Potensi Besar Sunda Kecil

Hamparan pantai pasir putih dengan laut nan jernih bertabur karang segar jadi nilai pariwisata seribu potensi di gugusan Sunda Kecil. Keasrian wilayah timur Nusantara jadi pengaruh pula berbagai spesies ikan, kerap ditemukan menghampiri wilayah peisisr. Hadirkan mudahnya jangkauan potensi spot mancing di perairan Nusa Tenggara.

Laguna di sepanjang barat Tambora adalah lokasi terbaik untuk menghabiskan waktu liburan, juga aktifitas mancing. Terumbu karang masih ditemukan indah dari cermin permukaan laut wilayah Sumbawa. Menjadi hunian menyenangkan ikan-ikan karang hingga membentuk ekosistem nan potensial.

Perburuan predator pemangsa di Laut Flores diawali dari Dermaga Jempol di pesisir utara Pulau Sumbawa. Dermaga Jempol letaknya sangat strategis karena berada 5 menit dari Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin iii. Dari kawasan teluk itu, perahu nelayan yang kami sewa berangkat menuju spot mancing di perairan sekitar Pulau Mojo dan Medang.

Para pemancing di Sumbawa kerap memanfaatkan perahu milik nelayan sekitar berupa perahu dengan jukung sebagai fasilitas mereka menuju spot-spot mancing.

Ruby Snapper merupakan salah satu ikan idaman para pemancing.

Untuk menuju spot, kami harus berlayar selama 2.5 jam ke arah utara. Bentang alam Pulau Sumbawa terlihat begitu indah dari lautan. Bangunan kota khas Nusa Tenggara nampaknya jadi ikon menawan, terapit kontur tanah berbukit di beberapa sisinya. Kontras sekali dengan suasana di laut yang hanya dibatasi garis pandang permukaan.

Laut Flores di sekitar Sumbawa memiliki kedalaman laut berkisar 100-170 meter dengan kontur dasar berupa jajaran karang di pucuk palung. Tubiran-tubiran atau wilayah antara pucuk dengan batas palung merupakan titik yang tepat. Dimana lokasi tersebut menjadi habitat ikan-ikan karang yang menjadi makanan dari ikan predator nan cantik si merah Ruby Snapper.

Tiba di spot pertama, umpan buatan (metaljig) langsung diturunkan. Umpan harus benar-benar jatuh mencapai dasar laut mendekati kawanan ikan yang berkumpul di area terumbu karang. Metode jigging1 dinilai lebih efektif untuk menarik hasrat ikan mendekati umpan yang bergerak vertikal secara cepat. Tidak salah rasanya menyebut Nusa Tenggara sebagai lokasi mancing primadona. Beberapa teori terbukti, seperti yang saya rasakan sendiri ketika usaha 10 kali tarikan jigging mendapatkan sambaran.

Detak jantung berubah cepat sekali, adrenalin pun terpacu saat sambaran datang menimpa umpan saya. Tenaga ekstra keluar seketika menahan perlawanan dari dasar segara.

Memberi ampun sama saja menyerah. Saya pun tanpa jeda terus menggulung benang untuk menyudahi perlawanan ikan agar bisa mendekati perahu. Bayang merah dari permukaan laut menyala, rupanya seekor Rubby Snapper meronta-ronta. Semua orang di atas perahu ikut harap- harap cemas. Hingga kerahuan terpecahkan usai mata ganco mendarat tepat mengenai badan ikan. Rubby Snapper pun sukses naik ke atas perahu dengan bobotnya mencapai 10 kilogram.

Kondisi perairan di sumbawa yang masih terjaga kelestariannya menghadirkan beragam potensi perikanan, seperti Amberjack yang jadi target dengan teknik Jigging.

Target ikan ketika mancing di spot ini selain Rubby Snapper adalah spesies Amberjack dan Kerapu. ketiga ikan ini memang lebih sering aktif saat hari sedang terang. Namun tidak menutup kemungkinan pula ketiganya sukses didapatkan pemancing pada malam hari. Bantuan cahaya dari atas kapal jadi rahasianya guna menarik minat ikan untuk mendekat tepat di bawah sumber cahaya.

Pada saat musim angin barat berhembus melewati sumbawa, arus dan ombak kencang sekali. Kondisi ketika sedang baratan memang menyulitkan pemancing untuk mengatur ritme mancing mereka. Tapi inilah kelebihan perairan Flores di sekitar Pulau Moyo dan Pulau Medang, dimana pada saat kondisi apapun kita bisa melakukan kegiatan mancing tanpa khawatir dengan hasil.
Arus yang sejak pagi kencang perlahan berkurang memasuki malam hari. Jika sebelumnya diperlukan metaljig ukuran 200 gram ke atas, kini ukurannya bisa dikurangi menggunakan metaljig 80-150 gram saja. Terlebih pada malam hari, spot mancing berpindah menuju laut yang lebih dangkal. Tenaga pun tak perlu banyak diforsir.

Ritme kegiatan mancing harus benar-benar diatur oleh pemancing agar stamina tetap terjaga pada malam hari. Semua itu dilakukan agar pemancing tidak kehilangan momentum pada saat ikan sedang ‘galak-galaknya’. Dan pada akhirnya sang surya tenggelam membawa kabar bahwa malam akan segera datang.

Spesies Trevally menjadi salah satu target pancing yang kerap didapatkan di wilayah perairan berkontur karang- karang timbul di Sumbawa.

Seperti pada lokasi mancing di laut dalam pada umumnya, spesies Tuna Gigi Anjing (Dogtooth Tuna) jadi target buruan utama. ikan dengan struktur gigi nan tajam ini lebih aktif pada malam hari di kawasan teritorinya masing-masing. Tuna Gigi Anjing atau di kalangan pemancing kerap disebut doggy ini merupakan target idaman. apalagi alasannya jika bukan masalah sensasi tarikan dari tenaga ikan ini ketika bertarung melepaskan diri dari jeratan mata kail.

Perpaduan penggunaan metaljig yang diaplikasikan dengan teknik casting adalah metode andalan kala mancing saat malam hari. Metode ini secara praktiknya lebih hemat tenaga dibandingkan mempraktikkan Jigging. sebab, umpan harus segera ditarik sebelum menyentuh dasar laut agar tetap bergerak tidak terlalu jauh dari permukaan.

Target ikan-ikan besar tidak melulu soal spesies Giant Trevally dan keluarga Tuna, ada pula si pemangsa bernama Amberjack. Ikan jenis ini masih menjadikan karang-karang sebagai habitat utama dan lebih kerap hidup dalam kelompok yang besar. Maka tidak heran jika pada saat momentum bagus, para pemancing bisa merasakan strike ikan ini tiada henti. Tenaga ekstra sebaiknya disiapkan sebelum memancing ikan Amberjack. Teknik jigging dengan tarikan cepat adalah salah satu kunci keberhasilan mendapatkan AJ. Sebab ikan ini sangatlah agresif, cenderung menyambar metaljig yang bergerak liar secara cepat. Sementara AJ muda terkadang ditemukan di perairan dangkal pada kedalaman 10 meter di spot-spot di Laut Flores.

Mengunjungi Sumbawa hanya untuk menikmati liburan semata tanpa meluangkan waktu untuk mancing rasanya akan sia-sia. Kita tidak bisa rela begitu saja hanya membuka pena bercerita tentang pantainya nan mempesona. Sensasi tarikan monster-monster penghuni tubiran adalah alasan utama. Sebuah penebus lelah, dibesarnya potensi mancing di hamparan surga di sunda kecil. — Tole M. Tok