Kejutan Hampala Kota Batang

Aktivitas memancing di spot darat  (freshwater) menggunakan teknik casting kian menjadi primadona bagi para pemancing yang menginginkan alternatif lain selain memancing di laut. Tidak kalah dengan penghuni laut, beberapa jenis ikan air tawar memiliki sambaran yang kuat dan agresivitas yang tinggi. Sebut saja Gabus (snakehead), Toman (giant snakehead) hingga Hampala. 

Tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki potensi ikan air tawar masing-masing, seperti di Jawa Tengah bagian utara, yaitu kota Batang, target ikan seperti Hampala banyak ditemukan di danau, sungai atau rawa-rawa dengan kadar alami yang masih terpelihara. Salah satu spot sungai di Desa Segog, Kec. Tulis, Batang rupanya menarik perhatian Risqon untuk merasakan bagaimana sensasi memancing ikan Hampala.

Foto bersama tim dengan hasil tangkapannya

Siang hari yang terik kala itu Risqon, Umam, Fauzie, Adlan dan Kiki bergegas menuju spot mancing yang berjarak 7-8 Km dari tempat tinggal mereka yang saling berdekatan. Kendati melalui jalan ala offroad yang tanahnya masih labil dan licin tidak menyurutkan sedikit pun semangat para pemburu Hampala ini. Tidak memakan waktu yang lama, jarak spot tersebut hanya berkisar 30 menit.

Sesampainya di spot, masing- masing pemancing mengeluarkan piranti andalannya. Terlebih dahulu, beberapa dari mereka mencoba mengamati situasi dan kondisi di bawah sungai. Keruhnya air menyulitkan pandangan dalam menentukan titik mana saja yang pas untuk dijadikan lokasi casting. Ditambah lagi derasnya permukaan air beriak tiada henti akibat hembusan angin yang kencang. Walau terbilang sering mengunjungi spot mancing tersebut, mereka harus tetap menentukan mana saja titik yang terdapat ikan dengan membaca situasi.

Satu persatu para pemancing melemparkan umpan bass buster pencil 80 dengan relatif agak cepat ke tempat yang menurut mereka memiliki tanda-tanda keberadaan Hampala. Satu, dua, tiga kali lemparan nampaknya belum juga terlihat tanda- tanda adanya sambaran dari ikan. “Kita harus pintar- pintar mengatur tenaga agar tidak cepat lelah saat castingan,” ujar Risqon.

Risqon berpose dengan ikan tangkapannya
Risqon berpose dengan ikan tangkapannya

Benar saja, akhirnya lure milik Risqon disambut ikan. Joran 180 cm dengan line weight 2-6 lb yang ia gunakan langsung melengkung tajam. Pertarungan dengan Hampala dimulai. Line pada spool Shimano Chronarch 51e dengan setingan drag lebih dari setengah sempat tertarik keluar beberapa sentimeter. Rasa khawatir bertambah karena Risqon menggunakan Power Pro super slick 10 lb dengan leader Shimano high leader #2 (0,23 mm/12 lb), modal yang lumayan menguras tenaga untuk bertarung dengan Hampala.

Perlahan ikan ditarik hingga naik ke permukaan dan menyelam lagi ke dasar sungai mencoba melepaskan diri. Akhirnya karena kelelahan, Hampala pun menyerahkan dan berhasil dinaikkan. Meski lelah namun kepuasan strike Hampala sangat menghiburnya, kemudian ia mengukur ikan hasil pancingannya dan diperoleh hasil yaitu panjang 43 cm. “Usai ambil gambar, kemudian kail dilepas dari mulut ikan dan dirilis kembali agar bisa dipancing lagi,” tambah Risqon.

Bosan menggunakan pensil, Risqon mengganti umpan dengan mini popper 65cm. Di spot yang sama itu, nampaknya sambaran sudah tak ada lagi sehingga membuat dia dan rekan-rekannya pindah ke spot lain. Spot baru ini kondisinya lebih landai 200 meteran, beberapa pemancing langsung mengambil tempat masing- masing dan memulai castingan.

Keagresifan Hampala hingga membuat hook pada lure rusak
Keagresifan Hampala hingga membuat hook pada lure rusak

Rupanya di spot ini Hampalanya sedang agresif, beberapa pemancing yang berhasil menaikkan ikan harus menerima resiko treble hook menjadi bengkang.

Selain castingan, beberapa pemancing juga menggunakan tehnik negeg dengan umpan lumut. Dari negeg, ikan buruan seperti Nila dan Soro (green mahseer) merupakan ikan yang lazim didapat di spot itu. Tak berapa lama kemudian kami beristirahat sejenak sambil menikmati keindahan alam.

Usai dirasa cukup beristirahat, perburuan dilanjutkan. Umam yang sejak tadi aktif melempar umpan ke beberapa titik mendapatkan sambaran. Riak air di permukaan sungai menandakan ada kekacauan terjadi yang berasal dari sang Hampala. Dengan adanya miscall dari ikan tersebut menimbulkan rasa penasaran besar bagi mereka semua, termasuk Risqon.

Ia mencoba melempar umpan ke titik dimana sebelumnya Umam merasakan sambaran. Benar saja, sebentar saja umpan Risqon disambar. Strike! Dengan hati-hati ia menaklukkan perlawanan ikan hingga jorannya melengkung tajam.

Akhirnya Hampala berhasil didapatkan oleh tim

Beruntung di spot kali ini kedalamannya hanya 1-1.5 meter, lebih dangkal dari spot sebelumnya. Namun timbul masalah, leader beberapa kali bergesekan dengan bebatuan ditambah lagi perlawanan ikan yang agresif hingga masuk ke sela-sela, kondisi ini tentu menyulitkan.

Joran 2-6 lb dengan tipe regular fast sulit menarik ikan keluar dari bebatuan. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mempertahankan fightnya hingga menunggu ikan menjadi lemas. Pertarungan justru semakin sengit, meski pada akhirnya ikan berhasil ditaklukkan. Dengan sigap Umam membantu menaikan ikan dan sama-sama diukur ternyata panjangnya 47 cm. “Bagi saya yang tinggal di Batang, mendapatkan Hampala di kawasan Pantura dengan panjang 47 cm merupakan hal yang langka,” sambut Risqon. Setelah mengambil gambar, ikan dirilis.

Pertarungan dengan Hampala 47cm menjadi akhir cerita trip hari itu. Bagi Risqon, perolehan tersebut merupakan rekor terbesarnya. Walau hanya berhasil mendaratkan 2 ekor Hampala, namun ia cukup senang karena mampu menaklukkannya dengan joran 180 cm/2-6 lb, mainline 10 lb dengan leader 12 lb. Agresifitas Hampala di spot tersebut membuat mereka merasa memiliki bagian tanggung-jawab akan kelestarian alam. Waktu sudah sore dan langit mulai meredup, mancing pun disudahi, mereka pulang. – RPS