya ini. Ada banyak spot mancing yang bisa dieksplor kala kita berada di perairan Flores.

Kekayaan Selayar

Tentu yang menjadi primadona bila pemancing bila mengunjungi Selayar adalah spot yang berpotensi dengan koloni keluarga Tuna, khususnya Dogtooth Tuna atau Tuna Gigi Anjing. Dua spot yang paling umum untuk disinggahi adalah spot Pulau Bahuluang dan Polassi.

para peserta trip km pesona sela yar tengah berpose bersama sebelum melakukan perjalanan menuju beberapa spot potensial di sekitar perairan kepulauan sela yar. foto : udyn boge

Keduanya bila ditarik secara garis lurus dari dermaga, berjarak sekitar 40 km bila ke Pulau Bahuluang dan 65 km bila ke Polassi. Untuk jarak tempuh yang dibutuhan sekitar tiga jam pelayaran menggunakan kapal mancing yang tersedia dari pelabuhan Benteng. Secara umum ada dua kapal mancing yang tersedia di pelabuhan di barat Pulau Selayar ini.

Pertama KM Pesona Selayar kelas 56 GT yang dapat menampung sekitar 10-15 pemancing. Kedua KM SMK dengan kelas 65 GT yang memiliki kapasitas 15 pemancing, serta beberapa kapal mancing tambahan kelas dibawah 30 GT. Untuk trip kali ini, saya dan beberapa rekan angler dari Sulawesi Selatan berkesempatan untuk menggunakan kapal pesona Selayar sebagai armada mancing.

Selama tiga hari dua malam, dari tanggal 26 Juni sampai 28 Juni 2019, kami mengembara di beberapa spot potensial untuk bersua langsung dengan predator bawah laut Selayar.

Ragam Spot Mancing

Spot pertama yang kami tuju ialah di karang Bahuluang karena jaraknya yang paling dekat dibanding spot lain. Sesuai dengan namanya, spot ini masih kaya akan topografi terumbu karang di dasar perairannya. Potensi dari spot Bahaluang ini didominasi oleh ikan spesies karang seperti Giant Trevally (GT) dan Kerapu.

Para peserta trip tengah memamerkan sejumlah tangkapan yang sukses dihasilkan saat mengeksplorasi spot-spot potensial di selayar. hasil tangkapan dalam trip ini didominasi oleh ikan berjenis dogtooth tuna atau tuna gigi anjing. foto : udyn boge

Setelah asyik pemanasan di spot pertama, baru kami beranjak menuju spot utama yang menjadi arena koloni Tuna berlalu-lalang. Spot tersebut berada di sekitar segitiga perairan antara pulau Jampea selatan Takabonarate sampai ke timur di Pasilambena.

Di dasar perairan ini terdapat topografi sea mount reef (SMR) atau gunung bawah laut yang menjadikan di sekitar perairan ini cenderung menghangat.

Kedalamannya perairan di kawasan Jampea ini juga cukup beragam. Mulai dari 60 meter hingga drop off sampai 300 meter. Tak ayal bila di kawasan ini seluruh teknik mancing dapat diterapkan oleh para pemancing. Namun yang paling banyak diandalkan adalah teknik jigging dan bottom fishing atau dasaran.

Hampir seluruh spesies ikan prestisius yang menjadi bidikan para pemancing tersedia di segitiga perairan ini. Misalnya saja dengan teknik jigging, target yang paling banyak dijangkau adalah Doggie, YFT, Ruby, Kurisi, GT, dan Amberjack.

Kemudian untuk dasaran target yang paling banyak diburu adalah Kerapu, Barakota, hingga Escolar. Kami pun secara serempak mengandalkan kedua teknik mancing tersebut. Ketika layar fish finder menunjukan angka kedalaman 60-150 m, kami mengaplikasikan teknik jigging dan slow jigging.

Walau ketika metal jig kami menembus perairan tak langsung mendapat sambaran, namun dengan gigih para rombongan pemancing asal Sulawesi Selatan ini terus me-retrieve untuk memikat sang predator di dasar.

Akhirnya usaha tak akan mengkhianati hasil itu benar adanya. Beberapa peserta trip berhasil mendapatkan sambaran beradu fight dengan buruan mereka. Secara cermat satu per satu strike dapat dikonversikan menjadi tangkapan ikan yang berhasil dinaikan ke geladak kapal.

Saat siang, tangkapan kami didominasi oleh Ruby, GT, dan Kurisi Hijo. Saat Malam hari baru tangkapan kami benar-benar dihegemoni oleh perlawanan dari si Tuna Gigi Anjing.

Meski kami tidak terlalu mendapat hasil ‘panen raya’ pada trip kali ini, namun bisa mengeksplorasi perairan Selayar selalu menjadi pengalaman berkesan.

Musim Ideal Mancing

Secara periode, waktu ideal untuk menjalani trip mancing di Selayar pada akhir bulan September sampai awal Desember atau pada musim angin barat dan peralihan dari timur ke barat.

Pada waktu tersebut, kondisi laut Flores tengah mengalami up-welling atau pembalikan massa air dampak dari hembusan angin. Fenomena pembalikan massa air ini terjadi ketika massa air yang memiliki suhu lebih dingin di dasar laut, bergerak naik ke permukaan akibat pergerakan angin di atasnya.

Berbagai lokasi spot mancing potensial yang bisa di eksplorasi oleh pegiat mancing nusantara.

Pergerekan massa air ini tentu membawa pula nutrisi laut yang dibutuhkan mikro-organisme fitoplankton untuk bertumbuh serta memperkaya biomassa di perairan tersebut. Peningkatan biomassa ini berkontribusi juga terhadap pergerakan koloni ikan secara besar, sehingga meningkatkan hasil tangkap perikanan para nelayan.

Pada akhirnya, Selayar memang menjadi tempat persinggahan. Tidak hanya bagi para pelayar, tapi juga bagi koloni ikan besar yang mengesankan. Selain karena faktor alam, keberkahan dunia mancing Selayar yang terus menggeliat juga tak lepas dari peran dan dukungan pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati Selayar, Basli Ali.

Bupati tidak hanya mendukung lomba mancing yang kerap diselenggarakan di Selayar, tapi juga ikut memantau perairan Selayar sekaligus untuk menekuni hobi mancingnya. –UDIN BOGE