Silih Berganti Strike, Saat Arus Air Laut Jinak (2)

Ritual Ngoncer Kala Tenggiri Langka

Perburuan berikutnya ke suatu spot potensial, yang diyakini kapten Adul, menjadi sarang gerombolan ikan-ikan predator, termasuk tenggiri berkumpul. Terletak di perairan Karawang, Jawa Barat sekitar kepulauan Pakis, spot kali ini membutuhkan waktu tempuh dua jam perjalanan.

Semangat mancing para rombongan semakin tidak terbendung, ingin segera strike, meski tersisa sedikit tenaga saat trip lanjutan berlangsung, tetapi tak mengendurkan ketertarikan rombongan menyantap legit dan gurihnya daging ikan tenggiri.

Lego jangkar tengah berlangsung, ABK Sagul telah merapat ke bagian muka kapal, ABK Ucup membuka palka (papan lantai dasar kapal terbuat dari kayu jati), tempat umpan alami berupa tembang hidup disimpan di bagian lambung kapal. Ber set-set joran lengkap dengan piranti pancing berkelas milik Andi telah dipersiapkan di bagian geladak kapal, tak lupa Andi memberi edukasi singkat pada rombongan mengenai teknik mancing permukaan yang segera dipraktikan. “Sedikit lebih rumit dibanding teknik mancing dasaran sebelumnya, karena mancing permukaan membutuhkan kili-kili peniti (snap swivel) yang dipasang pada line utama kemudian simpulkan pada rangkaian kail yang disambungkan ke kawat nikelin sepanjang kurang lebih 15-30 cm. Bisa berupa single wire (tunggal) ataupun menggunakan yang multi wire (serabut) tanpa timah atau Bandul. Kemudian dilepas di kedalaman 1/2 sampai dengan 3/4 kedalaman air,” terang Andi. Lanjut Andi, jenis rangkaian dan mata kail yang digunakan berperan sangat penting, karena akan menentukan umpan tembang hidup dapat bergerak secara alami. “Bisa juga menggunakan wire leader” yang paling halus sekali dari jenis 25 lb hingga 40 lb, kalau untuk target ikan tenggiri,” timpal Andi, sembari melepas dua ekor ikan tembang hidup yang tertancap pada mata kailnya, dan membiarkannya hanyut terbawa arus. Inti dari teknik ngoncer menurut Andi, menjaga umpan agar tetap berada di daerah permukaan air, hingga target ikan tenggiri memangsa ikan tembang hidup yang kita jadikan umpan, di saat itu lah fight dimulai. “Tetapi bukan itu saja, yang pasti dibutuhkan kesabaran ekstra untuk memperoleh target ikan tenggiri,” ungkap Andi. Sebab kata dia, ikan tenggiri tergolong species ikan pengembara, yang tidak menetap hanya di satu lokasi, selain itu tenggiri jelas Andi, memiliki kemampuan berenang tercepat dibanding species ikan lainnya.

Memulai Ritual
pulau seribuSatu jam berlalu, sudah kedua kalinya Andi mengangkat mata kail ke permukaan, didapatinya umpan ikan tembang pada mata kail tidak lagi hidup, kembali ABK Ucup memasangkan umpan ikan tembang hidup pada mata kail milik Andi. Sama hal terjadi pada mata kail milik Eza, Ombie maupun kapten Tono dan Adul, tak satu pun ikan tenggiri dambaan diperoleh rombongan. Kali ini, sedikit berbeda dari lemparan mata kail sebelumnya, lemparan umpan ikan tembang hidup ketiga kalinya oleh Andi diwarnai ritual, “kong hayo kong santap makan siangnya,” seru Andi.

Ritual lainnya pun dilakukan awak kapal, sesaat setelah Andi melempar umpannya. ABK Ucup terlihat melempar potong-potongan ikan tembang mati, yang dilepaskannya begitu saja ke sekitar perairan yang di singgahi rombongan. “Pada teknik memancing dikenal dengan istilah chumming, atau melempar potongan-potongan ikan mati dengan tujuan memberikan perangsang, karena potongan-potongan ikan itu bau amisnya sangat kentara, yang membuat ikan tertarik untuk mendekat,” jelas Andi, sembari kembali melakukan ritual pengucapan “kong hayo kong di makan dong umpannya,” seru Andi. Ritual yang sama juga diikuti kapten Tono, setengah frustasi, sayup suaranya terdengar “kong-kong di mana kalian, hayo dong mendekat, waktunya makan siang nih,” seloroh kapten Tono. Teknik chumming menurut kapten Tono, sebaiknya jangan dilakukan terlalu sering pada satu waktu, dan juga jangan terlalu cepat. “Patokan yang biasa sering digunakan adalah, kalau umpan yang baru di lempar masih kelihatan dipermukaan, jangan ditambah, biarkan hilang perlahan-lahan. Setelah hilang diamkan sebentar baru kemudian lempar lagi dalam jumlah yang sama. Ingat jangan telalu banyak, sekedar hanya menarik perhatian ikan, bukan memberi makan,” tambah kapten Tono.

Dua jam lebih berlalu, belum satu pun rombongan melakukan strike, malah diantaranya bersikap pasrah, menanggalkan joran pada teger tancap, memilih tidur, tersisa hanya Andi, kapten Adul dan Tono yang masih konsisten dengan mata kail masing-masing, menanti ikan tenggiri dambaan menyambar umpan yang dilepas. “Kong hayo dong kong, engkong kemana nih, enggak makan siang apa,”giliran kapten Adul, berseru ke lautan, sementara kapten Tono mulai tampak gusar, mengamati mata kail di kedalaman. “Tidak salah spot nya di sini?,” tanya Andi pada kapten Adul. “Iya betul di sini, dua mingguan lalu tidak sampai sejam saya strike 14 ekor tenggiri di sini, ukurannya besar-besar, sayang kehabisan umpan,” jawab kapten Adul. Mulai terlihat lelah, Andi memutuskan menyudahi mancing pada spot kedua pada trip kali ini. “Bukan musimnya kali ya, biasanya ikan tenggiri banyak pada lompat-lompat, sekarang kenapa langka ya. Ya sudah kita balik saja,” seru Andi, coba mengambil keputusan, ketika sebagian rombongan sudah mulai terlelap tidur.

Menjelang senja, kapal mulai melaju kembali ke dermaga. Sepanjang perjalanan balik, riak air dan deras arus yang menghampar luas, seolah menyimpan kesan tak terlupakan, atas apa yang disuguhkan alam pada rombongan. “Kakap merah saja sudah cukup, haha..” canda Ombie, menutup kisah ini.