Bagaimana Memprediksi Kemunculan Badai Tornado Di Laut?

Jakarta, Sahabatmancing.com – Kemunculan fenomena angin puting beliung di perairan Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu sempat mengkejutkan banyak pihak. Pasalnya pusaran angin di lautan yang dikenal dengan istilah waterspout ini, dinilai sangat langka terjadi di Indonesia yang notabene memiliki iklim tropis. Kondisi ini tentu menjadi alarm bagi pemancing dan nelayan yang kerap mengarungi samudera luas. Lalu bagaimana cara memprediksi kehadiran waterspout ini sebelum pergi melaut?

Badai Tornado di Kepulauan Seribu
Deretan Badai tornado di laut atau yang dikenal dengan nama Waterspout, tertangkap kamera saat berda di sekitar perairan Kepulauan Seribu, (26/10).

Senin, 23 Oktober 2017 perairan Kepulauan Seribu kedatangan ‘tamu’ dari tempat nun jauh. Tamu yang umum hadir di negara subtropis ini bertandang ke laut Jakarta di sela-sela Pulau Opak dan Kaliage, Kepulauan Seribu. Sontak saja, ‘tamu’ yang berbentuk angin puting beliung di tengah laut ini menggegerkan masyarakat di sekitar Kepulauan Seribu. Terlebih ada seorang warga yang berhasil mengabadikan kehadiran badai angin ini dan menjadi viral di jagat dunia maya.

Beruntung kehadiran fenomena angin yang dikenal dengan istilah waterspout itu mereda setelah 15 – 20 menit mengudara dan tak sampai menimbulkan korban. Menurut Agie Wandala Putra, Kepalas Subbid Prediksi Cuaca BMKG, jika fenomena angin puting beliung di Indonesia skalanya lebih kecil dibanding beberapa ‘saudaranya’ seperti; angin tornado yang menerpa Amerika Serikat, Badai Taifun di Asia Timur dan jenis-jenis tropical cyclone lainnya.

Meski begitu ia melanjutkan, daya rusak yang ditimbulkan angin puting beliung tetap berbahaya terhadap setiap objek yang dilaluinya. Untuk itu Agie tetap menghimbau kepada masyarakat khususnya bagi pemancing dan nelayan untuk tetap mewaspadai tanda-tanda atau gejala hadirnya fenomena waterspout saat pergi melaut.

“Angin puting beliung dan sejenisnya tumbuh akibat adanya awan kumulonimbus yang kuat, maka secara umum di wilayah lautan manapun terdapat potensi waterspout terutama jika terpantau adanya pertumbuhan awan tebal menjulang yang signifikan di perairan tersebut,” ujar Agie kepada SahabatMancing.com, (24/10).

Lebih lanjut ia menambahkan, potensi timbulnya fenonema waterspout mengalami peningkataan pada musim-musim transisi. Seperti transisi dari musim kemarau ke musim penghujan (September – November) maupun sebaliknya saat transisi dari musim penghujan ke musim kemarau (Maret – Mei).

Fenomena yang sama pernah terjadi di perairan Pancang Putih Sei Bajo, Sebatik, Kalimantan Utara, pada 26 September 2017 lalu.

“Saat periode ini, nelayan maupun pemancing sesaat sebelum melaut perlu memperhatikan kondisi alam seperti pertumbuhan awan. Jika melihat pertumbuhan awan tebal berlapis lapis yang menjulang tinggi di lautan, sebaiknya tunda keberangkatan atau menghindari daerah tersebut,” tambahnya.

Meski begitu kemunculan angin tersebut tak bisa diperkirakan secara spesifik. Sekalipun menggunakan radar cuaca atau satelit, hanya bisa diprediksi 30 menit sampai satu jam sebelum kejadian dengan catatan melihat atau merasakan tanda-tandanya dengan tingkat keakuratan kurang dari 50 persen. “Untuk tanda-tanda awal bisa dirasakan sebelumnya. Ada awan hitam pekat dengan suhu yang awalnya pengap bisa tiba-tiba berubah ada suhu dingin,” sambungnya.

“BMKG sudah punya teknologi radar dan satelit cuaca, kami sebar di 40 titik di seluruh Indonesia. Untuk hasilnya maupun peringatan dini kami rilis di website resmi BMKG,” tutupnya.