Escolar Taka Masalekkoe

Ikan setan sebutan yang sudah lekat dibenak para pemancing ketika mendengar kata “Escolar”. Bentuk mata menyala serta sisik berwarna gelap tajam menjadi identitas fisik ikan yang aktif pada malam hari tersebut. Sebuhan nialaiprestisius yang menjadi kebanggan pemancing apabila berhasil menaklukan spesies laut dalam ini karena escolar terkenal agresif dalam memberikan perlawanan dengan mengandalkan tenaga dan giginya yang tajam.

Escolar menyebar di laut pada kedalaman lebih dari 100 meter. Ikan dengan nama lain Lepidocybium Flavobrunneum ini tidak mudah didapatkan. Di Indonesia, berbagai lokasi laut dalam bisa dijadikan spot untuk memancing ikan ini, salah satunya di Taka Masalekko, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

Dogtooth hari pertama
Pagi hari yang cerah pada 21 November menjadi awal perjalanan tim Boeltap Fishing Club menuju spot laut dalam di Kolaka Utara. Tim berjumlah 8 orang pemancing yang terdiri dari robby Ibrahim (Bang achank), Kurie, Benny Malonda, H. Hadist Hanafie, Achonk, A Wahyudi, opu Uchu, Itto, serta Mikdam. Spot mancing yang berada jauh dari kota membawa mereka merasakan petualangan menakjubkan. Tim harus melewati dua dermaga, Siwa dan Tanjung Tobaku sebelum tiba di tempat penyewaan kapal di dermaga rante angin. Perjalanan dari Makassar menuju rante angin memakan waktu hingga matahari terbenam. Menggunakan kapal motor rante angin yang namanya diambil dari nama dermaga, tim langsung menuju spot Taka Masalekkoe. Segala perbekalan terutama peralatan pancing mulai disiapkan selama perjalanan ke tengah laut. Jarak yang hanya berkisar satu jam dari darat mengharuskan tim untuk bergerak cepat karena hari sudah gelap. Saatnya perburuan dimulai.
Light jigging, menjadi teknik mancing yang digunakan oleh tim Boeltap dengan target ikan-ikan ukuran jumbo seperti Escolar maupun Tuna. Hadist Hanafie memulai aksi dengan menurunkan umpan metal jig ke birunya lautan. Beberapa kali usahanya memompa joran belum juga membuahkan hasil hingga pemancing asal Jakarta itu berteriak “Andiknu!” (adikmu, istilah yang dikatakan tim ketika berhasil strike-red). Dengan penuh tenaga hadist terus berjibaku dengan predator dalam air tersebut. Ternyata seekor Tuna gigi anjing dengan bobot lebih dari 10 kg berhasil dinaikkan ke atas kapal. Pembukaan yang bagus!
ada beberapa faktor alam yang mempengaruhi hasil ketika memancing di laut, yaitu kecepatan angin, tinggi gelombang permukaan, suhu air dan juga kondisi arus bawah laut. Jika semua faktor tersebut baik, maka bukan tidak mungkin pemancing akan dengan mudah mendapatkan hasil yang maksimal. Beruntung pada trip kali ini tim bisa merasakan kondisi laut yang kondusif.
Kali ini giliran Kurie unjuk kebolehan. Pemancing yang merupakan ketua dari Boeltap Fishing Club Kolaka Utara ini mulai memainkan perlatan light jigging berharap ada tarikan dari dalam air. Diperlukan kesabaran dan keahlian pada saat menarik metal jig agar benar-benar menyerupai pergerakan ikan dan menarik perhatian predator. Setelah beberapa kali menarik metal jig, strike yang dinantikan Kurie akhirnya terjadi juga. Perlawanan sengit dari dasar laut rupanya membuat Kurie harus hati-hati melayani perlawanan ikan. Setelah hampir mendekati permukaan rupanya ikan yang didapatkan Kurie menyerupai perolehan hadist.
Benar saja, Dogtooth kedua dengan bobot hampir serupa sekitar 10 kg berhasil naik ke atas kapal.
Terbenamnya matahari di ufuk Barat menutup lembar hari pertama di Taka Masalekkoe. Tim kemudian memilih untuk beristirahat, mengumpulkan tenaga sambil menyantap hidangan yang disediakan ABK kapal. Makan malam di atas kapal sambil menikmati karya indah sang penguasa jagat raya adalah pengalaman luar biasa dalam hidup. obrolan-obrolan kecil dari para pemancing menghapus kesunyian malam di tengah lautan Sulawesi.
Jika waktu adalah uang, maka bagi pemancing waktu adalah ikan. Setiap usaha yang dilakukan diyakini akan mendatangkan strike jika mau terus mencoba. Usai mengisi perut dengan makan malam dan istirahat sejenak, perburuan kembali dilakukan. Penggunaan piranti light jigging masih menjadi pilihan tim dalam upaya mencari ikan-ikan besar. robby menjadi pemancing yang memulai untuk mencoba teknik ini pada perburuan di malam hari.

Andiknu!
Jauh-jauh dari Makassar, pemancing yang akrab disapa Bang achank ini sangat antusias. Tak perlu lama-lama akhirnya terdengar bunyi deritan ril milik achank. Strike!!! Perputaran handle ril coba ia samakan dengan irama tarik-ulur joran. Jika dilihat dari kesulitan yang dihadapi sepertinya achank mendapatkan ikan berbobot besar. Perlawanan berakhir ketika target sudah terlihat di permukaan dan diangkat ke atas kapal. “Andiknu,” achank berteriak lagi. Ternyata seekor Dogtooth 12 kg lebih menjadi perolehannya di malam hari.

escolar-taka-masalekkoe9
Tuna gigi anjing dengan bobot lebih dari 9 kg berhasil dinaikkan ke atas kapal.

Melihat rekannya strike, Benny Malonda dan andi Wahyudi kemudian menurunkan umpan metal jig berharap bisa merasakan hal yang sama. Kedua pemancing ini secara kompak memainkan ayunan joran dan ril hingga metal jig kembali lagi ke atas permukaan. Tiba-tiba Benny merasakan strike. Belum sampai andi mengangkat ikan ke permukaan, andi menyusul. Joran dari kedua pemancing tersebut samasama melengkung tajam, double strike terjadi. Lagi-lagi Benny menambah daftar perolehan Dogtooth pada trip kali ini dengan mendapatkan ikan tersebut yang beratnya 9 kg.

 

escolar-taka-masalekkoe3
Escolar yang berhasil ditangkap oleh tim.

Waktunya Escolar
Bosan menggunakan light jigging, tim memutuskan memainkan jigging dengan Mikdam yang mempelopori penggunaan teknik ini. Pada aplikasi teknik jigging, tim menggunakan metal jig ukuran 300350 gram serta memasangkan umpan irisan Tongkol pada kailnya. Ikan besar penghuni bawah laut masih menjadi target utama sejak awal. Kedalaman laut yang diperkirakan mancapai 200 m menjadi alasan derasnya umpan menghujam ketika diturunkan ke dalam air. Kesabaran ekstra memang menjadi hal utama ketika menerapkan teknik ini.
Sambil memainkan metal jig, rupanya ada sesuatu tersangkut pada kail milik Mikdam. Strike! Kali ini ia berusaha menaklukkan perlawanan dari dasar laut dengan sekuat tenaga. Entah ikan macam apa sehingga membuat Mikdam mendapatkan perlawanan dahsyat sekali dan tubuhnya nampak kewalahan. Dan akhirnya samar-samar terlihat dari permukaan seekor ikan Escolar memakan umpan Mikdam. Dengan bantuan rekan- rekannya ikan pun berhasil dinaikkan ke atas kapal. Ini benar-benar hasil yang membanggakan, Escolar dengan bobot sekitar 35 kg terkenal sulit untuk bisa ditaklukkan. gembira luar biasa dirasakannya. Waktunya Escolar naik!
Itto dan hadist sepertinya tergoda melihat Mikdam yang berhasil menaikkan monster Escolar dan menjadi tambah bersemangat untuk mancing. Keduanya juga menerapkan teknik jigging. Bermaksud ingin mendapatkan Escolar rupanya target meleset. Upaya jigging yang diterapkan malah menghasilkan seekor Dogtooth kembali dengan bobot 9 kg lebih.
Kemudian Benny Malounda menyusul. Kepercayaan diri serta kerja keras pemancing satu ini patut diacungi jempol. Sedang asyik memainkan jig tiba-tiba jorannya melengkung. Tarikan kuat ikan dari bawah laut membuatnya kewalahan sambil menahan rasa girang karena berhasil strike. rasa gembiranya bertambah ketika terlihat bayangan seekor Escolar di permukaan air laut. Dengan sigap aBK langsung mengangkat ikan ke atas kapal dan menjadikan ikan setan ini sebagai perolehan kedua oleh Benny.
Menjelang dini hari di spot yang sama, strike masih berlanjut. Teknik light jigging oleh achank kembali membuahkan seekor Dogtooth. Sementara Kurie yang juga menggunakan light jigging memperoleh spesies Kuwe Mata Belo pertama pada trip kali ini. Parade predator di dasar laut membuat berbagai macam sambaran-sambaran ikan terperangkap dikail. Bersama dengan achank, hadist berhasil menaikkan ikan Mata Bonsang dua ekor sekaligus masing-masing 9 kg. Double strike!!!

Tim berpose dengan ikan tangkapan
Tim berpose dengan ikan tangkapan

Rupanya Mata Boncang menjadi target yang paling banyak naik ke atas kapal kala itu. hal itu terbukti dari kejadian triple strike yang dirasakan oleh achonk, Itto serta Uchu, ketiganya secara bersamaan melakukan tarik menarik dengan ikan. ya, tiga ekor Mata Bonsang berhasil dinaikkan. Tak lama berselang Kurie menunjukkan aksinya. Mata Bonsang hasil pancingnya dengan berat hampir 10 kg menambah daftar panjang perolehan ikan.
Tidak habis sampai di situ, upaya menjinakkan perlawanan ikan masih berlanjut. achank rupanya kembali strike setelah merasakan tarikan dari dasar laut. Dilihat dari perlawanannya sepertinya ia akan mendapatkan ikan monster. Benar saja seekor Kerapu dengan bobot 40 kg sukses dinaikkan ke atas kapal. achonk tak kuasa meluapkan kegembiraan dahsyatnya strike monster Kerapu ini.
Sebagai penutup Kurie kembali unjuk kebolehan. Menggunakan teknik jigging ia juga menargetkan Escolar. Setelah beberapa kali memompa jig, ia pun strike. Tarik menarik terus terjadi membuat ia cukup kerepotan melayani perlawanan ikan. rezeki memang tidak kemana, Kurie berhasil mendapatkan Escolar jumbo. Ketika ditimbang didapatkan hasil rupanya ikan tersebut berbobot sekitar 35 kg. Total ada 4 ikan monster yang berhasil didapatkan oleh tim. Lagi-lagi sungguh luar biasa.
rasa lelah yang menghinggap di badan setimpal dengan derasnya adrenalin kala menikmati sensasi tarikan predator laut dalam. Binar mata bahagia para pemancing disambut senyum pagi di kala fajar menyingsing. Dengan semakin benderangnya cahaya matahari, trip diakhiri dan dinyatakan, sukses. – Robyy Ibrahim, RPS