Predator Rig Selatan Pulau Tunda

Perairan Pulau Tunda menjadi magnet bagi para pemancing dari Banten hingga Jakarta. Sebuah pulau yang terletak di sebelah barat gugusan Kepulauan Seribu itu terkenal memiliki potensi besar terhadap spot- spot mancing, baik menggunakan teknik dasaran, ngoncer, casting maupun popping di area pengeboran lepas pantai (Rig).

Perjalanan dari dermaga Karangantu, Serang, Banten menuju spot mancing pertama menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Peralatan seperti GPS serta viewfinder menjadi alat bantu bagi kapten Aksan dari KM Mulyo Bahari untuk menentukan titik mancing yang tepat. Memasuki dini hari, kapal tiba tepat di spot yang dituju dan seluruh pemancing langsung mempersiapkan masing-masing tackle-nya.

Perdana Roni Wahyudi berhasil menangkap seekor Giant Trevally
Perdana Roni Wahyudi berhasil menangkap seekor Tenggiri

Sedang konsentrasi menunggu umpan disambar ikan, tiba-tiba joran milik Roni melengkung tajam, ril Shimano Stradic 5000XG pun menderit kencang. Rupanya Roni mendapatkan sambaran dari dalam air. Tenaga dibarengi irama menggulung ril terus ia lakukan dengan harapan ikan bisa dinaikkan ke atas kapal. Kerja keras pun membuahkan hasil ketika seekor Kakap Merah mampu diamankan oleh ABK.

Kondisi ini juga dirasakan oleh para pemancing lainnya hingga waktu memasuki pagi hari. Dengan sukses dinaikkannya ikan-ikan tersebut membuktikan bahwa spot mancing di sekitaran Pulau Tunda memang masih memiliki potensi hasil pancing yang besar. Hasil akan menjadi lebih baik lagi jika didukung dengan faktor cuaca yang baik pula. Situs web ramalan cuaca menjadi acuan sebelum turun memancing.

Menjelang sang surya terbit, itensitas strike justru berkurang. Tanpa menghabiskan banyak waktu, kapten Aksan langsung memutar haluan kapal menuju spot selanjutnya di anjungan pengeboran minyak lepas pantai atau yang terkenal disebut RIG. Bagi para pemancing, spot pengeboran tengah laut ini memang sangat cocok untuk mengaplikasikan teknik popping maupun casting dengan target umum yaitu Giant Trevally (GT).

Kali ini tim menuju spot RIG Selatan Pulau Tunda, lokasi favorit para pemancing yang kerap memancing di daerah seputaran Pulau Tunda, Banten ini. Teknik popping dan sebagian lagi castjig dilakukan para pemancing dengan harapan ada ikan predator penghuni RIG menyambar lure milik mereka.

trip-tunda-2016-6
Trip kali ini bersamaan dengan perayaan Dirgahayu Republik Indonesia ke-71.

Melempar lure ke arah RIG memang membutuhkan tenaga dan kewaspadaan yang ekstra. Pemancing harus bisa melempar dengan baik agar lure tidak tersangkut besi-besi di RIG. Sedang asyik melempar, Taufiq berteriak kegirangan, “strike,” ucap dia. Popper Maguro Nasty berukuran 120 gram berhasil menarik perhatian ikan di dalam laut. Dengan penuh semangat ia terus meladeni perlawanan ikan hingga menghabiskan waktu yang cukup lama. Usai melewati pertarungan dengan jerih payah, akhirnya seekor GT berukuran 22 lbs yang menjadi target sukses dinaikkan ke atas kapal.

Sadar Taufiq berpeluang mendapatkan ikan GT, pemancing lainnya berusaha terus melempar umpan ke titik yang menurut mereka potensial. Benar saja, kali ini usaha Pak rachmat melempar umpan membuahkan hasil. Pemancing yang juga sudah biasa mancing di freshwater tersebut dikagetkan dengan hentakan ikan.

Pertarungan Pak rachmat dengan ikan yang menari-narik senar pancingnya berjalan alot. Usaha keras memutar handle ril terus-menerus dilakukannya hingga terlihat dari permukaan ternyata seekor ikan Kuwe Lilin melumat lure milik dia. Kuwe Lilin merupakan salah satu spesies keluarga Giant Trevally ciri khas perlawanan kuat dengan memanfaat bentuk tubuhnya yang pipih.

Pada kesempatan selanjutnya, teknik castjig coba dimaksimalkan oleh para pemancing untuk membuktikan seberapa besar peluang mendapatkan ikan, terutama Tenggiri. roni mencoba mengawali lemparan lure dengan penuh semangat hingga akhirnya suara gaduh datang dari bawah air. Sambaran terjadi, umpan milik roni dibawa kabur ikan.

trip-tunda-2016-4
Tim berpose dengan Ikan hasil tangkapannya

Ikan melakukan perlawanan yang aneh, berenang zigzag ke arah yang tidak menentu. Dalam hati berucap sepertinya Tenggiri tertancap kail pada umpan milik roni. Setelah berjibaku selama sekitar 5 menit, ternyata benar seekor Tenggiri terlihat kelelahan gagal melepaskan diri. Pertarungan dimenangkan oleh roni terhadap Tenggiri dengan bobot 5 Kg tersebut. Sementara di waktu yang bersamaan, Pak Rachmat dan Ncek masing-masing menaklukkan ikan Kakap Merah table size 1 Kg. Sekitar Pukul 16.00 wiB kapal berpindah spot menuju lokasi yang diyakini oleh sang kapten kapal banyak terdapat ikan predator monster penghuni karang. Satu persatu umpan coba diturunkan di spot ini, hingga pada akhirnya Mang Cecep dan Pak rachmat berteriak bersamaan, “strike,”. ril Shimano Biomaster 6000 milik Pak Rachmat menjadi saksi bisu pertarungannya menaklukkan tenaga ikan.

Gimbal penahan gagang joran dipasangkan di pinggang Pak rachmat guna memudahkan dirinya menarik ikan ke atas kapal. Hingga pada akhirnya lagi-lagi Pak rachmat mendapatkan Kuwe Lilin kali ini berukuran sekitar 4 Kg. Hasil yang tidak buruk untuk teknik mancing castjig di Pulau Tunda.

Di sebelah Pak Rachmat, Mang Cecep yang rupanya juga strike masih berjibaku menakukkan ikan dari teknik dasaran yang ia gunakan sebelumnya. Seolah ingin melengkapi perolehan tim pada trip kali ini, Mang Cecep pun mendapat ikan dengan spesies berbeda dari yang lainnya. Seekor Kerapu Macan sekitar 4 Kg sukses dia naikkan ke atas kapal dibantu ABK menggunakan gancu. Total, para pemancing sukses merasakan tarikan ikanikan seperti GT, Tenggiri, Kakap Merah serta Kerapu. –Roni Wahyudi