Parade Strike di Biak

Lautan teduh Pasifik di utara Teluk Cendrawasih, Papua menyimpan berjuta kekayaan alam dan sumber daya yang melimpah tak ternilai harganya. Dianugerahi panorama yang indah dan kondisi alam yang masih terjaga menjadikan wilayah bagian Timur Indonesia ini sebagai salah satu spot mancing terbaik. Dengan letak geografis sempurna, surga tersebut berada di perairan Biak.

Kontur laut dengan karang- karang yang menjulang pada permukaannya akan menggugah kekaguman bagi siapapun yang melihatnya. Bagi pemancing ini adalah surganya memancing. Popping untuk target monster penghuni karang, Giant Trevally sangat cocok dimainkan di sini. Adalah Sansan Lauw bersama rekan lintas negaranya, Franck, yang diundang dari Perancis untuk mencoba sensasi GT lautan Pasifik.

Bandara Frans Kaisiepo menjadi gerbang masuk dengan akses pesawat menuju Biak. Penerbangan jarak jauh dalam negeri dari Jakarta dibayar lunas dengan keindahan bumi Papua yang membentang hijau. Demi merasakan pengalaman wisata alam yang lebih mendalam, bermalam di rumah penduduk merupakan pilihan yang tepat.

Hari pertama di Biak

kapten motor berpose dengan GT
kapten motor berpose dengan GT

Keesokan harinya sesaat sebelum terang terang, kedua pemancing langsung menuju spot yang berjarak sekitar 30 menit ke arah utara pulau. Mereka menjatuhkan pilihan untuk menggunakan jasa sewa kapal Motoris Anis yang berkapsitas 3-4 orang guna mengantarkan mereka selama mancing di Biak. Motoris begitu sapaan akrabnya, senang bilamana ada turis yang datang baik untuk mancing atau wisata alam karena sebagai warga Biak dirinya merasa bangga ‘rumahnya’ tersebut memiliki daya pikat yang luar biasa indahnya.

Terbitnya matahari di garis cakrawala menjadi penanda tibanya kami di spot tujuan. Udara sejuk pada pagi hari itu menemani Sansan dan Franck untuk memulai aksinya melempar popper. Beberapa alat tempur seperti joran berlaras panjang, leader dan popper disiapkan semaksimal mungkin agar trip ini sukses dan berkesan. Untuk urusan popper mereka membekali diri
sebanyak 30 buah dengan berbagai ukuran, mulai dari 60-100gr.

Percobaan pertama, Sansan melempar popper sekuat tenaga. Dibutuhkan ketangkasan dan fisik yang prima agar popper tepat pada sasaran. Selain itu, kesabaran adalah kunci utama dalam memancing ikan besar, dibutuhkan beberapa kali lemparan untuk dapat menarik perhatian ikan-ikan monster.

Kondisi arus laut, ombak serta angin yang normal sangat mendukung trip mancing kali ini, beruntung sekali. Kerja pertama sepertinya mendapatkan hasil. Ada sambaran dari popper yang dilempar oleh Sansan. strike! Pemancing asal Tegal tersebut berusaha untuk menaklukkan perlawanan ikan dengan terus mengayun sambil memutar ril seirama. Seekor GT dibawah 5Kg berhasil diangkat ke atas kapal. Ikan kemudian dilepaskan kembali ke habitatnya usai beberapa pose foto diambil. Sejak awal, baik Sansan ataupun Franck berprinsip bahwa merilis ikan adalah sebuah keharusan yang wajib dilakukan oleh pemancing guna melestarikan anugerah alam.

Sekarang giliran Franck unjuk kebolehan. Pria yang baru kali pertama memancing di Indonesia itu rupanya sangat menikmati tripnya. Walau harus rela melempar popper berkali-kali, ia tidak menyerah.

Franck sedang berpose dengan ikannya
Franck sedang berpose dengan Giant Trevally

Meski menggunakan kapal tanpa atap, rasanya sengatan matahari tidak menurunkan semangatnya untuk memancing. Hingga akhirnya popper Franck disambar kencang oleh ikan. Nampak dari kejauhan benang pancingnya ditarik- tarik ikan ke dalam laut. Dengan cepat drag ril dikunci pada posisi kencang guna membantu menaklukkan buruannya tersebut.

Ya, kembali GT didapatkan namun dengan ukuran yang lebih besar dari yang didapatkan Sansan sebelumnya. Kapten Motoris Anis berinisiatif untuk membawa kapal berputar hingga mendapatkan spot popping yang lebih berpotensi lagi seraya mengistirahatkan diri. Nampaknya Motoris sudah faham betul apa yang harus dilakukan pada saat membawa tamu pemancing yang gemar poppingan di Biak.

Ketika panas matahari terasa di atas kepala, spot mancing sudah berbeda lokasi. Memaksimalkan waktu yang ada, mereka melanjutkan kembali popping secara bergantian. Diawali oleh Sansan kemudian disusul Franck yang berhasil mengangkat GT ke atas kapal berkat upayanya melempar popper ke spot karang.

Hari Kedua – Popper Yang Terus Disambar Hiu

Hiu yang berhasil ditangkap oleh Franck
Hiu yang berhasil ditangkap oleh Franck

Memancing di laut mengharuskan kita untuk siap dengan segala hal dan resiko yang mungkin terjadi. Hal yang paling sering dialami para pemancing ialah patah joran. Joran akan patah bila tak mampu meredam perlawanan ikan, benang akan putus bila terkena gigi tajam ikan, atau kasus lainnya seperti pada trip ini yaitu popper yang dihancurkan oleh predator-predator laut. Terhitung 20 popper dari 25 yang dibawa sudah tidak layak pakai dan harus rela dibuang karena terkena gigitan hiu. Ini terjadi pada hari kedua trip. Sedang asyik melempar popper di spot yang sama seperti hari kemarin, tiba-tiba Sansan merasakan ada sambaran. Entah ikan apa yang menyambar poppernya sehingga ia merasa tarikan kali ini lebih berat. Mulanya ia dan Franck menyangka jika mereka akan kembali mendapatkan GT, namun tanpa disangka-sangka ketika berhasil diangkat ternyata seekor hiu menelan popper, mulutnya luka tersangkut treble hook dan membuat popper jadi hancur. Predator laut yang buas ini kemudian dilepas usai diangkat dan diambil gambarnya dengan kamera.

Franck juga ikut merasakan apa yang sama dengan Sansan. Usai beberapa kali melempar popper ke arah yang ditentukan, Franck pun strike. Kali ini perlawanan ikan cukup kuat sehingga pria berbadan tinggi besar itu sesekali terjatuh. Belum lagi kondisi kapal yang bergoyang karena diterjang ombak dan membuat Franck harus ekstra hati-hati. Ia kembali terkejut. Dari atas kapal terlihat seekor hiu lagi- lagi menyambar popper miliknya. Kali ini bobotnya lebih besar dari yang didapat oleh Sansan sebelumnya. Rasa senang bercampur kecewa diperlihatkannya seolah berucap di dalam hati “mengapa hiu lagi?” Kendati begitu, mereka tetap merasa puas bisa berjibaku dengan predator itu dan hewan dilindungi seperti hiu adalah wajib untuk dirilis kembali ke habitatnya. Kejadian popper yang hancur rusak karena tersambar hiu terus terjadi berulang hingga hari akhir trip.

Hari Ketiga – Dibalik Teduhnya Pasifik

Sansan yang mendapatkan Redbass
Sansan yang mendapatkan Redbass

Memasuki hari ketiga trip semangat tidak kendur sedikit pun. Berbeda dengan trip di tempat lain yang berlayar di atas kapal hingga berhari-hari, Sansan dan Franck lebih memilih untuk mancing dari pagi buta hingga senja dan kemudian bermalam di rumah Motoris. Hal itu dilakukan karena, pertama, Franck tidak ingin bermalam di atas kapal, kedua, tidak ada fasilitas kapal besar dengan kamar tidur membuat keduanya pergi-pulang seharian dari darat ke laut.

Pada kesempatan ini spot mancing masih sama seperti hari sebelumnya. Beruntung keduanya selalu diberi kelancaran baik kondisi cuaca bersahabat dengan ombak serta arus yang tidak terlalu besar, seperti sebutan bagi Pasifik yaitu Lautan Teduh. Sansan memulai perolehan ikan pada hari ketiga ini.

Seekor Red Bass berhasil dinaikkan olehnya dengan susah payah. Layaknya pejuang yang tak kenal lelah, ia bersemangat menaklukkan perlawanan ikan. Red bass merupakan ikan penghuni karang yang memiliki kekuatan besar jika dirinya terperangkap dalam bahaya seperti terjerat kail.

Tak lama kemudian Franck juga strike. Dengan hati-hati ia mengayunkan joran sambil memompa gagang ril secara bersamaan untuk meredam perlawanan ikan. Ya, nampaknya seekor Tuna Gigi Anjing dengan bobot 8Kg sukses didapatkannya. Dinamakan Tuna Gigi Anjing karena gigi pada ikan ini yang tajam dan besar mirip gigi anjing. Sebagian pemancing mengenal ikan ini dengan sebutan dog tooth dan banyak terdapat di Indonesia.

Sansan berpose dengan GT seberat 30kg
Sansan berpose dengan GT seberat 30kg

Trip full popping rupanya sangat dimanfaatkan Franck untuk mendalami hobi poppingnya. Bagusnya potensi spot di perairan Biak, tidak butuh banyak waktu beberapa kali melempar popper langsung strike. Dari kejauhan nampaknya GT ingin melepaskan diri dan menarik-narik popper. Betul saja, tak butuh waktu lama Franck bisa menaklukkan GT dengan bobot 10Kg lebih itu.

Selanjutnya giliran Sansan untuk mendapatkan strike. Anehnya, walau melempar popper bersamaan dengan Franck, justru Sansan strike belakangan. Kali ini ia susah payah meredam perlawanan ikan sekuat tenaga akhirnya usahanya membuahkan hasil. Wow, ternyata babon GT yang melahap poppernya. Sorak-sorai Sansan lepas usai dirinya menaikkan GT berukuran lebih kurang 30 Kg yang didapat dengan cara popping. Biak, spot mancing yang selalu menghadirkan kejutan dengan potensi ikan-ikannya yang luar biasa. –RPS