Ikan Palung Sungai Pusaka

“Dan bulan bagai perempuan tua. Letih dan tak diinfahkan. Menyebut langkahnya atas kota. Dan bila ia layangkan pendangannya ke ciliwung. Kali yang manis membalas menatapnya?” Begitulah penggalan sajak dari WS. Rendra yang menggambarkan betapa menawannya Ciliwung. Sebuah aliran sungai yang berhulu di pegunungan di Bogro dan jadi simbol penting peradaban ibukota.

Salah satu aliran Ciliwung di hulu yang berada di wilayah Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat memiliki kontur bebatuan dengan volume air membentuk jeram.

Mari sejenak hilangkan mindset negatif dari buruknya kondisi Ciliwung. Alirannya di ibukota adalah penyebab tercorengnya wajah menawan sang pusaka sejak zaman kolonial. Apalagi sebabnya, jika bukan masalah limbah dan sampah. Namun garis lurus coba ditarik menuju wilayah di gerbang selatan penyangga Jakarta.

Sementara itu, cuaca di aliran Ciliwung di kabupaten Bogor pada pertengahan tahun lama tak diguyur hujan. Debit air menipis, ceruk-ceruk dasar berupa batuan keras terlihat jelas dari tepian. Dari balik batu-batu besar pula kerap ditemukan sang hampala sedang bersarang. Tepat di sisi pepohonan rimbun yang menjorok ke Ciliwung.

Peralihan musim hujan menuju kemarau merupakan momentum terbaik untuk memburu hampala (Hampala macrolepidota). Sang predator ber-rahang kuat ini, kerap ditemukan di aliran sungai-sungai dengan kontur jeram yang dipenuhi lubuk. Salah satunya di sepanjang Ciliwung, di batas antara Bogor dan Jakarta.

Wilayah selepas hulu memasuki Bogor hingga Depok disinyalir masih menjadi habitat tetap hampala. Di telinga pemancing, khususnya castinger, nama hampala sudah tak asing lagi karena perlawanannya nan kuat kala menyambar umpan hingga menghadirkan sensasi mengejutkan. keberadaan hampala di Ciliwung kerap menjadi pertanyaan, seberapa besar potensinya saat ini? mengingat pencemaran sudah tak mampu lagi dibendung.

Penyebaran spesies ikan memang berkaitan erat dengan faktor lingkungan. Setiap spesies ikan air tawar mempunyai daya adaptasi dan toleransi yang berbeda. Ikan air tawar, berdasarkan pada adaptasi dan toleransinya terbagi dalam beberapa spesies yaitu blackfishes, whitefishes dan moderat. Spesies Blackfishes merupakan ikan yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi di seluruh habitat air tawar karena memiliki labyrinth. hal ini yang membuat hampala menjadi salah satu ikan yang kuat terhadap perbuahan unsur air di sungai.

Kualitas air merupakan salah satu faktor penentu dan penting untuk keberhasilan reproduksi spesies di perairan. Menurunnya kualitas air akan mempengaruhi reproduksi. terganggunya reproduksi akan mengancam kelestarian organisme sebagai akibat dari penurunan populasi, begitu pun dengan hampala di Ciliwung.

Foto bersama ikan Hampala hasil tangkapan.

Kali ini, kami berkesempatan untuk mendatangi sebuah spot di aliran Ciliwung wilayah Cibinong dekat pusat pemerintahan daerah Bogor, Jawa Barat. Salah satu kesulitan untuk mencari titik potensial habitat hampala yaitu faktor akses nan sulit. Diperlukan kewaspadaan tinggi, mengingat bahaya bisa kapan saja mengancam. Salah langkah, sudah pasti terpeleset.

Kami melakukan kegiatan mancing saat itu ketika hari belum terpancar sang surya. Keadaan masih gelap, lampu-lampu jalan yang kami lalui dari perumahan warga juga perlahan memudar. Debit sungai waktu itu tidaklah besar, permukaan air cukup tenang namun mengalir dengan pasti.

Dari bebatuan di tepi sungai, casting pun dilakukan. Melawan arus, saya terus melempar umpan menuju titik di balik batu tepian sungai walau lemparan kadang tidak tepat karena kegelapan belum juga berlalu. Umpan pencil bait ditarik sesuai iramanya. sedang, namun diselingi dengan hentakan dari joran.

Upaya ini dilakukan guna menciptakan karakter pergerakan menyerupai gerak-gerik anjing (walk the dog). Sehingga dari gerakan umpan tadi akan menarik perhatian sang hampala dari sudut-sudut persembunyiannya. Perpaduan leader 10 lbs dengan Pe Relix jabrik 0.8 pun keluar dari gulungan ril dengan cepatnya menyesuaikan rasio putaran ril baitcasting. Sambaran belum juga datang, padahal dari kejauhan terlihat ada sebuah pergerakan sang predator sungai liar dari rimbun tepian. Cast terus dilakukan secepat mungkin agar tidak kehilangan momentum. sepertinya pergerakan ikan terdeteksi nampak mendekati lure yang dilempar kesekian kalinya.

Peranti mancing joran dengan kekuatan 6-14 lbs, 6’8″ butt Joint yang sukses menaikkan hampala di sampingnya.

“Duaarr,” suara kegaduhan terjadi dari dalam air. Lure yang sejak tadi diintai sepertinya sukses disambar ikan. Tenaga yang keluar dari rahang hampala menarik umpan begitu kuatnya, meronta melepaskan diri dari tajamnya mata kail. Suasana sungai yang senyap tiba-tiba terpecahkan hingga memacu adrenalin.

Saya terpaksa menahan diri begitu kuat sambil menggulung benang. Kodisi tidak seperti biasanya pun terjadi karena ikan sulit sekali untuk dibawa ke tepi sungai. Saya mengira bahwa ikan memiliki bobot besar karena perlawanannya cukup gigih. Seperangkat peranti baitcasting rasanya ingin menyerah, joran melengkung hampir patah.

Monster itu mendekat. Tercengang kami melihat hampala besar sekali di depan mata yang panjangnya melewati siku. walau sudah hampir dikuasai, namun ikan tak kunjung mengurangi perlawanan. Pada kondisi seperti ini diperlukan kewaspadaan agar ikan tidak lepas, agar joran tidak patah karena salah penanganan. Raja palung kemudian diamankan dengan baik.
Warna kuning keemasan adalah hal menawan yang terpancar dari tubuh hampala. Pada habitat yang masih asri, corak sisik pada hampala terlihat lebih cerah. Demi keseimbangan ekosistem sebaiknya hampala kembali dilepas- liarkan. Berenang ikan itu menuju habitat aslinya. Agar hampala tetap menyimpan cerita, agar Ciliwung tetap hadirkan pesona. Lalu bagaimana dengan potensi di Ciliwung jika begini? – Steven Artemis, RPS