Perburuan Tiga Hari di Binuangeun

Binuangeun selalu menjadi tujuan favorit bagi penghobi mancing. Spot di perairan selatan Provinsi Banten ini dikenal dengan kemurnian alamnya dan jumlah hasil tangkapan ikan yang melimpah. Selain sebagai kawasan wisata bahari, Binuangeun juga termasuk sebagai salah satu pantai penghasil ikan terbesar di Kabupaten Lebak Selatan atau mungkin di Provinsi Banten. Dengungnya tidak bisa dilupakan dari benak pemburu ikan-ikan besar di Indonesia, seperti para penghobi mancing dari Solo, Jawa Tengah ini terpesona dengan daya pikat Binuangeun dan mereka pun datang untuk berburu.

Berawal dari undangan Antun Budiman, SM berkesempatan untuk mengikuti trip tiga hari ke Binuangeun pada 21 November 2014. Pemilik PT. Media Mitramanunggal itu sangat antusias melakukan kegiatan memancing di laut bersama beberapa rekannya yang juga dari Solo, yaitu Irawan, Teddy Santoso, Rangga Dharma serta Yuwono Saptohadi (Udiek). Sebelum berangkat ke Binuanguen, Teddy sempat berdiskusi bersama rekannya di Solo mengenai kondisi arus dan cuaca laut Binuangeun. Ia mengatakan bahwa akhir pekan ini berdasarkan ramalan kalender mancing, kondisi laut dan cuaca sedang tidak bagus. Artinya hasil tangkapan akan tidak maksimal karena kondisi arus air dalam laut masih kacau.

trip binuangeun
Berpose Selagi Menuju spot

Hari Pertama SM 
Menunggu di parkiran bandara bersama dua orang driver dari Solo dan San-san (asal Tegal, Jawa Tengah) harap-harap cemas menanti kabar tim yang pesawatnya delay karena faktor cuaca. Tepat pukul 08:00 WIB ponsel milik San-san berdering, diterima kabar bahwa pesawat baru saja landing. Kami pun menjemput rombongan di pintu keluar terminal. Suasana hening tiba-tiba pecah sewaktu rombongan dari Solo tiba di pintu keluar terminal 1 bandara Soekarno-Hatta. Rombongan terlihat penuh ceria, setelah itu kamipun segera menuju parkiran dimana mobil sudah menunggu.

Tiba di Binuangeun 
Tak berapa lama setelah landing dari pesawat, tim memutuskan untuk segera menuju ke Binuangeun agar tak kesorean. Akses jalan menuju Binuanguen yang sedang dalam perbaikan membuat perjalanan menjadi lebih lama dari biasanya. Setelah melewati jalan dengan medan yang cukup berat di sekitaran Jalan Raya Malimping-Pandeglang, akhirnya kami tiba di Dermaga Binuanguen pukul 15:00 WIB tepatnya di basecamp milik Institut Pertanian Bogor, Kampung Muara, Desa Cikiruh Wetan, Kecamatan Binuangeun. Tim sudah tak sabar untuk segera tiba di spot. Barang bawaan berupa boks-boks yang berisi alat pancing segera diturunkan dari mobil. Urusan kapal, tim menggunakan servis dari KM. Jagat 3 yang sudah di booking sebelumnya. Cukup nyaman, tersedia 3 buah kamar berpendingin ruangan, dapur, 2 kamar mandi, serta tempat duduk yang mampu digunakan oleh 7 orang, personel kapal terdiri dari 1 orang kapten dan 4 orang ABK. Kami pun berangkat. Raungan mesin semakin keras, bertolak dari dermaga Binuanguen menuju laut lepas.

trip binuangeun7

Spot Pertama
Angin dari berbagai arah berhembus di Muara Binuanguen sore itu, ombak lumayan kencang menerpa kapal namun tak membuat kapten Ujang kesulitan memecah alur ombak. Dibutuhkan waktu 6 jam untuk menuju spot di perairan Karang Tengah. Tak berapa lama, kami mengisi perut dengan menyantap nasi bungkus. Selesai makan, ABK dengan sigap membantu tim menyiapkan peralatan tempur, memasang dan mengencangkan ril dan joran, menggulung benang dan menyimpulkan tiap-tiap ujung dengan kail.
Semua peralatan sudah siap, para pemancing masuk ke dalam kamar masing-masing, sebagian tidur, sebagian lagi ngobrol-ngobrol santai di belakang kapal menunggu hingga tiba di spot yang dituju. ABK mengatakan bahwa kapal akan sampai Karang Tengah sekitar pukul 21:00 WIB.

trip binuangeun6

Putus senar
Perkiraan dari ABK benar. Walau ombak lumayan besar, kapal tiba di spot pertama sekitar pukul 21:00 WIB. Kapten pun memberhentikan laju kapal dan langsung memerintahkan ABK untuk menurunkan sauh. Tak berapa lama, tim langsung bergegas di posisi jorannya masing-masing. Sansan memulai pertarungan malam itu. Metal jig yang dilempar ke dasar laut mengawali jiggingnya. Satu-duatiga-empat kali ngejig, Sansan tetap terlihat tangguh walau hasil buruan belum terlihat, tak lama setelah itu, ia kelelahan, peluh membasahi kulitnya. Ia memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.

Di sisi lain, Teddy Santoso dan Rangga Dharma memainkan tehnik dasaran. Tak berapa lama setelah umpan diturunkan, Teddy strike. Ia terus berjibaku meladeni perlawanan ikan yang nampaknya berukuran besar, tapi sayang, senarnya putus “Aduh, putus” katanya. Dengan sedikit kecewa ia kembali menggulung senar dengan memutar ril. Strike selanjutnya milik Antun Budiman. Sepenuh tenaga ia keluarkan demi meladeni perlawanan ikan. Terjadi pertarungan, tarikmenarik yang lumayan sengit. Suasana pun menjadi ramai saat teman-teman memberikan semangat. Aah.. tapi lagi-lagi senar putus. Dari bangku sebelah Udiek berseloroh “Hebat, jorannya bisa auto release.” seisi kapal pun tertawa.

Merasa cukup istirahat, Sansan kembali beraksi. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk strike. Hanya satu kali berjigging, langsung disambar. Yap, dengan penuh semangat ia memutar ril sambil penasaran ikan apa yang didapatnya, PE 80 lb miliknya masih tak mampu mengatasi perlawanan ikan alias senar putus lagi. Kejadian ini berulang dialami Sansan hingga 4 kali. Belum lagi Rangga, Irawan dan Udiek yang juga bernasib sama. Sedang asyik-asyiknya bergurau, joran milik Teddy melengkung tajam, umpannya disambar ikan. Kali ini ia tak mau mengulang kesalahan sebelumnya. Seekor kuwe berhasil naik ke atas kapal. Pertarungan yang seru untuk trip malam pertama meskipun hasil kurang memuaskan, disebabkan senar putus.

Hari Kedua
Sebelum hari mulai terang, kapten memutuskan untuk pindah ke spot lain masih di perairan Karang Tengah. Ombak dan arus di pagi hari itu belum menunjukkan tanda-tanda tenang. ABK sudah menyiapkan umpan irisan udang yang kemudian dipasangkan ke mata kail. Umpan serentak diturunkan.

Menyiapkan umpan terlebih dahulu.

Semua pemancing fokus terhadap jorannya masing-masing. Tak berapa lama, Antun merasakan umpannya disambar ikan. Ya, mancing hari kedua ini diawali dengan aksi Antun Budiman yang berhasil menaklukkan Kakap Merah berukuran sedang. “Lumayan,” kata Antun. Belum lama setelah menurunkan umpan, Antun kembali strike. Nampaknya ikan sedang suka dengannya. Antun terus berusaha menaklukkan perlawanan ikan sekuat tenaga. “Ah.. lepas,” teriaknya, ikan sudah terlebih dahulu melepaskan diri dari mata kail.

Berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini ikan lebih lapar dan semua anggota tim berhasil strike. Estafet strike dilanjutkan oleh Sansan yang sedari tadi sibuk jigging. Ikan Jenaha sukses diangkatnya diikuti oleh Rangga, Udiek, Irawan yang juga mendapatkan ikan dengan jenis yang sama. Jenaha merupakan salah satu kerabat ikan kakap. Ikan yang masuk dalam jenis Lutjanus synagris ini memiliki ukuran rata-rata 0,5-3 kg. Tidak seperti kakap merah yang terkenal agresif, Jenaha terbilang tidak banyak melakukan perlawanan saat tertancap mata kail.

Pada malam kedua di spot yang baru, kapten kapal memilih spot di perairan kawasan Karang Dangkal. Angin kencang membuat gelombang laut tak karuan dan kapal kian terombang-ambing. Dengan sigap ABK menurunkan jangkar agar kapal tetap pada tempatnya. Sebagian ABK membantu tim mempersiapkan umpan hidup berupa cumi yang dipotong kecil-kecil. Satu-persatu umpan dikaitkan pada kail.

Tim nampaknya harus benar-benar fokus merasakan sambaran ikan karena kapal terus bergoyang-goyang. Mancing pada malam itu rupanya tim kedatangan tamu, kawanan lumbalumba dengan lincahnya bergerak bebas mengelilingi kapal. Atraksi gerakan timbul-tenggelam lumbalumba berhasil menghibur kami semua yang sedang menanti ikan untuk berburu bahan makanan untuk santapan makan malam. Tak berapa lama Irawan merasa umpannya disambar ikan. Sekuat tenaga ia meladeni perlawanan ikan dengan terus memutar ril. Perlahan namun pasti Irawan berhasil mengangkat seekor kakap merah berukuran sedang. Sementara itu ABK tidak mau kalah, walau menggunakan peralatan seadanya, dengan tehnik handline mereka berhasil mengangkat kurisi dan wakung sawo.

trip binuangeun4
Hasil tangkapan dari trip Binuangen

Hari Ketiga
Di dek belakang, tim berkumpul setelah istirahat dari mancing tadi malam. Udara pagi di hari ketiga trip cukup pas untuk ngobrol-ngobrol ringan di kapal. Namun bukan berarti joran sudah disimpan. Teddy masih penasaran ingin merasakan strike dengan ikan yang lebih besar, tapi apa daya kali ini buruan besar sulit untuk didapatkan. Antun pun hanya berhasil mendapatkan kerapu mini. Dia lebih memilih merilis ikan sambil mengajak bicara “Kamu saya lepas, tolong panggilkan teman-temanmu yang besar ya suruh makan umpan saya,” canda Antun. Hari semakin siang, mancing di spot Karang Dangkal rupanya tidak banyak menambah hasil tangkapan. Tim memilih untuk kembali beristirahat di kamar masing-masing. Kapten pun mengarahkan kapal untuk kembali ke Muara Binuangeun.

Belum jauh perjalanan menuju pulang, tiba-tiba joran milik Sansan bergerak pertanda umpan disambar ikan “Stop, stop, strike” pekiknya, kapten dengan sigap menghentikan kapal. Perlawanan kali ini lumayan sengit, menandakan bahwa ikan yang menyantap umpan berukuran besar. Karena kelelahan, Sansan memberikan kesempatan strike kepada Antun, namun ternyata Antun juga tak bertahan lama dan kembali memberikan joran kepada Sansan. Belum lama Sansan memutar ril, ternyata buruan terlepas. “Waduh, lepas,” ucap Sansan. Perjuangan selama hampir 20 menit pun sia-sia.

Ombak yang besar memang menjadi salah satu faktor sulitnya menjinakkan ikan. Walau begitu tak pernah ada rasa kecewa dari tim yang gagal mengangkat ikan besar “Mungkin bila strike tadi sukses, itu akan menjadi hiburan terakhir trip kita,” ucap Teddy. Sansan menimpali “Berarti rezeki ikannya lagi bagus.” Strike tersebut menandakan berakhirnya trip mancing kali ini. Tim bergegas membereskan peralatan mancing, dibantu ABK yang mencuci ril dan joran. Namanya Binuangeun, sedikit-dikitnya hasil buruan jumlahnya tetap tidak mengecewakan. Terhitung tim berhasil mendapatkan ikan sekitar 145 ekor dari berbagai macam jenis, kuwe, wakung sawo, kakap merah, jenaha, dan lain-lain.

Selama perjalanan ke darat, warna air laut yang tadinya biru berubah kecoklatan, tak terasa kapal semakin dekat Muara Binuangeun, pukul 13:30 WIB kapal merapat di dermaga. Awan mendung menyambut tim sewaktu menginjakkan kaki di darat. ABK dibantu warga sekitar segera menurunkan barang bawaan tim dan semua ikan hasil tangkapan. Setelah tim berkemas dan bersih-bersih, udara dingin membuat perut menjadi lapar. Kapten kapal menawarkan untuk makan bersama terlebih dahulu dengan menyantap beberapa ikan hasil buruan yang dibakar dan dibumbui sambal kecap. Sajian di atas daun pisang itu menghangatkan suasana sore. Selesai makan, barang bawaan dinaikkan ke mobil kemudian kami kembali ke Jakarta sekitar pukul 15:00 WIB.– RPS