Fenomena Angin Tornado Di Laut Jakarta, Seberapa Bahaya Bagi Pemancing?

Jakarta, Sahabatmancing.com – Fenomena angin tornado di perairan Kepulauan Seribu yang terekam oleh kamera pada Senin, (23/10), membuat heboh masyarakat Ibukota yang bermukim tidak jauh dari lokasi tersebut. Pusaran angin di lautan yang dikenal dengan istilah waterspout ini, dinilai sangat langka terjadi di Indonesia yang notabene memiliki iklim tropis dan terletak di khatulistiwa. Lalu seberapa bahaya fenomena waterspout ini bagi pemancing yang kerap bersentuhan dengan badai di tengah lautan?

Fenomena Waterspout atau pusaran angin di perairan sempat muncul di laut Kepulauan Seribu, Senin (23/10). Fenomena ini membuat heboh masyarakat Jakarta karena angin tornado ini langka terjadi di Indonesia yang beriklim tropis. (Dok/Youtube).

Indonesia mengenal fenomana pusaran angin ini dengan sebutan angin puting beliung. Umumnya angin puting beliung muncul didaratan dan menerapa area lapang yang luas. Meski skalanya lebih kecil dibanding beberapa ‘saudaranya’ seperti; badai aifun di Asia Timur, hurricane di Amerika Serikat, dan tropical cyclone di negara lainnya, namun angin puting beliung tetap memberikan dampak merusak bagi bangunan atau objek yang dilewatinya.

Badan Meteorologi, Kilimatologi dan Geofisika (BMKG) menerangkan jika fenomena pusaran angin yang terjadi di lautan Jakarta ini terjadi karena efek masa transisi antarmusim. Meski potensi terjadinya angin puting beliung ini sangat kecil, namun ada beberapa faktor yang menyebabkan waterspout bisa muncul di tanah air. Salah satu indikatornya adalah efek perubahan iklim global yang mendera pelbagai belahan dunia termasuk Indonesia.

“Memang fenomena angin topan ini lazim terjadi dimana mana, sumbernya dari awan kumulonimbus atau awan hujan. Jadi angin lurus ada interaksi dengan daratan secara updraft dan downdraft. Amazing-nya fenomena angin ini muncul di Indonesia kemarin. Skalanya memang kecil, namun untuk skala angin tornado engga bisa terjadi di Indonesia karena engga dominan,” ujar Agie Wandala Putra, Kepalas Subbid Prediksi Cuaca BMKG kepada SahabatMancing.com, (24/10).

Lebih lanjut Agie menambahkan, Waterspout yang kemarin sempat terlihat di laut Jakarta umurnya hanya singkat, tidak lebih dari 15 menit. Dengan kecepatan 15 sampai 30 knot, keberadaan pusaran angin itu sempat membentuk sirkulasi di kawasan perairan dan terjadi peningkatan ketinggian gelombang sesaat yang diakibatkan oleh angin tersebut.

Untuk itu ia menyarankan bagi para pemancing atau nelayan apabla melihat fenomena waterspout di tengah lautan lepas, sebaiknya menjauhi obyek waterspout ke arah yang berlawanan dengan melihat posisi awan tebal kumulonimbus. “Atau jika memang memungkinkan segera menepi ke pulau terdekat untuk menghindari peningkatan gelombang sesaat yang ditimbulkan oleh badai angin itu,” tambahnya.

Tidak lupa Agie juga mengajurkan kepada nelayan dan pemancing untuk memperhatikan kondisi alam seperti pertumbuhan awan tebal tinggi sebelum memutus pergi melaut.  “Jika melihat pertumbuhan awan yang tinggi dan tebal menjulang tinggi di lautan, sebaiknya untuk menjauhi atau menghindari daerah tersebut, karena itu tanda-tanda keberadaan awan kumulonimbus. Paling mudah bisa lihat prakiraan cuaca atau peringatan yang tersedia di website resmi BMKG,” tutupnya.