SIPA 2017; Edukasi Anak-Anak Gemar Makan Ikan

Festival Solo International Performing Art (SIPA) kembali akan diselenggarakaan di kawasan Benteng Vartstenberg pada 7-9 September 2017 mendatang. Dengan mengangkat tema “Bahari Kencana Maestro Karya”, ajang seni pertunjukan kelas internasional itu diawali dengan persembahan acara Gebyar Ikan kepada masyarakat kota Solo. Selain sebagai ajang pre-event, acara Gebyar Ikan dihadirkan sebagai sarana edukasi kepada masyarakat mengenai potensi bahari dan ekosistem laut Indonesia.

Anak-anak tengah menunjukan hasil tangkapan ikan usai mancing di acara Gebyar Ikan, Solo, Jawa Tengah. (Dok/SIPA Community)

Minggu pagi (27/8) di sebuah ruang terbuka hijau di tengah kota Solo, acara Gebyar Ikan diselenggarakan sebagai prolog dari rangkaian acara festival seni SIPA 2017. Bertempat di Taman Urban Forest Bengawan Solo, SIPA Community sebagai penyelenggara mengkampanyekan pentingnya makan ikan sejak usia dini, dan mengenalkan jenis ikan apa saja yang aman untuk dikonsumsi.

Merujuk pada tema acara yaitu edukasi, pengunjung yang hadir pun didominasi oleh anak-anak bersama orang tuanya. Layaknya sebuah acara keluarga, dihelat berbagai kegiatan seperti memancing ikan, memasak ikan dan menyantap ikan bersama-sama. Tak pelak nuansa keakraban dan keceriaan sangat kental terasa dalam acara Gebyar Ikan tersebut.

Afni Dhia Aqmarina selaku Humas Festival SIPA 2017 mengatakan, rangkaian acara dimula pada pukul 14:00 waktu setempat, dan diawali dengan edukasi bahari untuk anak-anak setempat. Kemudian lanjutnya, mereka diminta untuk menangkap (mancing) ikan gurame dan ikan nila yang sudah disediakan oleh panitia. Ada sekitar 30 ekor ikan Gurame dan 100 ekor ikan Nila yang ditebar oleh pihak SIPA Community.

“Setelah itu mereka masak (bakar) ikan yang sudah ditangkap bersama-sama. Lewat kegiatan tersebut kami edukasi kepada anak-anak tentang manfaat ikan bagi tubuh. Selain itu kami jelaskan apa saja nutrisi yang dikandung oleh ikan, kami jelaskan juga beberapa jenis ikan yang tidak baik untuk dikonsumsi,” ujar Dhea, kepada SahabatMancing.com lewat sambungan telepon, Selasa (28/9).

Lebih lanjut, meski kota Surakarta tidak dilewati garis pantai maupun tidak memiliki laut, namun menurut Dhea, tema Bahari yang diangkat dalam ajang SIPA 2017, lebih mengajak masyarakat Solo untuk lebih peduli terhadap lingkungan aliran sungai yang menjadi hulu dari perairan laut.

Direktur SIPA Community Irawati Kusumorasri, secara simbolis membagikan ikan yang sudah dibakar (masak) bersama-sama. (Dok/SIPA Community)

“Memang Solo kan dijuluki kota Sungai, untuk itu masyarkat bisa menjaga kebersihan laut dengan mencintai sungai layaknya halaman depan rumah mereka. Jadi mereka bisa ikut serta dalam gerakan menjaga, merawat dan mencintai laut (tentu juga samudera) untuk masyarakat Indonesia,” tutupnya.

Seperti diketahui, dalam ajang SIPA 2017, kota Solo selama tiga hari akan dimeriahkan dengan pagelaran seni skala internasional yang melibatkan peserta dari enam negara. Diantaranya; negara Jerman, Australia, Filipina, Korea Selatan, Chili dan Malaysia.