Jejak Layaran Kepulauan Seribu

Para pemancing mulanya tidak percaya bisa mendapatkan layaran saat umpan kotrek yang dipasang pada joran mendapatkan perlawanan kuat dari dalam laut kala memancing di perairan Pulau Tikus, Kepulauan Seribu, Jakarta. Sebab, ikan layaran adalah spesies yang sulit ditemukan terlebih diwilayah utara laut Ibukota. 

Trip mancing yang diikuti Fery, Bakoh, Dwi, Gun, Slamet, Raden dan Uche ini mulanya akan kembali diadakan di perairan selatan Sukabumi. Namun cuaca buruk yang menyebabkan gelombang di perairan Indonesia khususnya ‘laut kidul’ bergejolak, membuat mereka memutuskan untuk pergi ke Kep. Seribu sebagai alternatif lain.

Dipilihnya Kep. Seribu sebagai destinasi tidak lain karena iming-iming keberadaan ikan Tenggiri yang sedang ramai diperbincangkan oleh nelayan dan kapten perahu di pesisir utara Jabodetabek. Pada trip pertama, Dermaga Muara Kamal menjadi titik awal keberangkatan menggunkan perahu ‘dongfeng’ menuju spot-spot berpotensi.

Untuk bisa mendapatkan Tenggiri, biasanya para pemancing menggunakan umpan hidup (livebait) sebagai senjata andalan. Umpan hidup biasanya ikan Selar harus dicari terlebih dahulu di sebuah koordinat yang sudah ditentukan menggunakan teknik ngotrek (handline). Umpan hidup dengan mudah didapatkan, keadaan yang jauh berbeda dengan laut selatan dimana ikan Selar sulit ditemui.

Perahu mulai bergerak menuju spot selanjutnya di wilayah dengan kedalaman air 60 meter. Empat perahu pemancing lain sudah tiba terlebih dahulu. Dimana salah satu dari perahu tersebut sudah panen Tenggiri. Kami segera merapat mendekati dengan harapan bisa ikut merasakan hal yang sama. Namun Dewi Fortuna belum berpihak pada kami karena hanya bisa melihat mereka tarik-menarik dengan Tenggiri.

Spot selanjutnya adalah Pulau Tikus arah timur dan perahu jangkar di air kedalaman 30 meter. Seluruh pemancing fokus pada teknik ngotrek menggunakan umpan kotrek bulu merpati. Umpan ini menggunakan senar 5 lbs dan lebih diminati ikan dibanding kotrek sutra yang biasa digunakan nelayan sekitar. Alhasil persediaan kotrek bulu merpati 15 pak ludes dalam waktu 2 jam.

Handline Berlanjut
Kami kembali menyambangi spot di sekitar Pulau Tikus sebulan kemudian usai trip pertama ketika menghabiskan 15 pack kotrek bulu merpati. Kali ini kami menyempatkan diri untuk menjajal spot Karang Dalem. Namun sejak pagi menyapa hingga matahari bergerak naik pada pukul 11, hasil belum juga terlihat. Sadar hasil di Karang Dalem kurang maksimal, kapten perahu yang kami tumpangi berinisiatif pindah haluan menuju Pulau Tikus. Pada kesempatan kali ini kami sengaja membawa perlengkapan kotrek lebih banyak dari sebelumnya. 35 pak kotrek bulu 5 lbs menjadi senjata kami untuk meladeni perlawanan ikan.

Jangkar diturunkan sesampainya tim di perairan Pulau Tikus. Sejurus kemudian perlengkapan disiapkan, tak lupa udang rebon disebar ke dalam laut dengan maksud agar mengundang ikan-ikan untuk keluar dari persembunyiannya.

Hasil lebih baik didapatkan berupa Ikan Tengkek berukuran 0.3-0.6 ons. Kondisi ini terus berlanjut hingga kami merasakan strike secara estafet. Menjelang sore, persediaan kotrek tersisa 10 pak, bahkan timah pun habis mengingat intensitas strike yang tinggi. Hingga kami harus rela mengorbankan metal jig untuk dijadikan sebagai pemberat.

Sensasi mancing menggunakan kotrek memang membuat pegiatnya ketagihan

Sensasi mancing menggunakan kotrek memang membuat pegiatnya ketagihan hingga episode mancing kali ini memasuki kali ketiga. Berkaca dari hasil trip sebelumnya, pada kesempatan ketiga ini kami yakin hasil akan lebih maksimal terutama untuk target Tengkek dan Kuwe. Tidak heran jika kotrek sebanyak 40 pack serta timah ukuran J5 menjadi bukti keseriusan kami agar hasil maksimal.

Untuk menjawab rasa penasaran itu, kami tidak keluar dari jalur atau koordinat sebelumnya. Perahu wajib parkir di area yang tepat agar mendapatkan hasil terbaik. Beberapa perahu mancing sudah berjejer memenuhi area spot. Rebon kembali ditebar, kegiatan ini di kalangan para pemancing dikenal dengan istilah ‘ngebom’.

Rentetan ikan Kembung berukuran dua kali lipat dari biasanya beberapa kali menyangkut pada kail kotrek. Tanpa harus repot-repot memasang umpan, kotrek memang memiliki keekonomisan tersendiri dengan hasil yang tak kalah bagus. Hingga kesempatan ketiga kami mengeksplorasi spot Pulau Tikus ini, kami selalu mendapatkan hasil terbaik.

Jejak Ikan Layaran

Sampai akhirnya trip berlangsung hingga empat kali dalam selang waktu beberapa bulan. Untuk yang terakhir ini kami menggunakan jasa Kapten Roby kembali seperti pada trip yang pertama. “Bagaimana kondisi Pulau Tikus saat ini, Kapten?” tanya Fery sebelum berangkat. “(Saat ini) di Pulau Tikus potensi ikannya sedang bagus. Ikan Talang-talang sedang kerap makan walau cuaca sedikit berangin,” jawab Kapten Roby.

Pukul 03:00 WIB kami langsung berlayar menuju spot menembus gelapnya malam tanpa ragu. Saat itu cuaca memang sedang kurang kondusif, dimana angin barat daya berhembus begitu kencang hingga menghasilkan gelombang air laut tinggi. Perahu pancing dengan mesin diesel yang orang-orang sebut ‘perahu dongfeng’ karena merk mesinnya tersebut perlahan membelah perairan.

Perjalanan dari Muara Kamal menuju Pulau Tikus menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Menjelang pagi cuaca sedikit membaik, namun kabar buruk rupanya terlihat ketika selusin perahu dari Kamal sudah berjejer di spot Perahu Karam. Dengan menyesal kami harus memarkir perahu di bagian paling ujung karena- rapatnya kondisi spot di sana. Panen Tengkek terjadi lagi. Kotrek bulu merpati ampuh untuk menarik perhatian ikan-ikan itu dan membuat pemancing di perahu lain hanya bisa menyaksikan dari jauh.

Matahari mulai terbit, kondisi dimana ikan Kembung keluar dari habitatnya untuk mencari makan. Konceran juga dipasang untuk target ikan lebih besar selanjutnya. Sedang asyik ngotrek Tengkek, joran tiba-tiba melengkung tajam, suara ril juga mendesing kencang. Entah apa yang menarik umpan, kami berusaha untuk terus menaklukkan perlawanan.

Keadaan semakin genting ketika senarsenar kotrek saling kusut hingga harus rela diputus. Tiba-tiba seekor ikan Layaran muncul dari dalam permukaan air dan terbang menuju udara. Tentu atraksi ini membuat seluruh orang yang ada saat itu tertegun. Dengan sigap Kapten Roby menginstruksikan ABK untuk memotong tali jangkar.

Tarik menarik dengan Layaran berlangsung sekitar 2.5 jam secara bergantian satu sama lain. Irama, kesabaran serta kerja keras dari tim saat itu menjadi faktor terpenting suksesnya menaklukkan ikan. Sebab Layaran adalah tipe petarung sejati pemilik kekuatan berenang mencapai 110 Km/jam. Maka tak heran, untuk bisa melepaskan kail yang tertancap, ia bahkan terbang menembus permukaan air. Wajah lelah dan bangga terpancar saat ikan sukses dinaikkan ke atas perahu.

Spesies Layaran yang ada di perairan Indonesia (Istiophorus platypterus) merupakan keluarga Layaran IndoPasifik. Habitat ikan ini biasa ditemui di permukaan laut (pelagis dan epipelagis) di atas lapisan termoklin. Maka tidak heran ikan Layaran juga ditemukan di daerah perairan yang dekat dengan pesisir dan pulau-pulau. – Ferry Yudhistira.