Geledah Spot Rambe Pulau Tunda

Suasana khas kerajaan Banten Lama menyambut kami ketika menyusuri jalan perkampungan mendekati Dermaga Karangantu. Tidak hanya simbol- simbol islam masa lampau, ornamen- ornamen mencolok bengunan tua kokoh bergaya khas Belanda terpugar di Sekitar Tasikardi, Gerbang menuju pesisir teluk Banten.

Bersama rekan-rekan dari Jurnalis Joran Indonesia (Jojoners), komunitas pekerja media cetak, online dan audio visual penggemar mancing, trip mancing ke Pulau Tunda kembali terlaksana. Spot-spot di perairan ini sudah jadi langganan mereka tiap kali melakukan trip.

Dermaga Karangantu merupakan titik keberangkatan awal sebelum melakukan eksplorasi mancing di perairan sekitar Pulau Tunda. Muara di utara Serang ini, jadi akses primadona para pemancing untuk menyewa kapal. Area parkir kendaraan yang luas, kebersihan terjaga, fasilitas modern hingga tersedianya kapal merupakan nilai lebih dari Karangantu.

Setiap sudut perairan Pulau Tunda jadi lokasi terbaik, dengan target pancing aneka spesies ikan-ikan
karang. Mulai dari keluarga Kakap, hingga beberapa jenis Trevally. Spesies-spesies tersebut tersebar mulai dari perairan Teluk Banten dan berkoloni ke beberapa titik di Tunda dan sekitarnya. Dimana perairan tersebut memiliki kedalaman relatif rendah antara 3065 meter dari permukaan.

Jelajah spot-spot di sekitar Pulau Tunda biasa dimulai ketika hari masih gelap dari Karangantu. Tentu itinerary ini biasa diterapkan pemancing secara umum di berbagai lokasi dermaga utara Jawa agar bisa memulai kegiatan mancing lebih pagi, pada saat ikan sedang ‘galak-galaknya’. Untuk bisa tiba di spot, kapal memerlukan waktu berlayar selama lebih kurang 3 jam.

Menikmati pagi dari atas kapal di tengah lautan adalah kegiatan menyenangkan. Sesekali, saya melihat dari dekat beberapa kapal dengan jenis dan ukuran yang sama juga melakukan kegiatan serupa. Akhir pekan menjadi saat tersibuk bagi kapten dan ABK untuk memberikan jasa layanan kepada pemancing dari berbagai wilayah di Banten, Jakarta dan sekitarnya.

Bottom Fishing
Berbagai teknik mancing bisa diterapkan ketika mancing di perairan Tunda, mulai dari jigging hingga dasaran (bottom fishing). Namun teknik terakhir lebih sering digunakan karena dari segi efektifitas, dasaran yang memakai cumi dan udang sebagai umpan lebih berpeluang diminati ikan.

Orang-orang juga kerap menyebutnya teknik jebluk, nama itu disematkan dari bunyi pemberat (timah) ketika umpan diturunkan ke air. Teknik dasaran mengharuskan pemancing untuk rajin mengecek kondisi umpan apakah masih layak pakai, hancur atau bahkan hilang dan wajib menggantinya dengan umpan baru yang lebih segar.

Saya coba ambil bagian untuk menurunkan umpan dasaran setibanya kapal di spot pertama. Pagi itu arus bawah cukup untuk menghanyutkan timah pemberat ukuran J12 (350 gram). Derasnya arus membuat umpan beberapa kali terlepas karena hanyut. Belum strike, joran sudah lebih dahulu melengkung menahan arus.

Salah satu peserta trip yang berhasil mengangkat ikan Kuwe Rambe ke atas kapal dengan meggunakan teknik dasaran ( Bottom Fishing).

Seperti yang sudah disebutkan di atas, ikan-ikan karang dasar laut jadi target utama. Jenis Kakap sudah pasti, namun satu yang jadi khas, Kuwe Rambe. Ikan dengan nama latin Alectis Indica ini merupakan salah satu keluarga trevally yang memiliki bentuk tubuh unik. Lebih pipih dari trevally lainnya, dimana ciri paling khas bisa terlihat dari bentuk kepala cekung nan lebar.

Bentuk tubuh tersebut memudahkan Rambe dalam mengejar mangsanya karena mampu bergerak lebih dinamis. Kekuatannya itu juga kerap merepotkan pemancing, dalam upayanya melepaskan diri dari jeratan kail. Itu adalah sesuatu yang saya rasakan beberapa menit usai umpan yang saya turunkan tadi disambar.

Arus Mati
Spesies ini tersebar luas di perairan Samudra Pasifik Indo-Pasifik tropis, mulai dari Afrika timur sampai India, Asia, Indonesia dan Australia. Ikan dewasa cenderung mendiami perairan pesisir di atas terumbu hingga kedalaman 100 m, sementara remaja menghuni berbagai lingkungan termasuk muara dan padang lamun.

Ikan hasil tangkapan dari salah satu Kapal Tim Lain.

Kapten kapal di ruang kemudi berbincang dengan saya mengenai situasi terakhir di perairan Tunda. Ia menyebutkan belakangan ini Kuwe Rambe memang sedang mudah untuk didapatkan. Faktor pendukungnya adalah masa ‘baratan’ yang sudah lewat, sehingga waktu di pertengahan tahun seperti saat ini adalah saat terbaik.

Laporan juga datang dari beberapa kapal di Karangantu yang mengantar pemancing seminggu sebelumnya. “Biasanya ikan mau makan ketika menjelang pagi sampai matahari sebentar lagi tinggi,” jelas salah seorang anak buah kapal (ABK) dalam obrolan kami di buritan kapal.

Menjelang siang, arus bawah tiba-tiba mengendur ditandai dengan tidak bergeraknya timah pemberat di dasar sana. Situasi ini jelas merugikan kami karena matinya arus akan mempengaruhi selera ikan dalam menyantap umpan. Intensitas strike otomatis berkurang dari sebelumnya saat fajar terbit. Saya mencatat mulai pukul 12.00 perolehan sudah mulai berkurang, sampai sore menjelang.

Kapal terus berpindah-pindah menuju spot andalan kapten dengan kontur dasar laut dan kedalaman yang bervariasi. Dari layar fish finder terlihat kondisi dalam laut yang kami lalui, ikan-ikan dari berbagai kedalaman berlalu-lalang di sekitar kami. Namun kondisi arus membuat semuanya jadi tidak maksimal. Sementara teknik slow jigging masih diterapkan oleh beberapa rekan- rekan di samping kapal. Metal jig berukuran di bawah 40 gram jadi senjata yang diikatkan pada joran berkekuatan medium. Gerak radikal lure beberapa kali disambar, tapi tak kunjung bisa dinaikkan karena rupanya kail tidak hook-up secara sempurna.

Menjelang sore, seluruh kapal satu persatu kembali menepi ke Karangantu. Kebetulan kami jadi peserta yang kapalnya terakhir menepi karena sempat ‘mengarat’ akibat rasa penasaran karena ikan yang tak kunjung terangkat. Beberapa rekan-rekan di kapal lain sudah di darat sedang melakukan bongkar muat ikan hasil pancing untuk dikumpulkan menjadi satu.

Ketika menginjakkan kaki di daratan, timbul harapan agar suatu waktu nanti, kembali saya bisa berkunjung ke spot di sana. Ikan pun seluruhnya dijajarkan di tepi dermaga hingga mengundang rasa penasaran warga sekitar yang sedang menanti buka puasa. Akhirnya gaung Maghrib-pun berkumandang. —Rico Prasetio.