Menerjang Arus Selat Makassar

Sejak pertama kali meninggalkan Dermaga Pangalasinag, gelombang serta angin kencang terus menerpa KM Berdikari II dari segala penjuru. Sore itu, Alun segara berkecamuk bertambah kencang saat kami tiba di spot beberapa mil dari bibir daratan Donggala. Keadaan sulit pun mengahampiri, dimana umpan tak kunjung menemui titik kerumunan ikan karena terseret liarnya arus bawah laut.

Pesona indahnya bentang alam pegunungan di leher Pulau Sulawesi seketika lenyap terhalang mendung. Seharusnya sore itu, sesuai ramalan cuaca dari otoritas setempat, senja akan menakjubkan jatuh di Selat Makassar. Lembayung merona dari batas cakrawala langit. Dan malam akan memayungi arena pertarungan dengan monster laut Donggala, Tuna Gigi Anjing.

Namun cerita lain datang setelah kami semua seisi kapal kesulitan menuju spot Tuna Gigi Anjing (Dogtooth Tuna) diantara Pulau Toguan dan Maputi. Saat malam tiba, alun tak juga memberi tanda akan reda, malah sebaliknya. Kapten kapal berusaha keras mengarahkan kapal dengan menerjang ombak yang sesekali kemasukan air laut dari sisi samping.

Mancing di Laut Donggala
Arus lau yang kuat menyebabkan umpan (metaljig) terseret jauh sehingga bobot umpan jadi lebih berat dari biasanya.

Berbagai cara pada malam pertama coba kami lakukan dengan menurunkan umpan mengaplikasikan teknik jigging. Ukuran jig di atas 150 gram pun diturunkan lancar sekali, namun mendadak terasa berat ketika jig dimainkan bergerak ke atas. Kejadian ini berulang terus menerus hingga membuat tenaga tercurah begitu banyaknya. Para pemancing yang merupakan rekan-rekan dari Adhi Fishing Community sempat kewalahan menjaga keseimbangan
di atas kapal. Sehingga duduk jadi pilihan terbaik kala badai di tengah laut terus menerjang.

Guna memperlebar peluang strike, variasi teknik dasaran menggunakan umpan irisan Tongkol juga diturunkan. Anak buah kapal yang ada di buritan kapal memberi rekomendasi penggunaan timah pemberat lebih besar dari biasanya guna meminimalisir bergesernya umpan lebih jauh dari jangkauan yang dituju.

Pada kondisi arus dan gelombang yang besar, menurunkan umpan dengan pemberat berbobot 2 kg rasanya cepat sekali senar terulur. Malam itu saya ingat sekali beberapa rekan pemancing merasakan jika bandul masih saja bergerak terbawa arus. Mengecek umpan pun rasanya tersiksa sekali karena joran ikut melengkung serasa mendapat ikan.

Bergesernya Arus Panas Pasifik
Selat Makassar menjadi salah satu gerbang masuknya aliran massa air dua samudera yang mengapit Indonesia (Pasifik ke Hindia). Aliran massa air ini disebut juga Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) dan terjadi sebagai akibat adanya perbedaan tekanan antara kedua samudera tersebut. Massa air yang berasal dari Pasifik utara ini memasuki laut Sulawesi lewat sebelah selatan Mindanao, kemudian masuk ke jantung perairan Indonesia lewat Selat Makassar, terpecah menuju Selat Lombok dan Laut Flores untuk keluar ke Samudera Hindia. Rute ini oleh para ahli dinamakan dengan rute barat (western route).

Walau dinaungi cuaca buruk, namun hasil tetap bisa didapatkan diantaranya Tuna Gigi Anjing berukuran 8 kg

Bukan berarti tak ada ikan, arus laut ini turut pula membawa ikan melewati beberapa perairan tadi. namun kenyamanan mancing jadi terganggu karena arus yang kuat membuat beberapa kali umpan menjauh dari titik sasaran kerumunan ikan yang terdeteksi dari alat pelacak ikan di ruang kemudi kapal (fish finder). Hingga akhirnya berbagai cara pun ditempuh menggunakan timah pemberat ukuran 2 kg dengan harapan umpan jatuh tepat sasaran.

“Ikan, terutama spesies Dogtooth merupakan jenis ikan yang memiliki wilayah kebiasaan makan pada suatu titik tertentu. Jika meleset sedikit saja kita menurunkan umpan, kawanan Dogtooth rupanya tak tertarik dengan umpan apapun,” jelas Muhammad Taufik menjelaskan pengalamannya ketika pertama kali mengeksplorasi keberadaan Dogtooth di perairan Donggala kepada kami di kediamannya di Palu.

Rasa penasaran terus menghinggapi kami sambil berucap dalam hati agar cuaca segera membaik, paling tidak mereda. Dari buritan kapal, kericuhan terjadi usai seekor Dogtooth sukses dinaikkan ke atas kapal melalui pertarungan sengit. Pengukuran pun dilakukan hingga penunjuk berhenti di angka 17 pon (sekitar 8 kg).

Disambarnya umpan jig oleh Dogtooth tadi sempat menjadi pertanda akan adanya kembali Dogtooth- dogtooth yang lain. Secara bersamaan, pemancing lain menurunkan umpan pula dari berbagai sisi kapal. Satu, dua, tiga dan seterusnya pertanda strike belum juga muncul. Belum juga Dogtooth yang kami dambakan itu menampakkan keganasannya.

Sekilas Raja Gantang
KM Berdikari II masih berada di perairan Donggala dengan kedalaman di antara 50-150 meter lebih. Semangat melakukan kegiatan mancing rupanya jadi penghalang rasa khawatir di tengah hembusan angin dan cuaca buruk yang masih bertahan hingga pagi hari kedua.

Muhammad Taufik dari Samson FC yang juga mengelola KM Berdikari II melepaskan jig dari sisi kanan kapal. Bertarung dengan ganasnya cuaca, beberapa kali jig ia tarik dengan harap ada ikan yang menyambar. Sampai pada suatu ketika jorannya melengkung tanda ada perlawanan dasar laut. Dimana rupanya kail menyangkut pada mulut seekor ikan Swanggi.

Mancing di Laut Donggala
Ikan Swanggi (Priacanthus Tayenus) atau kerap juga disebut raja gantang didapatkan oleh M. Taufik.

Ikan Swanggi (Priacanthus Tayenus) atau kerap juga disebut Raja Gantang merupakan spesies ikan karang demersal dari famili Priacanthidae. Raja Gantang memiliki karakteristik biologis unik, berkelopak besar, cerah dari hijau kemerahan dengan lapisan pemantul cahaya serta berwarna kulit merah merona. Dibekali gigi kecil tajam dengan bentuk fisiknya memanjang tipis secara lateral yang panjang totalnya mencapai 35 cm.

Menurut informasi dari Taufik, Raja Gantang di perairan Donggala ini memiliki ukuran di atas rata-rata yang sering kita lihat di dalam penyajian makanan. Terbukti, 2 ekor Raja Gantang yang didapatnya berukuran rata-rata 30 cm. Tangkapan nikmat ini jadi obat manis, pelega jiwa dan motivasi bagi rekan-rekan yang lain.

Pada akhirnya angin kencang masih bertahan pada kecepatan tinggi hingga menghalau laju KM Berdikari II menuju pulang. Dua buah jangkar dikorbankan akibat sulitnya medan ketika proses penurunan serta tarik jangkar. Yang satu ditinggal dan diberi penanda, satunya lagi terjun bebas tanpa sempat diselamatkan. Hingga menginjakkan kaki kembali di daratan jadi hal yang melegakan. –RPS