Adakah Kaitan Terdamparnya Ribuan Lemuru dengan Gempa di Bali?

Jakarta, SAHABATMANCING.COM – Ribuan ikan lemuru yang terdampar di pesisir Pantai Canggu, Badung, Bali, Senin (15/7) malam waktu setempat diyakini sebagian masyarakat sebagai pertanda awal mula gempa yang menerjang Bali keesokan harinya. Bagaimana pendapat ahli mengenai fenomena ini?

Foto ilustrasi ikan. Flickr

Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 6 mengguncang Pulau Bali, Selasa (16/7) pagi pukul 07.18 menit WIB. Sempat viral di media sosial sebelumnya sebuah video berdurasi 2 menit 9 detik itu memperlihatkan puluhan warga sedang menangkap ikan-ikan yang berserakan terbawa ombak di tepi pantai dan mengaitkan fenomena itu sebagai tanda gempa di Bali.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana, Sub Direktorat Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim KKP, Abdul Muhari menyebutkan kaitan fenomena terdamparnya ikan-ikan lemuru itu dengan datangnya gempa agak absurd.

Dalam konteks ini agak absurd memang jika menghubungkan antara kemunculan lemuru dalam jumlah besar di pantai dengan gempa keesokan harinya. Karena lokasi gempa berada pada zona yang lebih dalam daripada zona hidup lemuru,” jelas saat dihubungi via pesan singkat, Rabu (17/7).

Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa yang terjadi di Bali itu berpusat di 83 kilometer barat daya Nusa Dua, Bali, dengan kedalaman 68 kilometer. Secara umum, ikan lemuru adalah ikan pelagis kecil yang ditemukan biasanya pada kedalaman tidak lebih dari 200 meter. Artinya, kecil kemungkinan lemuru dapat merasakan ‘sinyal’ gempa dari dasar laut dalam.

“Memang lokasi episentrum gempa di Bali kemarin itu berada pada zona tangkapan ikan lemuru di sebelah selatan-timur Banyuwangi atau selatan-barat Selat Bali, akan tetapi gempa berada pada zona kedalaman laut sekitar 500-700 meter dengan kedalaman episentrum gempa sampai 80 kilometer,” tegas Muhari.

Ia menambahkan, kemunculan lemuru dalam jumlah besar biasanya disebabkan oleh fenomena upwelling, yakni sirkulasi arus dasar yang naik ke permukaan yang membawa banyak unsur hara atau nutrien untuk ikan.

Terkait kepercayaan sebagian masyarakat atas fenomena ini, Muhari mengatakan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Jepang ada kepercayaan jika oarfish (Regalecidae)muncul ke permukaan maka pertanda akan ada gempa besar.

“Kepercayaan ini didasari oleh lokasi hidup oarfish memang ada di laut dalam bahkan sangat dalam dimana gempa-gempa besar di Jepang biasanya bersumber, akan tetapi kepercayaan ini masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah,” tutup Muhari.