Monster Toman Waduk Cirata

Nama waduk Cirata selalu membawa kesan mendalam bagi para pegiat casting. Pesona pemandangan serta besarnya potensi ikan yang ada masih menjadi daya tarik tersendiri dalam mendatangkan para castinger dari berbagai daerah. Adalah predator air tawar seperti Toman, Hampala serta Red Devil merupakan spesies ikan penghuni salah satu waduk terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Pada september lalu, beberapa anggota dari Komunitas Mancing Tegal-Brebes (MTB) mencoba berburu predator-predator air tawar penghuni Cirata. Jaringan yang besar di dalam komunitas itu membuat para anggotanya yang tersebar di Karawang, Bandung hingga Purwokerto rela datang untuk meramaikan trip yang biasa dilakukan oleh divisi freshwater. “Jadwal pada trip ini diawali dengan berburu Toman dan Hampala pada pagi dan sore hari, sementara pada saat matahari muncul hingga menjelang petang diselingi dengan memancing Red Devil,” ungkap Yongky Ramabharata, ketua dari MTB.

Hampala
Ardani memulai perburuan dengan melempar lure menggunakan alat baitcasting miliknya. Beberapa kali umpan dilempar dan kemudian digulung belum ada juga sambaran dari dasar air. Sampai akhirnya ada sesuatu yang menyambar stickbait Ardani. Strike!!! Tarik menarik terjadi. Terlihat rupanya seekor Hampala yang merasa terganggu dengan umpan yang beberapa kali dilempar. Namun sayang Ardani belum beruntung karena ikan sudah terlebih dahulu melepaskan diri dari hook.

Hampala merupakan salah satu target dan ikan favorit para castinger. Ikan ini diketahui menyebar di seluruh kawasan Asia Tenggara mulai dari Thailand hingga pelosok Indonesia bagian barat. Predator air tawar dengan nama lain Hampala macrolepidato merupakan anggota suku Cyprinidae atau masih kerabat ikan mas. Para castinger menyukai berburu Hampala karena ikan tersebut terkenal memiliki perlawanan yang kuat ketika hookup.

Baik stickbait hingga popper terus menerus dan silih berganti dilempar oleh masing-masing pemancing. sudut-sudut waduk yang sekiranya menjadi ekosistem predator air tawar menjadi target mereka dalam melempar lure-lure tadi. bukan tanpa hasil, hingga menjelang siang hari hanya Gabus dengan ukuran kecil yang berhasil didapatkan. Tentu jauh dari keinginan awal yang menargetkan ikan-ikan dengan bobot besar.

Red Devil

ardani berpose dengan ikan Red devil
Ardani berpose dengan ikan Red devil

Perburuan Toman pada sesi pagi hari sudah selesai. Kali ini seperti jadwal sebelumnya, tim akan mencoba berburu Red Devil. Ikan dengan nama latin Cichlasoma Labiatum ini termasuk spesies Louhan dan kerap dijumpai di spot-spot liar. Mayoritas warna merah pada bagian tubuhnya menjadi identitas dalam penyebutan nama ikan hias tersebut.

Kembali umpan dilempar menuju spot-spot pilihan. Finess micro jig dengan ukuran 3-7 gram menjadi senjata andalan dalam upaya menarik perhatian Red Devil. Inilah hebatnya MTB, komunitas tersebut memiliki satu orang anggotanya bernama Rudi Hartono yang bertindak sebagai Research and Development Department. Ia biasa melakukan segala macam riset seperti membuat finess micro jig yang digunakan pada trip kali ini.

Beberapa kali umpan dilempar akhirnya ada sambaran dari bawah air. Strike!!! dengan sigapnya, Adie Margie terus menakukkan perlawanan ikan. Red Devil dengan ukuran sekitar 20 cm ternyata menyukai umpan buatan Rudi dan berhasil ditaklukkan. “Pemancing konvensional setempat sampai terheran-heran dan bertanya, kok mau ya Red Devil memakan besi (micro jig)?” jelas Yongky sambil menyontohkan pernyataan warga sekitar.

Ardani Latief juga tak mau ketinggalan. Joran miliknya yang sedari tadi ia genggam melengkung tajam tanda strike terjadi. Pemancing dari Purwokerto itu berusaha secepat mungkin menaklukkan ikan. Gagang ril yang diputar bersamaan dengan gerakan naik turun joran, dilakukannya terus menerus hingga akhirnya diketahui ia mendapatkan Red Devil kedua.
merasa sudah cukup puas mengaplikasikan micro jig dengan ultra light tackle untuk Red Devil, perburuan kembali kepada target Toman. Kali ini tim mengganti peluru dengan jump frog karena alasan spot yang ditumbuhi banyak eceng Gondok.

Toman
Seperti biasa, beberapa kali lemparan yang dilakukan belum membuahkan hasil karena casting membutuhkan usaha serta kesabaran ekstra. Tak lama kemudian kejutan datang. sedang serius melempar jump frog, tiba-tiba Yongky merasakan sambaran. Suara riak air menciptakan kericuhan hingga membuat eceng Gondok disekitarnya berhamburan. sepertinya Yongky strike ikan besar.

Perlahan joran dipompa bersamaan dengan perputaran ril. Dengan modal rod 10-20lbs, pe 1.5, serta leader 20lbs Yongky nampak kewalahan saat itu. Piranti seperti itu membuatnya kewalahan meladeni perlawanan ikan ditambah masih banyaknya eceng Gondok yang menghalangi.

Yongky ramabharat berpose dengan toman
Yongky ramabharat berpose dengan toman

Sampai salah seorang warga sekitar rela menyingkirkan tumbuhan air tersebut agar ikan mudah untuk ditarik. Pelan namun pasti, ikan berhasil ditarik mendekat. Ketika nampak dari pandangan sejauh 2 meter ternyata seekor Toman memakan jump frog milik Yongky. Sepertinya ini adalah monster Toman penguasa wilayah waduk Cirata yang sudah lama ada. Ketika berhasil ditaklukkan, pengukuran pun dilakukan. Sebagian orang yang melihat kemudian menduga-duga panjangnya. Yang jelas ketika diukur, lip grip milik Yongky tak mampu menahan bobot predator tersebut. Untuk itu digunakanlah meteran dan ketika diukur Toman tersebut memiliki panjang hingga 93 cm.

Warga sekitar yang menyaksikan dan mengetahui panjangnya pun takjub. Menurut kesaksian dari sebagian mereka, belum pernah ada Toman dengan besar seperti yang Yongky dapatkan itu. Secara pribadi, Yongky merasa bangga karena berhasil menaklukkan monster Cirata yang menjadi targetnya sejak awal. Kejutan di penghujung waktu pada trip kali ini rupanya juga membuat rekan-rekan Yongky lainnya ikut merasa puas. Tak lama kemudian senja semakin redup menciptakan kelopak jingga di ufuk barat. Pose foto bersama dengan ikan hasil tangkapan menjadi kegiatan penutup.– Yongky Ramabharata