Sejuta Cerita Di Ujung Barat Nusantara

Kapal nelayan berukuran 40 gross ton membelah gelombang lepas di ujung utara Pulau Sumatera. Kapten Imron, sang nahkoda mencoba menyeimbangkan laju kapal yang berisi 12 pemancing asal Jakarta. Para petarungan asal ibukota ini sengaja datang kembali untuk menjelajah spot di ujung barat Nusantara.

Penerbangan dari Jakarta menuju Banda Aceh sempat terhenti di Medan untuk singgah menuju pesawat lain dengan penerbangan domestik. Saat hari menjelang siang, si burung besi mendarat tepat di landas pacu Sultan Iskandar Muda. Di lobby bandara, Mayor Marinir Irwan ditemani Cek Baka (Abubakar) sang pemilik kapal sudah menanti kedatangan rombongan. Semua barang bawaan dari bagasi pesawat langsung dipindahkan ke dalam mobil yang sudah disediakan. Karena daya tampung yang terbatas maka Irwan dan Cek Baka menyediakan hingga 3 unit mobil untuk membawa rombongan menuju dermaga Lampulo Baru, Banda Aceh. Jarak dari bandara menuju Lampulo Lama menghabiskan waktu sekitar 30 menit melewati nuansa kota Serambi Mekkah.

Rombongan tiba di Lampulo Lama sebelum masuk waktu Jum’atan. Mereka harus menunggu hingga waktu solat berakhir untuk kemudian berlayar. Inilah letak keistimewaan masyarakat Aceh yang memiliki tanggung jawab sebagai insan beragama serta menjunjung tinggi nilai-nilai islami. Makan siang di Aceh dengan suasana khas pedesaan dinaungi hamparan sawah kehijauan cukup menentramkan jiwa. Selesai makan sebagian pemancing melaksanakan kewajibannya sebagai muslim dan segera menuju masjid.

Usai Jumatan, rombongan gerak cepat menuju dermaga karena sudah ditunggu sang kapten beserta ABK. Perjalanan dimulai usai para ABK mengangkut satu persatu perlengkapan milik para pemancing ke atas kapal. Kini para pemancing dimanjakan dengan pemandangan matahari terbenam kala senja hadir menyapa. Obrolan-obrolan ringan menghangatkan suasana di atas kapal sambil menyiapkan peralatan pancing untuk tempur malam nanti.

trip_gtech-aceh4
Berpose dengan ikan hasil tangkapannya

Sambutan Doogtooth
Spot di perairan Pulau Rondo menjadi lokasi awal yang didatangi para pemancing. Rian memulai keseruan malam itu. Menggunakan teknik jigging, pemancing ini terus menggerakkan metal jig buatannya sendiri dengan harapan para predator bawah laut merasa terganggu. Benar saja, tak berapa lama kemudian ia pun merasakan sambaran. Tarik-menarik terjadi hingga akhirnya seekor Dogtooth dengan bobot sekitar 5 kg sukses dinaikkan.

Ardi menyusul, ikan Mata Belo rupanya tertarik dengan umpan yang sejak tadi ia lempar. Namun sukses Ardi belum mampu ditiru oleh Joe Wone, piranti light jignya sempat merasakan perlawanan dari dasar laut hingga membuat joran melengkung sangat lentur. Peluh dan tenaga coba ia keluarkan dengan harapan ikan dapat dijinakkan, namun apa mau dikata, keberuntungan belum menghampiri, sedang berusaha menarik ternyata benang miliknya putus.

Malam pertama

Malam hari menjadi ajang didapatkannya dogtooth penghuni spot pantai utara
Malam hari menjadi ajang didapatkannya dogtooth penghuni spot pantai utara

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 21:00 WIB. Wicak yang sejak tadi sibuk dengan jorannya akhirnya juga strike. Tidak lama baginya untuk menaikkan ikan, nampak di permukaan air seekor ikan Kuwe terjebak kail miliknya, ABK kemudian membantu menaikkan ikan dengan bobot 3 kg tersebut ke atas kapal. Strike beruntun tidak selesai sampai di situ, Ardi kemudian merasakan rilnya melengking keras. Lagi-lagi Dogtooth menyambar dan membuat ia sedikit hilang keseimbangan. Perlawanan kuat dari ikan terus ia tahan sambil menjaga posisi tubuh yang tepat agar tidak terjatuh.

Usaha keras dan kesabarannya membuahkan hasil, sang predator menyerah di geladak. Sorak sorai bertambah ramai setelah di buritan kapal juga terjadi strike. Total hingga dini hari ada sekitar 6 ekor ikan berhasil memenuhi coolbox pada petualangan di malam pertama ini.

Kala hari memasuki waktu fajar, kapten Imron putar haluan untuk mengajak para pemancing menuju spot selanjutnya di Pantai Utara. Lokasi ini merupakan perairan dengan dasar berupa gununggunung dalam laut, serupa dengan SMR di perairan Lampung. Berdasarkan tipe ekosistemnya, spot ini banyak dihuni oleh ikan-ikan predator berukuran jumbo. Tapi nyatanya keberuntungan belum memihak kepada para pemancing. Hingga siang tiba di Pantai Utara tiada strike yang bisa dirasakan, mungkin disebabkan kondisi arus bawah laut kala itu. Para pemancing hanya bersantai-santai namun tetap berupaya untuk menurunkan alat pancing andalannya masing-masing.

trip_gtech-aceh8
Mr. Joe Wone saat menikmati strike di Aceh

Malam kedua
Lain siang, lain pula malam, seluruh pemancing mulai memegang peralatan pancing masing-masing menyebar di tiap sudut kapal. Dan akhirnya strike perdana di malam kedua dibuka oleh Ardy dengan teknik jigging. Satu, dua kali pompa akhirnya ia merasakan sambaran, sensasi seperti ini memang tiada duanya bagi Ardy. Seekor Dogtooth berbobot 9 kg sukses menambah ini coolbox. Mengadaptasi teknik sebelumnya, kali ini Taufik menggunakan metal jig yang ditarik secara horisontal (castjig) dengan harapan ada ikan predator tergoda. Yap, seekor Yellowfin Tuna 5 kg tertancap di mata kail.

Kini giliran Mr. Joe Wone memperlihatkan aksinya. Pemancing asal Australia itu berjibaku memainkan joran sambil terus menggulung ril. Rupanya seekor ikan GT Mata Belo menghampiri metal jig miliknya dan ikan pun berhasil dinaikkan ke atas kapal. Andi yang sejak tadi berada di sebelah Joe sempat juga strike namun ikan sedang beruntung dapat melepaskan diri dari tancapan kailnya, bahkan di buritan kapal juga ada benang milik pemancing yang putus, korban para predator lautan utara Sumatra.

Keampuhan metal jig
Sementara Rian yang kembali menggunakan metal jig buatannya sendiri dengan memainkan castjig ia berhasil mendaratkan seekor Doggie dengan berat sekitar 9 kg. Ardy menyusul, ia sukses mengikuti perolehan Rian dengan hasil yang sama. Rupanya Doggie mendominasi pertempuran kali ini, terbukti ketika Taufik dengan joran PE 0.8-2 mampu menahan perlawanan Doggie 10kg. Hebatnya, ikan tersebut tergoda selera makannya berkat lure handmade buatan Rian.

Berpose dengan ikan hasil tangkapannya.

Selanjutnya Nasir strike Yellowfin Tuna dua kali beruntun setelah dinaikkan ke buritan kapal masingmasing diketahui beratnya 4-5 kg, masih menggunakan cast jig. Double strike terjadi saat Taufik sukses mengangkat Mata Belo 4 kg. Tak mau ketinggalan Amin pun ikut meramaikan suasana saat strike Doggie untuk kesekian kalinya. Arus malam itu relatif kencang, terbukti metal jig ukuran 200 gr melayang hingga ke belakang kapal. Padahal jika dilihat di sounder ikan ramai berkumpul di air pada kedalaman 40-50 meter. Melihat kondisi ini kapten Imron memutuskan untuk drifting, berputar di sekitar spot. Tidak banyak ikan yang bisa didapatkan pada kesempatan kali ini, mungkin arus yang sedang tidak karuan.Kapal selanjutnya kembali menuju spot ketiga di sekitar Pante Utara.

GT Mata Belo menjadi dominasi hasil tangkapan di spot yang terakhir ini. Ardy, Wendy serta Taufik merupakan para pemancing yang berhasil menaikkan sang Mata Belo ke atas kapal melalui perlawanan sengit. Memang sejak awal

trip_gtech-aceh7
beberapa piranti yang digunakan untuk menangkap ikan hasil tangkapannya

keberutungan sedang menghampiri Ardy pada trip kali ini. Menggunakan metal jig ukuran 300 gr ia sukses menaikkan seekor Kakap Marah bergigi jarang, ketangguhan piranti yang digunakkannya sangat membantu dalam penaklukkan ikan seberat 10 kg di arus yang seperti itu.

Tidak terasa matahari telah terbit menerangi lautan di pagi yang sejuk kala itu. Tepat pukul 06:00 WIB tim memutuskan untuk kembali ke darat. Tengah hari kapal sudah mendarat di Dermaga Lampulo Lama dengan para pemancing yang nampak ceria meski agak lelah.

Makan siang menjadi tujuan selanjutnya setelah semua selesai berkemas. Joe Wone harus pulang terlebih dahulu untuk mengejar penerbangan ke negaranya. Beberapa jam kemudian rombongan menyusul ke bandara, hingga akhirnya pesawat membawa mereka terbang dan mimpi indah dengan sejuta cerita. — Amin Ginting