Pesona Spot Jigging Tulamben

Lokasi karamnya beberapa kapal pada zaman perang dunia 2 membuat perairan Tulamben, Karangasem, Bali memiliki kondisi karang yang indah. Beberapa spesies ikan karang menghuni, menciptakan sebuah rantai makanan pada ekosistem terbaik. Belum lagi suasana alam yang menyejukkan mata, hingga menghadrikan sensasi menyejukkan bagi para pemancing yang datang.

Persiapan yang diperlukan oleh tim sebelum memancing di Pulau Tulamben
Persiapan yang diperlukan oleh tim sebelum memancing di Perairan Tulamben

Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta menjadi titik awal keberangkatan para pemancing dari Jakarta. Barang bawaan berupa peralatan pancing milik masing-masing anggota trip rupanya melewati batas berat barang yang diperbolehkan masuk ke dalam bagasi pesawat yaitu 15 Kg per penumpang. Untuk itu guna mengurangi biaya tambahan, sebagian peralatan pancing terpaksa dijinjing bergantian.

Pesawat terbang kemudian lepas landas menembus langit Jakarta yang gelap membawa rombongan menuju Bali. Penerbangan menuju Bandara Ngurah Rai, Denpasar menjadi kesempatan untuk istirahat sejenak yang dimanfaatkan para pemancing. Si burung besi akhirnya mendarat mulus di Pulau Dewata pada dini hari sekitar pukul 00:15 WITA.

Tiba di Pulau Dewata
Rekan-rekan Dewata Fishing Club (DFC) sudah menunggu terlebih dahulu di lobi bandara untuk menjemput rombongan dari Jakarta. Rencananya, mereka akan mengatur seluruh persiapan selama tim dari Jakarta melakukan kegiatan mancing. Usai makan malam selepas mendarat, tim melanjutkan perjalanan menuju Tulamben di Kabupaten Karangasem.

Tiga jam perjalanan dengan kondisi perut usai diisi makan memang membuat jarak menjadi tak terasa. Sebelum menuju Tulamben, tim memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di rumah salah seorang perajin popper asal Karangasem, Tong Tio. Silaturahmi menjadi alasan rombongan dari Jakarta singgah sebelum melanjutkan perjalanan menuju spot mancing.

Sebelum matahari terbit sekitar pukul 04:00 waktu setempat, tim akhirnya tiba di hotel dan langsung menyiapkan peralatan pancing mereka masing-masing. Karena potensinya bagus untuk melakukan teknik jigging, maka kami mayoritas membawa segala peralatan pancing yang berhubungan dengan jigging, seperti umpan metal jig.

Suasana alam pegunungan di Tulamben yang khas berupa jajaran perbukitan di antara Gunung Agung menghadirkan relaksasi bagi jiwa. Lokasi dermaga menuju spot mancing di Tulamben memang terletak di lereng gunung tersebut. Berbagai persiapan dinaikkan ke atas kapal, joran, serta perbekalan makan dan minum selama melakukan kegiatan mancing di tengah laut.

Spot jigging pada hari pertama ini tidak lah jauh dari tepian pantai karena hanya berjarak sekitar 100-300 meter dari daratan. Satu persatu peralatan pancing disiapkan dan jigging pun dimulai dengan tanda umpan yang diceburkan ke dasar laut. Menggunakan teknik slowjig, rupanya Freddy Nursalim mengawali strike pada trip kali ini. Metal jig ukuran 100 gram miliknya buatan salah satu perajin lure ternama berhasil disambar. Sekuat tenaga Freddy terus menahan perlawanan ikan agar bisa diamankan ke atas kapal. Namun belum sampai permukaan, perlawanan tersebut hilang, rupanya ikan perlawanan ikan mampu melepaskan kail dari mulutnya.

Tidak lama kemudian giliran Yosep Pei unjuk kebolehan usai merasakan sambaran dari dalam air. Dewi keberuntungan rupanya juga belum berpihak padanya kali ini karena Yosep merasakan ‘mocel’ seperti Freddy sebelumnya. Namun walau begitu tidak ada rasa putus asa dari para pemancing.

Sebelum terlalu siang, perahu bergerak menuju spot selanjutnya di sekitar spot pertama. Merasa sambaran ikan belum maksimal, tim kemudian bergerak menuju spot lain masih di perairan Tulamben. Angin gunung yang bertiup ke arah laut membuat siang yang terik itu lumayan sejuk hingga sedikit mengurangi rasa lelah di atas kapal.

Spot Tulamben
Tulamben terkenal sebagai lokasi penyelaman bawah laut yang eksotis. Kontur dasar berupa gugusan beberapa bangkai kapal yang karam di titik-titik perairan tersebut menghadirkan habitat baru bagi terumbu karang dan spesiesspesies ikan. Kondisi itu membuat rantai makanan ekosistemnya tetap terjaga sehingga membuat potensi mancing di Tulamben menjadi maksimal.

trip-tulamben-shino-4
Koko Sugiantoro aka Pakde Joko ketika mendapatkan ikan kerapu.

Metal jig kembali diturunkan sesampainya tim di spot kedua. Koko Sugiantoro nampaknya mulai mendapatkan perlawanan dari bawah laut hingga jorannya melengkung. Jam terbang tinggi dari pria yang akrab disapa Pakde Joko itu membuatnya dengan mudah menaklukkan perlawanan ikan. Rupanya seekor Kerapu sekitar 2 Kg (table size) menyantap metal jig miliknya dan sukses ia naikkan ke atas perahu.

Mengikuti jejak Pakde Joko, kali ini giliran Hendra Selena merasakan strike. irama teknik jigging yang ia mainkan mulai terasa berat sebagai pertanda ada sambaran dari bawah air. yaps, kembali ikan Kerapu Kertang menjadi spesies yang didapatkan pada trip hari ini. Kerapu Kertang merupakan salah satu jenis Kerapu yang kerap ditemukan di wilayah perairan indonesia hingga Australia. ikan dengan nama latin epinephelus lanceolatus ini menjadi salah satu ikan terumbu karang terbesar.

Di sisi lain Tong Tio juga terus ngejig, namun tak ada lagi sambaran yang dirasakan. Tidak adanya arus bawah yang mengalir di perairan spot Tulamben kala itu menjadi alasan kurang maksimalnya ikan-ikan menyantap umpan. Karena kurangnya sambaran ditambah hari yang menjelang sore, tim memutuskan untuk menepi ke darat terlebih dahulu.

Bersandarnya perahu ke darat dimanfaatkan masing-masing pemancing untuk beristirahat dan membersihkan tubuh untuk kemudian menyantap ikan hasil pancing tadi siang yang diolah menjadi masakan khas Bali, pepes ikan dan kuah bumbu kuning asam manis. obrolan kecil hingga pembahasan mengenai teknik mancing dan spot dilakukan guna mengisi waktu luang bersama Tong Tio, Theon dan para kapten kapal.

trip-tulamben-shino-3
Suasana mancing pada malam hari diatas kapal dengan penerangan seadanya

Menjelang Malam waktu menunjukkan pukul 19:00 wiB. Kadek Suryadi, wayan beserta rekan-rekan lainnya datang menemui kami di penginapan. Rencananya pada malam itu juga kami akan menuju spot mancing rumpon Yellowfin Tuna (YFT) untuk mendapatkan ikan prestisius tersebut. Berdasarkan informasi yang di dapat, beberapa nelayan dan pemancing sekitar Tulamben sering mendapatkan YFT di rumpon yang sengaja diletakkan itu.

Tim langsung bergegas menyiapkan peralatan agar tidak banyak menghabiskan waktu. Jarak rumpon Tuna dari darat lebih jauh dari spot jigging, yaitu berkisar 2.5-3 jam dari darat ditempuh menggunakan perahu dengan mesin 15PK. Pada trip kali ini, tim menggunakan 6 unit perahu yang diisi oleh 2-3 pemancing termasuk pengemudinya.

Setibanya di spot rumpon, angin bertiup kencang menusuk sendi hingga seluruh tubuh. Piranti mulai digunakan, strike pertama kemudian berakhir putus. Perburuan YFT semalam suntuk sangat menantang adrenalin. Sumanto Bandar Saputra pun strike. Pemancing yang juga asal Jakarta itu mendapatkan perlawanan dari dasar air. Namun nasib sial, belum sampai ke permukaan benang pancingnya putus.

Hingga menjelang pagi, tidak ada sambaran berarti pada trip kedua ini karena memang pada saat itu belum datang musim YFT. Hanya seekor Tuna berukuran kecil dan ikan Lemadang yang berhasil tim dapatkan. Mengetahui hasil belum maksimal, tim memutuskan untuk bergeser agak ke darat. Hingga hasilnya Kadek Suryadi dari DFC beberapa kali strike ikan giant Trevally. Sebelum siang hari tim memutuskan untuk kembali ke darat lebih awal. Mancing di Tulamben, Bali menghadirkan kepuasan tersendiri, dari besarnya potensi spot ikan, hingga pemandangan indah pegunungan di sudut pulau. rencananya pada November nanti tim akan kembali ke Tulamben untuk membuktikan besarnya potensi mancing di sana.–Sugiantoro (Pakde Joko)