Silih Berganti Strike, Saat Arus Air Laut Jinak (1)

Rombongan mulai berkemas menuju bilangan salah satu dermaga di Jakarta Utara, usai tempat dan waktu keberangkatan disepakati. Masih pagi buta, rombongan tiba disambut Anak Buah Kapal (ABK), mengantarkan sampai ke KM TDJ (Fishing Boat). Diawali sapa hangat Andi, yang dari kejauhan tampak sibuk dengan telepon satelit digenggaman, memonitoring perkembangan cuaca terkini, keberangkatan pun dimulai.

Andi memperkenalkan para awak KM TDJ, setiba rombongan beranjak menaiki kapal. Kapten Adul terlihat siaga, duduk di belakang kemudi, dua awak lain ABK Ucup dan Sagul mulai melepas tali tambang pengait, sedang kapten pendamping Tono, tengah memeriksa kesiapan kedua mesin di belakang kapal.

Tak perlu menunggu lama bagi kapten Adul, untuk memulai perjalanan, usai Andi menginstruksikan bergegas, kapal pun segera meluncur. Laju kapal tampak bertenaga mengarungi perairan, dua unit produk Suzuki Marine 90 PK varian bensin, tipe mesin 4- Stroke DOHC 16 valve, ber teknologi Multi Point Sequential Electronic Fuel Injection, membuat daya jelajah kapal ini lebih tangguh.

Andi menjelaskan, masing-masing mesin yang disematkan pada kapal miliknya memiliki putaran maksimum 5.300 hingga 6.300 rpm serta tenaga maksimum 62.2 kW. Itu sebabnya, kata Andi, meski angin bertiup kencang, ketinggian ombak mencapai satu hingga satu setengah meter, menurut dia, kapal tetap masih dapat membelah lautan, berkecepatan maksimal 32 km per jam. Memulai obrolan sebelumnya di awal perjalanan, Andi menawarkan pada rombongan obat anti mabuk. “Saya punya obat anti mabuk, ada dua macam, masing-masing satu diminum sekaligus, yang satu mencegah sakit kepala, yang satu mencegah mual,” ujar Andi. Sebagian rombongan menerima tawaran Andi, “Saya coba apa iya obat ini tidak menyebabkan kantuk?,” tanya Ombie, salah satu rombongan.

mancing pulau seribuUmpan Hidup
Setengah jam perjalanan ditempuh, kapal tiba di perairan kepulauan seribu, di sekitar pulau Damar. Andi memandu, agar kapten Adul membawa kapal mendekati bagan untuk membeli umpan pancing alami (deadbaits) berupa cumi-cumi. Namun, nasib baik belum berpihak pada rombongan, bagan pertama tidak memiliki persediaan cumi-cumi.

“Bulan purnama seperti ini cumi-cumi memang seperti emas, susah dicari, sangat jarang dijual,” jelas Andi, lalu kembali memandu kapten Adul, agar merapatkan kapal ke bagan lainnya. Bagan lain, terdapat di perairan sekitar Pulau Monyet, namun kembali rombongan tidak memperoleh umpan yang diinginkan, karena bagan kedua juga tidak memiliki persediaan cumi-cumi.
Kata Andi, kapal masih menyimpan umpan cumi yang dibeli ABK di darat, walau sedikit.Tidak kehabisan akal, Andi memutuskan untuk ngotrek ikan tembang sebagai umpan tambahan, ABK pun dengan sigap mempersiapkan kotrekan konvesional buatan sendiri, berupa gulungan senar dengan beberapa matakail kecil berderet (renceng). ABK Sagul bergegas kebagian muka kapal untuk lego jangkar, menjelang fajar, ngotrek tembang dimulai.

Empat puluhan menit berlalu, rombongan berhasil ngotrek 30-an ekor tembang hidup, Andi tidak cukup puas dengan jumlah umpan hidup (livebaits) yang didapat. “Mungkin sudah kebanyakan dijaring oleh para nelayan, tembang pun sudah mulai jarang,” keluh Andi.

Sebelum ngotrek, tidak mudah bagi rombongan mencapai lokasi kotrekan potensial yang menyimpan banyak ikan tembang. Sebab, memasuki perairan Karawang, ombak kian tinggi, angin makin bertiup kencang, tetapi itu bukan perkara sulit bagi kapten Adul, dengan teknik mematikan serta menghidupkan mesin secara elektrik, ketika kapal berhadapan ombak besar di depan, terlebih saat gulungan ombak menghantam badan kapal, teknik yang diterapkan kapten Adul ternyata sangat efektif membantu kapal menghadapi situasi sesulit apapun.

Spot Pilihan
Usai ngotrek, lelah nampak menghinggapi wajah Eza, Ombie termasuk Andi serta ABK kapal, meski bersama-sama baru saja menyantap makan pagi. Sementara, trip masih menyisakan sejam perjalanan atau sekitar 20-an kilo meter menuju spot potensial yang ingin dituju.
“Kalau ombak tidak sebesar ini, mungkin kita bakal sampai spot pertama tidak kurang sejam dari sekarang, tetapi ini ombak besar, kapal hanya melaju sekitar 16 knot atau sekitar 30 an kilometer per jam,” jelas Andi, sembari mempersilahkan rombongan rehat sejenak.

Di ruang kemudi, kapten Adul terus bersiaga, sorot kedua mata kapten Adul lurus menatap jauh ke depan, mengamati besarnya riak ombak. Sesekali, kedua mata kapten Adul terpaku menatap layar monitor (Global Positioning System-GPS) yang juga berfungsi sebagai fish finder atau depth sounder (alat sensor untuk mencari lokasi ikan berkumpul-red) seukuran ponsel tablet, yang tertancap tepat di depan bagian sisi kiri kemudi. Bagi setiap kapten kapal, peran GPS begitu penting untuk menentukan koordinat suatu titik lokasi, agar keberadaan kapal tak salah arah. Selain itu juga untuk menghindari adanya batuan karang, agar tidak berbenturan dengan badan kapal.

Pukul 08.40 waktu setempat, laju kapal mulai melamban, suara gemuruh dan gaduh mesin kapal mulai sayup terdengar. Suara kapten Adul terdengar, memanggil rekannya kapten Tono, keduanya terlibat pembicaraan serius menatap GPS, sesekali tangan kapten Tono menunjuk suatu lokasi, menjelaskan kepada kapten Adul, keberadaan lokasi spot.

Mendengar pembicaraan kedua kapten, rupanya menggugah Andi untuk ikut serta memastikan arah kapal, agar berada pada lokasi yang tepat. Andi memandu kapten Adul menggerakan kapal memutari perairan sekitar. Posisi kapal terhenti yang diinginkan Andi, adalah sesuai pergerakan arus.
ABK Ucup, sudah nampak di muka kapal, bersiap melego jangkar, agar kapal terhenti mantab pada spot terpilih tepat di penghujung perairan Pakis, Karawang, sedikit mendekati perairan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Piranti Berkelas
Sesaat berikutnya, Andi yang tengah duduk di bawah ruang kemudi, dibantu ABK sibuk mempersiapkan piranti-piranti pancing professional dan berkelas. Maklum saja, sebagian piranti pancing yang dimiliki Andi merupakan custom, seperti tangkai joran andalannya, ia datangkan langsung dari Amerika.

Tiga set joran Xzoga, lainnya custom dilengkapi ril spinning diantaranya, Reel Shimano Stella STL 5000 SWB PG, Shimano Stella STL 6000 SWB PG, Shimano New Stella SW 5000 XG dan merk berkelas lainnya. Selain itu juga, senar PE 2 dan mata kail berukuran 1 kosong dan 2 kosong, semua telah diset, sesuai teknik mancing dasaran. “Sebagian tangkai joran saya import, termasuk dudukan penggulung (reel seat-red), penahan joran (rod butt-red), gagang (grip-red), hanya ring (line guide/penuntun senar-red) yang dipasangkan di sini,” jelas Andi.

Estapet Strike
Ingin segera memulai strike, rombongan pun bergegas menurunkan umpan berupa potongan ikan tembang dan cumi-cumi menyasar ikan Kakap Merah, Kuwe, Krapu. Strike pertama berhasil dicapai kapten Tono, jorannya meliuk, terdengar bunyi derit, rupanya suara ril. Santai saja, kapten Tono, tarik-ulur, sesekali menarik joran ke atas sembari menggulung pelan ril.
“Ada itu ada,” ABK Ucup berucap pada kapten Tono, sembari melayangkan serokan ke permukaan air. Benar saja, se ekor ikan kakap merah berukuran satu setengah hingga dua kilo, berhasil menacap pada kail milik kapten Tono. “Lumayan tangkapan pertama, buat modal,” celoteh, kapten Tono.

Berselang kemudian, tak jauh dari samping kapten Tono, giliran Ombie strike, hanya saja tangkapan pertamanya kali ini hanya seekor kakap merah kecil, sekitar ukuran setengah kiloan. Seraya menghakimi Ombie, yang tengah mengayunkan joran ke permukaan, ABK Sagul, berucap “Wah umpannya habis,” sembari menujuk rangkaian dua mata kail yang tidak nampak umpan menancap.

Sementara itu, pada bagian samping kanan kapal, Eza tampak gusar, sudah berlangsung sekitar belasan menit, tak satu pun ikan berhasil ia angkat ke permukaan. Berdiri tak jauh di samping Eza, Andi juga mengalami hal serupa seperti Eza, akan tetapi kali ini Eza lebih beruntung, rilnya berderit. “Tarik pelan, jangan digentak, angkat gulung perlahan putar ril, gulung biasa saja, jangan dihentak,” jelas Andi, mengamati pergerakan kail milik Eza sembari memandunya. Perlahan Eza, mengikuti instruksi Andi. Eza yang kini tak lagi gusar, mulai menggerakan sebagian anggota badan, rupanya perlu sedikit usaha lebih keras agar Eza mencapai strike pertamanya. Kedua tanggan dan pundaknya mengayuh, tali senar miliknya mengeras, seperti ada ikan yang menarik mata kailnya.

“Strike”, gumam Eza. Seekor kakap merah berukuran sedang menancap pada mata kail miliknya. Senyumnya sumringah, seketika ia berujar pada rombongan lain, menyoal pertama kali merasakan gairah mancing yang begitu mengesankan baginya.

Lalu bagaimana mata kail Andi?. Ia terlihat menggulung ril, tiba di permukaan tidak nampak ikan ataupun umpan yang menancap pada kedua mata kail miliknya. Kembali Andi melempar mata kail yang telah berisikan umpan.

Sejenak usai mata kail milik Andi menjulur ke dasar lautan, terdengar suara ril berderit. Kejutan datang dari Andi, pelan tapi pasti ia menggulung ril, tarik-menarik pun terjadi, Andi mengeluarkan sedikit tenaga ekstra untuk menggulung ril, tungkai jorannya terlihat melengkung, gerakan demi gerakan memancing ia perlihatkan, menunjuk-an seorang penghobi mancing sebenarnya. Entah ikan jenis apa yang Andi dapat pada strike pertama trip kali ini. Di sisi Andi, berdiri ABK Sagul, sebuah serokan ikan tampak ia genggam.

Andi double Strike, yup.. sekaligus dua ekor ikan kakap berukuran besar menancap pada mata kailnya. Di cegahnya, ABK Sagul yang hendak membantu menyerok kedua ekor ikan agar tidak lepas. “Hayo di foto dulu, lumayan kan strikenya,” ujar Andi, yang selama trip berlangsung menggunakan penutup kepala, meski begitu dirinya tak mampu menyembunyikan perasaan senang yang terpancar dari raut wajahnya.

Kejutan juga datang dari samping sisi lain kapal, kapten Adul mengisi posisi di tengah antara Ombie dan kapten Tono. Bukan main, hasil strike kapten Adul, dua ekor ikan kakap merah berukuran jumbo berhasil di angkat ke permukaan. Akan tetapi, bukan perolehan strike kapten Adul, yang membuat rombongan terkesima. Tenyata kapten Adul menggunakan teknik handline yakni, hanya menggunakan seutas senar, dengan rangkaian mata kail tanpa joran. Kapten Adul pun berhasil memimpin perolehan bobot ikan terberat hasil strike para rombongan.

Silih berganti, Andi, Eza, Ombie, kapten Adul dan Tono serta ABK, berhasil strike ikan kakap merah. Tiga puluhan menit berlalu, tidak kurang dari lima puluh ekor ikan kakap merah berbagai ukuran bertumpuk di cool box. Puas dengan hasil tangkapan yang diraih, rombongan pun menyudahi mancing. “Mancingnya sukses, ngomset nih,” seru rombongan, kapal pun kembali melaju, berputar arah menuju spot berikutnya.