Jelajah SMR Bersama Shimano

Pada 20 Juli Lalu, saya diterbangkan dari Kuala Lumpur menuju Jakarta untuk mewakili Shimano South East Asia (SEA) dalam trip mancing di Sea Mount Reef (SMR), Lampung bersama beberapa pemancing dari Indonesia. Ini adalah pengalaman perdana saya mancing di perairan Indonesia, di samudera beralas Gunung-gunung berapi.

Ramainya laporan di berbagai kanal diskusi membahas potensi mancing di SMR seolah tiada habis. Sebelum berangkat, unggahan video dan foto di media sosial terkait kegiatan mancing di SMR oleh pemancing yang pernah berkunjung ke gerbang samudera itu menjadi referensi. Persiapan harus dipikirkan secara matang, terutama soal keselamatan, karena Juli ini cuaca sedang tidak menentu. Soal hasil, mungkin bisa dipikirkan setelahnya.

Persiapan selanjutnya yaitu senjata yang mumpuni. Kali ini saya coba persiapkan ril Twin Power, Stella dan Ocea Jigger keluaran teranyar 2017. Untuk pilihan rod, sepertinya Game Type J, Jigwrex UD dan Speedmaster.

Trip Bareng Shimano Di SMR Lampung
Trip mancing yang diinisiasi oleh Shimano Sout East Asia (SEA) bekerjasama dengan Aneka Raya Pancing (ARP) di Sea Mount Reef (SMR) Lampung kembali diadakan pada 21-23 Juli 2017. Peserta mancing yang berasal dari Indonesia, dipilih secara acak berdasarkan undian berhadiah dari pembelian produk Shimano saat produsen peranti mancing ini menggelar Open House di Indonesia. Indonesia sebagai tuan rumah sendiri diwakili oleh Aneka Raya Pancing selaku pemegang lisensi resmi Shimano di tanah air. Sampai waktu keberangkatan pun tiba, terpilih 11 pemancing yang beruntung untuk trip bersama Shimano di perairan yang berada di bibir Samudera Hindia tersebut.

Persiapan Sebelum Memulai
Trip Untuk pilihan rod saya lebih memilih Game Type J, Jigwrex UD dan Speedmaster. Jika melihat amunisi yang saya bawa tak perlu ditebak teknik mancing apa yang digunakan dalam trip kali ini. Ya, fast jigging menjadi fokus teknik mancing kami di perairan SMR nanti. Kebetulan kedalaman air yang kami temui berkisar 50 meter sampai 180 meter. Tentu saya memutuskan untuk mempersiapkan pula beberapa jig yang sesuai dengan spot tersebut seperti Jig Coltssnipper dan Ocean Stinger Butterfly, termasuk keluaran terbarunya King Slasher dan Drift Slasher.

Sebelum berangkat menuju Lampung, para pemancing melakukan mendapatkan pencerahan dari panitia, serta perwakilan Shimano di Markas Aneka Raya Pancing Community di Bandengan, Jakarta Utara.

Pihak ARP sebagai tuan rumah pun memulai pengarahan kepada peserta mengenai seluk-beluk spo mancing, aspek keselamatan, dan rundown acara mulai dari keberangkatan sampai pulang kembali ke Jakarta. Tak lupa panitia menyediakan hadiah berupa produk Shinamo yang bisa didapatkan oleh peserta jika berhasil mendapatkan buruan utama (non-ikan dilindungi).

 

Mereka juga mengingatkan cuaca di sekitar perairan Samudra Hindia sedang tidak bersahabat dengan ombak dan angin kencang yang saling bersahutan. Atas informasi cuaca buruk ini, tidak sedikit trip-trip pemancing lain yang mengurungkan agenda mancing mereka.
Terlebih trip ini dalam pengamatan saya sudah dirancang sejak tiga bulan sebelumnya. Tentu akan cukup berat bagi pihak panitia maupun peserta yang memang menjadi pemenang undian untuk membatalkan trip besar ini. Akhirnya keputusan diambil untuk tetap berangkat.

Tantangan Dimulai
Rona bulan yang tampil mempesona pada malam itu, berganti dengan matahari pagi yang muncul dari peraduannya. Seperti yang dijanjikan pada jam 7 pagi, kapal kami siap berangkat ke tempat tujuan. Cuaca masih mendung di dermaga dan ini sangat mengkhawatirkan saya. Kapten kapal menyatakan bahwa dia tidak akan memasuki tempat memancing yang direncanakan jika situasinya agak berbahaya karena keselamatan adalah prioritas. Pukul 11:00 kami berlayar dan tiba di spot pertama enam jam kemudian.

 

Pro Staff Shimano Asal Malaysia, syafi`e Abdul Shukor memperlihatkan ikan hasil tangkapannya di atas KM Berdikari 9.

Pesta Tongkol Pada Hari Pertama
Spot pertama memiliki kedalaman sekitar 60-70 meter dengan cuaca mendung dan ombak sekitar 3-5 meter. Beberapa pemancing menggunakan teknik dasaran dengan menggunakan umpan irisan cumi dan ikan, sementara yang lain dengan teknik jigging. Setelah mencoba teknik jigging selama sekitar 30 menit, saya baru mengetahui bahwa spot ini berpasir. Untuk itu saya memfokuskan pada permainan jig di kedalaman sekitar 20-40 meter.

 

Kapten kapal telah menginformasikan bahwa tempat ini banyak dihuni spesies ikan Tuna. Strategi pun kami ubah, sehingga kami tidak perlu menunggu lama untuk tangkapan pertama berupa ikan Tongkol yang berhasil didaratkan oleh Pak Budi. Pemancing dari Lampung ini menggunakan jig sampai 60 gram. Begitu ikan pertama dinaikkan, seperti yang kami duga, ikan Tongkol lainnya terus bersusulan tanpa henti dan dimulailah pesta Tongkol sepanjang malam itu. Ikan yang berhasil didaratkan tidak hanya terbatas melalui pancingan jigging saja, melainkan beberapa tangkapan lain juga berhasil landed dengan teknik dasaran.

Setelah mulai tidak ada tangkapan, Kapten kapal pun mulai menggeser haluannya ke tempat baru. Hampir serupa seperti yang di lokasi pertama, tempat memancing kedua kami juga sama meriahnya. Ikan yang berhasil landed didominasi Tongkol dan sebagian besar dihasilkan oleh Pak Budi. Karena teknik ‘keberuntungannya’ itu kami serempat menyematkan julukan ‘Raja Tongkol’.

Raihan Ikan Terbesar
Walaupun cuaca dan ombak sangat tidak mendukung, namun saya sangat terkesan dengan semangat pemancing Indonesia yang tanpa jengah terus berusaha gigih untuk mendaratkan ikan. Awal pagi hari kedua kami tidak terlalu menggembirakan, hanya beberapa ikan Tongkol dan Mahi-mahi dalam sebutan lokal saja yang berhasil didaratkan. Dengan menggunakan teknik trolling, ukuran Mahi-mahi yang berhasil didaratkan oleh Pak Malik ini ukurannya cukup besar.

Kami beralih ke tempat berikutnya di sore hari dan berkat kesabaran para pemancing, kami berhasil mendaratkan beberapa ekor Kurisi Bali dengan menggunakan teknik jigging dan dasaran. The Ocea Stinger Butterfly Drift Slasher yang saya bawa tampaknya mampu menggugah selera Kurisi Bali. Tak terkecuali dengan Pak Malik dan Pak Stephen yang berhasil mendaratkan ikan dengan nama latin Nemipteridae itu. Berat ikan yang berhasil mencapai 5 kg.

Bersama Syafi`e perwakilan Shimano dari Malaysia, Lim EE Tat juga turut serta melakukan kegiatan mancing di Sea Mount Reef, Lampung.

Mr. Ee Tat dari Shimano juga tidak melewatkan kesempatan untuk berpartisipasi. Berkat kesabarannya bermain jigging, ia juga bisa mendaratkan Kerapu dan Ikan Ruby Snapper dengan menggunakan Jig Ocea Stinger Butterfly Drift Slasher. Ternyata jig 180 gram sangat cocok untuk digunakan pada kedalaman sekitar 90 meter dan berhasil menggugah selera para penghuni di dasar lautan.
Malam tiba, intensitas strike berkurang. Melihat cuaca yang masih tidak menentu dan kondisi saya dan para pemancing mulai menunjukan keletihan, kapten kapal memutuskan untuk tidak berpindah lokasi. Memberikan kami waktu isitirahat untuk memulihkan tenaga yang sudah terkuras sejak hari pertama keberangkatan dari Jakarta.

Sampai pukul 3 pagi keesokan harinya, ternyata kapal sudah berpindah ke lokasi baru. Kali ini kapten bertindak sangat tepat, karena ketika umpan diturunkan, kawanan Giant Trevally (GT) dan Tenggiri banyak didapatkan. Bahkan Pak Eko berhasil mendaratkan ikan terbesar sepanjang trip ini, yaitu ikan Tenggiri seberat 15 kg. Sedangkan Pak Malik dan Pak Iman berjaya mengangkat tangkapan GT seberat 8 kg. Beberapa spesis lain juga turut berhasil dinaikkan seperti Dogtooth Tuna dan Ruby Snapper. Terpancar senyuman indah dari wajah para pemancing yang berhasil mendulang tangkapan besar.

Tripple Hook Up Di Hari Terakhir

Sebelum mengakhiri trip, kapten Kapal kembali mengalihkan kemudi kapalnya untuk menuju spot baru. Di lokasi baru ini saya menurunkan jig memainkan teknik jigging di kedalaman 110 meter. Kali ini saya menggunakan metaljig Ocea Stinger Butterfly (King Slasher) seberat 240 gram yang dipadukan dengan Reel Twin Power dan Rod Speedmaster. Piranti ini bersifat areodinamik dan memudahkan saya mencapai dasar laut walaupun arus yang kuat dan dasar yang dalam.

Saat menurunkan jig untuk kali pertama saya telah mendapat sambaran di kedalaman sekitar 70 meter. Kali ini, sambaran datang dari Amberjack. Tak mau, sendirian saya mengajak rekan yang lain untuk mengeksplor spot yang sama. Tak butuh waktu lama tiga pemancing lain turut mendapat sambaran Sang Amberjack, tanda pesta telah dimulai.

Salah satu perserta dari ARP Community yang berhasilkan menaikkan ikan ke atas kapal

Di tengah keasyikan kami menuai tangkapan ikan, tepat pada pukul 10:30 di pagi hari terakhir, kapten kapal memberitahu kami bahwa sudah waktunya untuk kembali ke Dermaga Lampung. Trip ini memang memberikan saya pengalaman yang sangat manis dan berharga. Secara hakikatnya banyak yang saya telah pelajari dari pemancing-pemancing Indonesia sepanjang trip ini dilaksanakan. Sikap ramah dan mesra mereka membuatkan saya terpesona dan rasa begitu selesa sekali memancing bersama.

Seperti yang telah dijanjikan oleh pihak Shimano dan ARP, tiga peserta yang sukses menaikkan tangkapan terbesar akan mendapat hadiah berupa produk Shimano. Pak Eko mendapat juara pertama dengan tangkapan ikan Tenggiri seberat 15 kg. Tempat kedua jatuh kepada Pak Malik dengan tangkapan ikan GT seberat 8 kg, kemudian untuk tempat ketiga jatuh kepada Pak Iman dengan tangkapan ikan GT seberat 7 kg.

Saya melihat SMR Lampung mempunyai potensi yang besar untuk di jadikan spot memancing komersial di masa akan datang. Sekiranya spot ini dijaga dengan baik, tidak mustahil spot ini akan menjadi tumpuan para pemancing dari mancanegara. Akhir kata saya juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada pihak Shimano SEA dan Aneka Raya Pancing atas kesempatan trip ini. Semoga kegiatan seperti ini bisa diteruskan lagi pada masa-masa yang akan datang. – Syafi`e Abdul Shukor